Ketika Makan Bergizi Tak Lagi Sehat

- Jurnalis

Kamis, 16 Oktober 2025 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi: Ketika Makan Bergizi Tak Lagi Sehat [Desi OY-WI]

Gambar Ilustrasi: Ketika Makan Bergizi Tak Lagi Sehat [Desi OY-WI]

Opini by Desi OY
[Jurnalis WIDEAZONE.com]

 

PROGRAM Makan Bergizi Gratis [MBG] sejatinya merupakan terobosan strategis Presiden Republik Indonesia untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat asupan gizi yang layak.

Diatas kertas, program ini tidak hanya bicara soal makanan tapi juga tentang masa depan generasi bangsa.

Dalam praktiknya, MBG bahkan digadang-gadang mampu menggerakan roda ekonomi lokal dari petani, peternak hingga pelaku UMKM di sektor pangan.

Namun, apa jadinya jika program yang sejatinya mulia ini dikelola oleh pihak-pihak yang lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kualitas dan keamanan anak-anak sekolah?

Ketika Gizi Tergantikan oleh Dagang

Serangkaian kasus keracunan siswa sekolah di berbagai daerah menjadi alarm keras bahwa ada yang tidak beres di balik dapur MBG.

Salah satunya terjadi di kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan dimana sejumlah menu yang disajikan jauh dari standar gizi seimbang yang ditetapkan Badan Gizi Nasional [BGN].

Temuan dilapangan menunjukkan, menu yang diberikan kerap tidak layak konsumsi seperti sayur yang sudah basi, tempe yang sudah tidak layak konsumsi, ayam dengan tekstur keras hingga ikan yang masih terasa amis.

Bahkan, beberapa dapur mitra MBG justru menyajikan makanan mie instan seperti mie kemasan dan burger cepat saji. Dua jenis makanan yang sejatinya tidak masuk kategori bergizi untuk anak usia sekolah.

Kritik keras datang dari dr Tan Shot Yen, seorang dokter ahli gizi dan pemerhati pangan anak. Dalam salah satu pernyataannya, ia menilai bahwa penggunaan bahwa pangan instan dalam program MBG adalah bentuk kekeliruan fatal.

Baca Juga:  Dua Sopir Angkot di Palembang Nyambi Maling Motor Diringkus

“Kalau yang disebut makan bergizi tapi isinya mie instan dan burger, itu bukan gizi. Itu jebakan karbohidrat dan lemak trans. Anak-anak tidak butuh kenyang, mereka butuh zat gizi yang membangun otak dan daya tahan tubuh,” ujar dr. Tan Shot Yen saat beraudiensi dengan Komisi IX DPR dalam Rapat Dengar Pendapat Umum [RDPU] Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, 22 September 2025.

Pernyataan tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi serius bagi pelaksana program di daerah. Sebab, MBG bukan sekedar proyek kuliner massal, tetapi investasi jangka panjang untuk kecerdasan dan kesehatan anak bangsa.

Dapur Anti Kritik

Ironinya, sejumlah dapur penyedia MBG di kabupaten Banyuasin justru terkesan anti kritik. Ketika media mencoba menelusuri kelayakan sanitasi dapur sebagian pengelola menolak memberikan keterangan.

Disisi lain, pihak sekolah pun enggan berkomentar bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut. Takut dianggap tidak bersyukur, takut di cap pembangkang terhadap program pemerintah.

Bahkan ketika para orang tua siswa menyampaikan protes atas kualitas makanan yang basi dan tidak layak konsumsi, pihak dapur justru tidak terima dan menganggap kritik itu sebagian serangan.

Padahal, kritik bukanlah bentuk penolakan, melainkan tanggungjawab moral agar program publik tetap berada di rel yang benar.

Baca Juga:  Herman Deru Pastikan 18 Sapi Kurban dari Presiden Prabowo Tepat Sasaran

Keamanan Pangan: Nyawa Anak Jadi Taruhan

Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak dapur MBG di Banyuasin yang belum memenuhi standar Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS). Lalat berterbangan di area pengolahan bahkan makanan dibiarkan terbuka. Semua itu adalah indikasi kelalaian yang berujung fatal.

Tak hanya itu, banyak menu MBG yang tidak habis dimakan siswa karena rasa dan tampilannya yang kurang layak hingga akhirnya terbuang sia-sia. Program yang seharusnya menyehatkan justru berpotensi menimbulkan pemborosan dan kemubaziran.

Keamanan pangan bukan sekedar prosedur teknis, Ia adalah jaminan kesehatan. Ketika dapur MBG abai terhadap prinsip ini, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas program tapi nyawa anak – anak sekolah.

Antara Syukur dan Amanah

Sebagian masyarakat memang menilai kritik terhadap MBG sebagai bentuk ketidaksyukuran. Namun, bukankah bersyukur itu juga berarti memastikan bantuan pemerintah dijalankan secara amanah dan prfesional?

Kita bisa saja berterimakasih atas niat baik pemerintah, tapi pada saat yang sama tetap menuntut akuntabilitas dari para pelaksana di lapangan.

Program MBG seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap generasi muda, bukan sekedar proyek rutin yang diserahkan pada pihak yang mengejar tender tanpa nurani.

Karena dibalik paket makan yang dibagikan, ada tanggungjawab moral, etika publik dan masa depan bangsa yang sedang kita suapi. #Apakah dengan gizi atau dengan abai?#

Berita Terkait

Dualisme Penanganan Parkir Rajawali Village, PT Kuala Permai Soroti Langkah DPRD
Aksi Pengoplosan LPG di OKU Timur Terbongkar, Tersangka Terancam 6 Tahun Kurungan
PN Palembang Tegaskan Eksekusi Lahan Eks Cineplex Cinde Sah, Perlawanan Tergugat Tak Hentikan Pelaksanaan
DPP PKB Tetapkan KSB Definitif DPC se-Sumsel, Sejumlah Pengurus Diganti Usai Evaluasi Kinerja
Permendikdasmen 4/2026 Jadi Tameng Guru dari Kriminalisasi, Zulinto: Negara Harus Hadir Lindungi Pendidik ‎
ASAS SMKN Sumsel Masuki Hari Ketiga, 644 Siswa Ikuti Penentuan Kenaikan Tingkat
Sidang Isbat Massal Polres OKU Timur Diikuti 80 Pasangan
AP3K Sumsel Desak Hasil RDP Komisi II DPR RI Dieksekusi: Bukti Nyata Perjuangan PGRI untuk PPPK

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:17 WIB

Dualisme Penanganan Parkir Rajawali Village, PT Kuala Permai Soroti Langkah DPRD

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:56 WIB

Aksi Pengoplosan LPG di OKU Timur Terbongkar, Tersangka Terancam 6 Tahun Kurungan

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:06 WIB

DPP PKB Tetapkan KSB Definitif DPC se-Sumsel, Sejumlah Pengurus Diganti Usai Evaluasi Kinerja

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:43 WIB

Permendikdasmen 4/2026 Jadi Tameng Guru dari Kriminalisasi, Zulinto: Negara Harus Hadir Lindungi Pendidik ‎

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:29 WIB

ASAS SMKN Sumsel Masuki Hari Ketiga, 644 Siswa Ikuti Penentuan Kenaikan Tingkat

Berita Terbaru