TENGGELAM ke dalam program permainan telepon seluler (HP android) terkadang membuat orang lupa waktu, tak menyadari perkembangan di sekitarnya serta senyum dan tertawa sendiri.
Pertanyaannya, keyertarikan apa yang membuat seseorang betah untuk bersosialisasi dengan program smartphone?
Saat ini, banyak orangtua yang sengaja memberi kesempatan ke pada anaknya untuk tenggelam dalam sejumlah permainan menarik yang ada pada program HP tersebut.
“Saya sengaja berikan HP itu agar saya bisa menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga. Anda boleh lihat bagaimana ia betah berlama-lama menikmati program permainan anak-anak di HP itu,” ujar Felicia, seorang ibu muda ketika disambangi Wideazone.com dan ZoomPost, Senin (16/12/2019).
Menurut dia, dalam HP itu banyak permainan anak-anak yang menarik perhatian anaknya ketika diberi kesempatan untuk menikmati berbagai permainan kesukaannya.
Menurut staf ahli Kepresidenan bidang hukum dan kemasyarakatan, Nur Kholis SH MA, membiarkan anak-anak tenggelam ke dalam keasyikan bermain HP android, tidak baik.
“Pertama, orangtua telah menjauhkan diri anak kita dari pergaulan sosial. Kedua, anak-anak menjadi tidak peduli dengan perkembangan masyarakat di sekitarnya,” ujar Nur Kholis.
Fakta itu dapat dilihat dari keseharian hidup anak-anak yang selalu “dibiarkan” orangtuanya bermain HP android. Ketiga, kata Nur Kholis, anak-anak merasa menjadi sebagai pahlawan kebenaran dan merasa hebat. “Ketika dia bersosialisasi dengan anak lain, anak tersebut merasa menjadi jagoan dan kerap membuat temannya menangis. Ini satu masalah dari pengaruh buruknya,” tukas Nur Kholis.
Menurut praktisi hukum dan kemasyarakatan itu, orangtua boleh memberi kesempatan ke pada anaknya untuk mengenal HP android. Karena manusia itu sangat membutuhkan pengetahuan luas untuk mengetahui perkembangan masyarakat dunia.
Meski demikian, harus diatur dengan jadwal belajar anak agar mereka tidak begitu tenggelam di setiap program permainan di dalam ponsel tersebut.
Aritnya, kapan anak-anak boleh menikmati permainan ponsel, dan kapan harus menyelesaikan tugas belajarnya serta memberi ruang untuk bersosialisasi dengam teman-temannya.
Meski HP android itu bisa mencerdaskan namun sisi buruknya bisa mempengaruhi psikologis anak-anak. “Saya pernah melihat anak yang terpengaruh akibat bermain HP android terlalu dalam. Akibatnya, matanya begitu lincah bergerak tanpa peduli dengan lingkungannya. Ia juga tersenyum sendiri mirip orang tak waras. Kondisi ini perlu menjadi pertimbangan kita sebagai orangtua,” kata Nur Kholis.
Menanggapi pernyataan Nur Kholis, Dr dr Zulkhair Ali Sp PD KGH dari Rumah Sakit Muhammad Husin (RSMH) Palembang, mengatakan terlalu lama menghadapi smartphone bisa merusak syaraf mata.
“Penglihatan kita akan terganggu. Karena terjadi gangguan syaraf otak, maka mata seseorang bisa berputar sendiri tanpa terkontrol,” kata Zalkhair Ali saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (16/12/2019).
Dalam keadaan seperti ini, katanya, keadaan korban akan sangat berbahaya. Bahkan, akibat terlalu lama hingga berjam-jam berada dalam program smartphone, terjadi perubahan bentuk tulang.
“Selain itu, smartphone akan membuat orang kecanduan, kepala sakit serta akan mengganggu kualitas tisur kita. Yang paling berbahaya terjadi gangguan syaraf otak. Pada fase ini korban sudah berada dalam keadaan lampu merah,” katanya.
Karena itu Zulkhair Ali meminta ke orangtua agar mengatur jadwal anaknya sehingga bisa diatur dalam mengoperasikan smartphone mereka. (*)
Laporan Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma



















