Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir

BAB 6: Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir
BAB 6: Prahara di Pulau Maspari: Buih di Atas Pasir

Kebungson, Gresik Jawa Timur

by Agus Sulaiman SE & Rohadi Wijaya

banner 468x60

WIDEAZONE.com | Cahaya bulan memantul di atas lapisan tanah merah. Kerlipan lembut bintang-bintang di langit tanpa awan membuat perkampungan Kebungson seperti taman bunga yang dipenuhi kunang-kunang. Titik-titik cahaya lampu minyak jarak di pekarangan rumah meliuk-liuk diterpa angin malam. Derit jangkrik serta suara serangga malam nyaring terdengar di balik batang-batang pohon, berlindung di bawah bayangan daun-daun yang bergoyang seirama.

Hembusan angin malam membuat malam terasa dingin dan lembab. Satu tiupan pelan di atas pohon beringin, berhasil membuat daunnya yang telah menguning terlepas dari ranting, terbang berputar, lalu jatuh berayun-ayun sebelum akhirnya terbaring bisu di pekarangan rumah Nyai Ageng Pinatih. Sepasang lampu minyak yang tergantung di tiang rumah ikut bergoyang. Lidah apinya menjilat-jilat udara yang menyusup celahcelah pintu kayu, dan meniup asap tipis yang masih menguar dari tumpukan ubi rebus.

Semakin ke atas, kepulan asap berubah seperti tirai tipis. Jaka Samudera masih duduk bersila. Ia mendengarkan dengan takjim uraian cerita masa lalu Nyai Ageng Pinatih. Suara lembut ibu angkatnya yang mengalir seperti aliran sungai, menambah kekhusyukan bocah lelaki berbaju sorjan putih itu. Hembusan angin yang masuk dari celah-celah pintu membuat bayangan keduanya meliuk-liuk di atas tikar pandan. “Menjelang malam, ombak di lautan semakin bergelombang.”

Nyai Ageng Pinatih melukiskan kembali suasana pelayarannya. “Di ruang geladak, kami menikmati makan malam ditemani ayunan ombak.” Jaka Samudera membayangkan memasukkan makanan ke dalam mulut saat terombang-ambing gulungan ombak. “Suara-suara kayu yang bergesekan membuat biyung takut kalau-kalau kapal tiba-tiba terbalik di tengah samudera.” Nyai Ageng Pinatih menutup sepasang kelopak matanya dengan anggun. Ia mencoba mengenang kengerian yang dirasakannya. Dalam heningnya, Nyai Ageng Pinatih membayangkan kembali kekalutan pada saat itu.

Titik-titik kenangan yang sebelumnya samar dan berkabut, perlahan mulai membentuk garis tebal. Lorong ingatan masa kecilnya yang gelap dan terlupakan, malam ini semakin terlihat terang dan kian benderang. “Bagaimana cara biyung membuang kekhawatiran saat itu?” Jaka Samudera melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapan matanya hampir tidak berkedip. Bayangan dirinya yang menari-nari di atas tikar pandan diabaikan begitu saja tanpa ekspresi.

Nyai Ageng Pinatih membuka matanya perlahan-lahan. Perempuan paruh baya itu membalas tatapan Jaka Samudera dengan lembut. “Biyung mengajak Ban Ci dan Ju Sin bermain sandiwara,” “Kami berpura-pura sebagai nahkoda dan awak kapalnya yang berlayar di laut lepas. Tetapi akhirnya semua itu terhenti saat A Pa datang.” Jaka Samudera menurunkan lipatan tangannya. Ia mendorong badannya sedikit lebih ke depan, lalu memangku kedua lengannya di atas lutut.

“Ketika pintu ruang geladak terbuka, kami serempak terdiam. Saling beradu pandang dengan mulut terkunci.” “Tapi begitu melihat senyuman A Pa, Ji Sun dan Ban Ci langsung berlari, memeluk A Pa sambil melompat-lompat senang.” Nyai Ageng Pinatih mengenang tingkah kedua adiknya dengan semburat senyum. “Setelah puas memeluk Ji Sun dan Ban Ci bergantian. A Pa meminta biyung menemaninya ke anjungan kapal.”