“Keterampilan saja tidak cukup, harus diikuti link and match atau kesesuaian dengan kebutuhan industri, sehingga serapan SDM menjadi optimal,” tutur Menhub.
Misalnya, saat ini pasar telah memasuki industri 4.0, sehingga pada sistem pengajaran dan pelatihan harus terdapat pelajaran yang membahas digitalisasi, internet of things, e-commerce, dan lain sebagainya. Selain itu, Menhub juga menekankan pentingnya mengasah soft skill seperti: berpikir kritis, kreativitas, kemampuan koordinasi, kontrol emosi, negosiasi, dan sebagainya.
Kemenhub telah melakukan sejumlah kolaborasi dengan perguruan tinggi dan industri, untuk mencetak SDM unggul di bidang transportasi. Salah satunya kerja sama dengan perguruan tinggi negeri dalam negeri dan internasional, untuk menyediakan program double degree, di antaranya yaitu dengan Universitas lndonesia (Ul) dan University of Leeds Inggris untuk Program Moda Transportasi Jalan, Universitas Gajah Mada dan University of Leeds Inggris untuk Program Moda Perkeretaapian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Rotterdam University of applied Sciences (RUAS) Belanda untuk Program Moda Transportasi Laut, serta Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Ecole Nationale de L’aviation Civile (ENAC) Perancis untuk Program Moda Transportasi Udara.
Selain itu, sejumlah kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri juga dilakukan, di antaranya dengan University of Tasmania Australia dan Monash University, dengan program: menyelenggarakan diklat Training of Trainer (ToT) untuk meningkatkan kualitas pengajar yang berstandar International Maritime Organization (IMO), beasiswa, serta pengembangan konsep dan realisasi Transit Oriented Development (TOD) di Indonesia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



















