Saat Mati, Lelaki Tampan Itu Sahabat Kita

- Jurnalis

Sabtu, 30 Maret 2019 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi.net

Gambar Ilustrasi.net

KEMATIAN, tak seorang pun dapat menduga dan menentukan, kapan ia datang kepada setiap makhluk hidup (terutama manusia).

Misteri kematian ini hanyalah Allah SWT yang dapat menentukan waktu dan di mana lokasi kematian bagi manusia itu terjadi. Karena itu, disaat kita berhura-hura dengan segela rezeki dan kesenangan yang diberikan Allah SWT, yang patut kita ingat, semua itu akan kita tinggalkan. Karena kita bakal mati.

Yang jadi perranyaan, apakah seseorang mengetahui bahwa dirinya telah disekap kematian? Itu pun tak dapat dipastikan.

Yang pasti, ketika nyawa berpisah dari raga, bagi manusia yang sudah dijemput maut, mereka hanya merasakan kematian itu layaknya mimpi.

Bahkan dalam mimpinya, ia juga melihat jasadnya yang terbujur dan ditangisi, dikafani, dishalati hingga dirinya diturunkan ke liang lahat.

Tatkala ia ditimbuni tanah, dia merasa sedang berada dalam ruang mimpi yang begitu mencekam dan menakutkan.

Menurut Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya, saat itu terjadi, tak ada orang yang mampu memberi pertolongan. Sebab derajat utama dirinya di sisi Allah di hari kiamat kelak, hanya Alquran yang mampu meringankan penderitaanya. Saat itu, Nabi dan Malaikat tidak berdaya terhadap hak-hak kematian seseorang.

Baca Juga:  Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Dalam kitab La’aali Masnunah yang diriwayatkan Al Bazzar, jika seorang manusia meninggal dunia, di antara kesibukan orang-orang menyiapkan kain kafan untuk penguburan, seorang pemuda tampan berdiri di atas depan kepala jenazah. Ketika kain kafan itu mulai dililitkan ke tubuh si mati, lelaki itu pun di antara dada dan kain kafan.

Setelah jenazah itu dikebumikan dan orang-orang yang mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya, datanglah malaikat Munkar dan Nakir. Kedua malaikat itu mencoba memisahkan orqng tampan tersebut dari si mayat agar memudahkan proses tanya jawab.

Namun si tampan itu berkata, “Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimana pun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk menanyai dia, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan perpisah dengan orang ini sampai ia dimasukkan ke syurga.”

Kemudian si tampan berpaling ke pada sahabatnya. Ia berkata, “Aku adalah Alquran yang kadang-kadang kamu baca dengan lafal yang tegas dan suara keras. Bahkan dengan suara perlahan. ”

Gambar.net
Gambar.net

“Jangan khawatir, setelah mendengarkan pertanyaan Munkar dan Nakir, engkau tidak akan mengalami kesulitan, ” katanya.

Baca Juga:  Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Setelah kedua malaikat selesai bertanya, lelaki tampan itu menghamparkan tempat tidur dan permadani sutra yang beraroma kesturi dari Mala’il A’la (himpunan Fadhilah Amal :609).

Allahu Akbar. Selalu ada getaran haru seusai membaca hadist tersebut. Getaran itu itu begitu menyentuh perasaan karena penuh dengan muatan pengharapan dan kekhawatiran.

Getaran harap itu tentu saja karena mengharapkan Alquran yang kita baca itu dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembelaan. Getaran itu sekaligus adanya rasa takut jika Alquran akan menuntut diri kita.

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Alquran adalah pemberi syafaat yang pasti dikabulkan Allah SWT.

“Ya Allah, ampuni dosaku, doa ibu bapaku, keluargaku, saudaraku, dan seluruh kaum muslimin. Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Amin Allahumma Amin.

Sebelum mati, kita mempunyai dua pilihan, yakni, membiarkan sedikit pengetahuan hanya di baca di artikel ini, atau membagikannya ke semua teman dan kaum muslimin. Insya Allah ini akan menjadi pahala untuk kita semua. Amin. (*)

Berita Terkait

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah
Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Berita Terbaru

Suasana di sebuah rumah di kawasan Parit 9, Desa Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, mendadak berubah menjadi tempat kejadian perkara berdarah, Kamis 17 September 2026.

Banyuasin

Petani di Banyuasin Tewas di Tangan Anaknya Gegara Lahan

Kamis, 17 Sep 2026 - 20:33 WIB

Ilustrasi MENELAAH KATA,

Sastra

MENELAAH KATA, “KARENA RINDU”

Kamis, 17 Sep 2026 - 11:52 WIB