BERIKAN SERTIFIKAT HUNIAN, PT BA DINILAI BOHONGI WARGA

- Jurnalis

Sabtu, 2 Februari 2019 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi Desa Sebelum dan Sesudah

Kondisi Desa Sebelum dan Sesudah

WIDEAZONE.COM, MUARAENIM — Relokasi pemukiman penduduk Desa Atas Dapur dan Bukit Munggu Tanjungenim, Muaraenim, menurut penduduk setempat diwarnai kebohongan pihak PT Bukit Asam (Tbk).

Menurut Ketua Rukun Tetangga (RT) 01 Desa Atas Dapur, Karyadi (55), janji pihak PT Bukit Asam melengkapi sertifikat kepemilikan tanah rumah adalah bohong besar.

“Itu bohong besar. Hingga saat ini kami belum menerima sertifikat yang dikatakan pihak PT Bukit Asam,” ujar Karyadi kepada wideazone.com, Jumat (31/1/2019).

Menurut Karyadi, tanah, bangunan tempat kami tinggal keadaannya sangat memprihatinkan. Jalan yang mengarah ke rumah penduduk, keadaannya seperti kubangan kerbau. “Janjinya mau di aspal. Tapi hingga saat ini keadaannya sangat meresahkan masyarakat,” tegas Karyadi.

Ketua Rukun Tetangga Karyadi
Ketua Rukun Tetangga Karyadi

Karyadi yang didampingi sejumlah warga korban relokasi itu menjelaskan, saat sebelum direlokasi warga mendapat intimidasi, terutama yang berkaitan dengan hukum. Saat itu warga sangat takut dan merasa tertekan. Karena tidak pihak yang memberikan solusi terbaik, maka warga hanya bersedia direlokasi meski dengan intimidasi dan keterpaksaan, mereka harus hengkang dari lokasi Desa Atas Dapur yang sudah dihuni mereka secara turun-temurun.

“Terus terang Pak, saat itu kami sangat bingung. Lahan kebun (tanam tumbuh) tidak ada penggantian dari pihak PT Bukit Asam, dan kalaupun diganti nilainya sangat tidak manusiawi. Rumah kami hanya diganti dengan bangunan tempat relokasi sekarang,” ujar Yanto, seorang warga yang mendampingi Karyadi.

Baca Juga:  Konkerprov PGRI Sumsel I/2026 Soroti Dinamika Organisasi hingga Perlindungan Guru ‎

Saat penekanan terhadap warga, PT Bukit Asam membentuk Tim 10. Saat itu warga dipaksa untuk pindah secepatnya. Bagi warga yang hanya tamatan SD, takutnya bukan main, ketika itu.

“Tapi setelah kami tanyakan, pihak perusahaan tidak membentuk tim itu. Lho, jadi siapa Tim 10 ini, hingga saat ini kami belum tahu siapa mereka itu. Tampang mereka galak dan dingin,” kata Karyadi dibenarkan warga korban relokasi yang menyertainya.

Saat masalah itu dikonfirmasi ke PT Bukit Asam, Manager Humas perusahaan, Efensi tak bersedia menemui wartawan. Semua masalah diselesaikannya ke staf humas Muhammad Saman.

Menurut Saman, pernyataan warga itu tidak benar. Perusahaan melakukan sesuai dengan tuntutan warga.

“Mereka itu telah kami berikan bangunan rumah tempat tinggal beserta sertifikat kepemilikan. Sedangkan keadaan hunian dibangun secara standar. Jalan-jalan disekitar itu sudah kami aspal,” ujar Muhammad Saman kepada wartawan di ruang tamu, Kamis (31/1/2019).

Baca Juga:  Salat Iduladha di Griya Agung, Herman Deru Paparkan Capaian Pembangunan dan Ajak Jaga Kerukunan

Terkait soal, Manager Humas PT Bukit Asam, Efensi tampaknya tidak memenuhi fungsinya sebagai petugas yang seharusnya mampu menjalin hubungan selaras dengan wartawan. Dua kali dihubungi melalui telepon seluler,dengan nada tinggi, Efensi hanya mengatakan hubungi saja Muhammad Saman.

Sementara itu, ketika WideaZone.com melakukan investigasi ke Bukit Minggu, keadaan warga begitu memprihatinkan. Sebab mereka hidup dalam tekanan dan intimidasi yang menakutkan warga.

Ketika wartawan Wideazone.com ingin melakukan wawancara, mereka secara terburu-buru menutup pintu rumahnya.

“Tanya saja ke pihak PT Bukit Asam,” kata mereka sembari menutup pintu rumah mereka..

Dari kondisi Desa Bukit Munggu saat ini dalam keadaan memperihatinkan. Atas pengerukan dan perusakan tanah akibat pertambangan batu bara, jalan aspal yang dibangun PT Telkom, hancur dan retak-retak parah.

Lokasi pertambangan yang seharusnya dilakukan 500 meter dari lokasi rumah penduduk, ternyata tak lebih dari 50 meter. Apabila aktivitas penambangan tersebut dilakukan di lokasi itu, maka keadaan Desa Bukit Munggu akan ambruk.

Seperti halnya Desa Atas Dapur, kehidupan hunian di Desa Bukit Munggu bakal musnah. (abror vandoer/anto narasoma)

Berita Terkait

Hari Bhayangkara ke-80, Polda Sumsel Tegaskan Siap Kawal Program Strategis Nasional dan Stabilitas Keamanan ‎
Konkerprov PGRI Sumsel I/2026 Soroti Dinamika Organisasi hingga Perlindungan Guru ‎
Pengurus PGRI 17 Kabupaten/Kota di Sumsel Satu Komando: Tolak Mandat bukan Panitia Pengantin–Versi Ketua Mandat Bilang Kedepankan Dialog
Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang
Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi
Pegang SK Resmi! PGRI Sumsel Tancap Gas, Riza Pahlevi: Organisasi Guru Harus Kembali ke Tangan Guru
Gubernur Herman Deru Sebut Sumsel Zero Konflik, Kader NU Diminta Perkuat Moderasi dan Kerukunan
Polda Sumsel Gebrak “Sumsel Bhayangkara Run 2026” Total Hadiah Capai Rp367 Juta hingga Ratusan Doorprize

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:41 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Polda Sumsel Tegaskan Siap Kawal Program Strategis Nasional dan Stabilitas Keamanan ‎

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:23 WIB

Konkerprov PGRI Sumsel I/2026 Soroti Dinamika Organisasi hingga Perlindungan Guru ‎

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:01 WIB

Pengurus PGRI 17 Kabupaten/Kota di Sumsel Satu Komando: Tolak Mandat bukan Panitia Pengantin–Versi Ketua Mandat Bilang Kedepankan Dialog

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:11 WIB

Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:35 WIB

Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi

Berita Terbaru