Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 16:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 6: Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir

BAB 6: Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir

Kebungson, Gresik Jawa Timur

“Lalu apa yang ayah biyung katakan?” Jaka Samudera mendesak Nyai Ageng Pinatih untuk melanjutkan ceritanya. Nyai Ageng Pinatih hanya membalas pertanyaan putera angkatnya dengan senyuman tipis. “Biyung.. kok malah senyum?, Jaka sudah tidak sabar nih!” Jaka Samudera merubah posisi duduk. Punggung tangan kanannya kini menjadi penopang dagu.

Keingintahuannya terlukis sangat jelas dari sorot matanya yang tajam di bawah sepasang alis tebal. Melihat tingkah putera angkatnya, senyum Nyai Ageng Pinatih tambah melebar. “Sabar, cerita biyung masih panjang. Ayo makan lagi ubi rebusnya.” Jaka Samudera menurut. Jemarinya lincah menjepit ubi rebus, lalu menggigitnya dengan mantap. Meski sudah tidak sehangat tadi, namun rasa manisnya masih memanjakan lidah.

Nyai Ageng Pinatih menatap langit-langit ruangan. Memandang bayangan api yang bergoyang di antara celah-celah kayu dan atap rumah. “Jadi apa yang ingin disampaikan ayahnya biyung malam itu?” Jaka Samudera memotong lamunan perempuan berhidung mancung di hadapannya. Usai melontarkan pertanyaan, mulut bocah lelaki itu kembali sibuk mengunyah ubi rebus. “mm..” Nyai Ageng Pinatih menarik nafas, lalu diam untuk beberapa saat.

Baca Juga:  Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Syahbandar Gresik itu mencoba menggali kembali kenangan masa kecilnya. Garis lipatan di kening nampak terlihat jelas di bawah bayangan lampu minyak jarak. Nyai Ageng Pinatih kembali hanyut dalam lamunan. Pertanyaan Jaka Samudera seakan menguap begitu saja di telinganya, seperti hembusan angin yang merambat di antara celah-celah pintu. “Selain menjadi saudagar, A Pa juga diangkat sebagai pegawai kerajaan Majapahit di Palembang.

Namun, pekerjaannya tidak mudah. Karena Selat Malaka saat itu ramai dengan para perompak kejam.” Nyai Ageng Pinatih memulai kembali kisahnya di masa kecil. Ada mendung bergelayut di balik tatapan matanya. “Banyak pedagang yang tidak selamat sampai tujuan. Kapalnya diserang perompak, hartanya dirampok, dan nyawa mereka melayang sia-sia.”

Jaka Samudera bergidik ngeri. Benaknya membayangkan lantai geladak kapal yang penuh dengan genangan darah. “Perompak Selat Malaka itu sangat menakutkan bagi para saudagar kapal. Termasuk A Pa yang kerap ikut berlayar ke Tiongkok dan Champa.” “Apakah biyung pernah bertemu dengan para perompak itu?” “Iya,” Nyai Ageng Pinatih menganggukan kepalanya. “Dan itu menjadi kenangan yang mengerikan.” “Waahh…” Mulut Jaka Samudera menganga.

Baca Juga:  Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Ia tidak menyangka, perempuan paruh baya di hadapannya saat ini pernah berjumpa dengan komplotan perompak. “Bagaimana ceritanya biyung?” Tangan kanan Jaka Samudera mengambil minuman wedang jahe, meneguknya sampai habis. Bocah belasan tahun itu berusaha menahan laju penasarannya dengan rasa hangat di tenggorokan. Sayangnya, meski gelas tanah liat sudah diletakannya di atas tikar pandan, perempuan berhidung mancung di hadapannya tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

Nyai Ageng Pinatih masih diam membisu tanpa suara. Suasana ruangan tengah bangunan rumah gebyok itu kembali lenggang, sunyi dan hening. “Biyung..??” Jaka Samudera memanggil Nyai Ageng Pinatih dengan nada hati-hati. Namun, perempuan berbibir tipis itu tetap diam. Dari pelupuk matanya, ada air mata yang menggenang. Di antara hembusan angin malam, telinga Jaka Samudera samar-samar mendengar suara isak tangis.

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru

Terpidana kasus kekerasan seksual, Fahrul Rozi alias Balung bin Azim [Alm] berhasil diringkus Tim Tangkap Buron [Tabur] Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Jumat 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.15 WIB.

Headlines

Pelarian Terpidana Kekerasan Seksual di Sekayu Kandas!

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:56 WIB

Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.

Headlines

SMSI Sumsel Tancap Gas Persiapkan Muswil 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:02 WIB