MAMPUKAH SAYA?

- Jurnalis

Senin, 30 Agustus 2021 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.net

Ilustrasi.net

Oleh Anto Narasoma

ULAMA atas nama ustadz, merupakan “Alquran dan Hadist” bernyawa, adalah sosok yang setiap saat berusaha meluruskan hakikat perjalanan umat (Islam).

Sebagai kaidah keagamaan yang harus ia sampaikan ke umat Islam, ustadz selalu mengajarkan dengan dalil-dalil Alquran dan Hadidst.

Tentu harapannya agar umat Islam tak hanya mengenal agamanya lewat solat serta melakukan berbagai kebaikan kepada sesama manusia, tapi apakah diri kita mampu masuk ke dalam substansi ajarannya? Ini yang perlu kita tanyakan ke diri kita sendiri.

Setiap ustadz ketika mengajarkan ilmu agama, selalu berkaitan dengan teknik dalil Alquran dan Hadist. Tentu inilah landasan dasar yang harus diperkuat ke dalam diri kita.

Sebab muara kebaikan untuk memperbaiki akhlak adalah Alquran dan Hadist. Dari sinilah Allah SWT mencoba membuka ruang-ruang akhlak lewat pola pikir yang Islami.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Untuk itulah manusia teladan yang sangat patut diteladani, Rasulullah SAW mengembangkan Islam dengan cara memperkuat akhlak manusia.

Beliau secara diam-diam dibantu Ibunda Siti Khadijah untuk membangun struktur akhlak manuisia sesuai kaidah Islam.

Untuk membiayai program pengembangan ajaran Islam bagi manusia, harta Ibunda Khadijah seperti curahan hujan yang membasahi kegersangan akhlak manusia ketika itu.

Itulah ketika Ibunda Siti Khadijah memenuhi panggilan Allahurabbi, Rasulullah SAW seperti kehilangan separuh jiwanya. Rasulullah merasa begitu sedih dan pedih. Ya Allah!

Bahkan disaat Rasulullah mangkat (wafat), harta yang ada hanya tertinggal sekampil (sekarung) gandum. Masya Allah !

Begitu dahsyatnya. Kekayaan Ibunda Siti Khadijah habis dibelanjakan untuk pengembangan agama Islam, sebagai perbaikan akhlak manusia.

Baca Juga:  Pancasila di Persimpangan Jalan

Mampulah kita berbuat seperti itu? Yang saya khawatirkan jika diri ini “ditunjuk” sebagai pendakwah, saya tak mampu bersikap seperti itu.

Yang saya khawatirkan jika nama saya disebut-sebut sebagai pendakwah hebat, saya khawatir kehidupan dan sikap saya jadi berubah.

Dari miskin dan tak punya apa-apa, tiba-tiba banyak tawaran kerja yang membuat kehidupan saya diapit harta benda. Pergi ke sana-sini mengendarai mobil mewah.

Sementara sikap saya yang tadinya tunduk dan tawaduk, kalau berjalan dadaku justru membusung, dengan wajah yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya.

Mampukah saya menaklukkan diri sendiri, dengan berkaca kepada apa yang diajarkan Rasulullah dan Ibunda Siti Khadijah?

Agustus 2021

Berita Terkait

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:10 WIB

Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Senin, 11 Mei 2026 - 07:47 WIB

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Berita Terbaru