MIMPI DALAM NILAI ESTETIKA DAN TANAH LADANG

- Jurnalis

Selasa, 30 April 2019 - 21:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gamabr Ilustrasi.net

Gamabr Ilustrasi.net

MENULIS puisi pada dasarnya mengungkap pengalaman batin dengan bahasa penuh ruang. Tiap ruang, terdapat nilai rasa (feeling), tujuan atau arti (intention) serta kelokan kisah.

Mara Uliyah
DI LADANG MIMPI

Pergi ke ladang mimpi
Bebas memetik ranum buah hati

Tuhan memang Maha Pemurah
Ladang-ladang mimpi bebas dari intruksi
Dosa dan rasa bersalah tak punya tempat di sini
Tak ada yang tergesa-gesa
Tak ada ketakutan berlebih
Tak ada stigma
Tak ada doktrin
Tak ada intimidasi
Di dini hari,
Sang sufi memeluk balok es
Meluruhkan sisa pergumulan mimpi
Menghadap Ilahi lewat mata sepi
Di ladang mimpi,
Kulihat juga dirimu
Tersenyum padaku tanpa ragu
Tanganmu sigap mencangkul dan menanam benih
Gembur tanah yang kau cangkul
Meruapkan aroma kemenangan panen petani
Kulihat wajahmu yang tulus
Mengeja tanah dan benih
“Kita tak akan kelaparan dengan kasih Tuhan, Dik. Paling tidak, selama musim ini.

Esok bantu aku memanennya ya!”
Lembut suaramu mengisi kalbu
“Tentu, kekasih!” Kusapu pipimu yang berpeluh
dengan bibirku yang gemetar dan dingin
oleh rindu dan angin

Di ladang mimpi
Masihkah terbesit keinginan untuk bangun kembali
Andai ini labirin impian
Kubiarkan diriku tersesat sempurna
Tak akan kembali
Di ladang mimpi…

Membaca puisi “Di Ladang Mimpi” karya Mara Uliyah, penyair berani melepaskan tradisi lamanya, menulis dengan mencari kata-kata indah sehingga mengabaikan pesan mendasar yang harus disampaikan ke pembaca

Bisa jadi, sebagai penyair yang mulai menyeberangi “dataran puitika” pilihan Ully sudah sangat tepat.

Sebab dalam persepsi “dataran puitika” yang dipadati kreatifitas, penyair akan menemukan banyak sekali endapan batin yang esensialis.

Di Ladang Mimpi ini banyak nilai persepsi yang diurai penyair dengan kesederhanaan.gayanya.

Seperti dikatakan Bahrum Rangkuti, dataran intuisi dalam puisi, memuntjulkan ide-ide kreatif. Ide kreatif tersebut dapat dilihat dari gaja bahasa, penjadjian isi serta nilai kisahan jang berkelok penuh kekuatan estetika. (Djedjak Kata dalam Estetika Bahasa — Penerbit Balai Pustaka No. 138 1960).

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Penyair Mara Uliyah tak segan-segan memainkan persepsinya tentang Tuhan yang Mahapemurah. Ia berlalu bebas menafsirkan kebebasan. Karena sasaran utama yang ia kejar adalah terlepas dari segala beban.

Dari larik pertama,” Pergi ke ladang mimpi/ bebas memetik ranum buah hati..

Dari larik awal penyair menyajikan kebebasan melakukan sesuatu. Seperti ..Bebas memetik ranum buah hati.

Kalimat ini menjelaskan tentang kelancaran usaha tanpa ada beban yang bergayut di batang leher kita. Karena itu ia berani menyajikan kebebasan berbuat (..Bebas memetik ranum buah hati).

Bahkan penyair pun tak pernah melupakan kemurahan hati Sang Mahapemurah (Tuhan). Apalagi ia melukiskan suasana kisahan tentang dosa dan salah yang tak terlukis Di Ladang Mimpi.

Memang, tak satu manusia pun yang menolak kekebasan berbuat sepanjang tetap berjalan pada pikiran dan rasionalitas fakta sesungguhnya.

Dasar kekuatan inilah yang dimasuki Mara Uliyah, tanpa mengabaikan proses kreatif antara dunia fakta dan dunia puitika.

Dari sinilah hal-hal konkret diangkutnya ke dunia puitik yang begitu dalam membumbui The Concrete Word, sebagai dunia kata-kata yang sarat dengan nilai rasa (feeling of human).

Bahkan sebagai penyair wanita, Ully berani menghadirkan falsafah agama dengan stigma perumpamaan berlapis dari sisi hakikat dan metode perpuisian.

Menurut IA Richard, setiap puisi memiliki unsur dasar sebagai pokok persoalan yang diinginkan penyair.

Karena itu menurut Richard, Mara Uliyah telah memiliki persepsi mendalam tentang penyajian substansi maksud tersamar.

Jika kita memasuki tiap relung kata dalam puisi ini, Ully berani mengungkap sesuatu dari sejumlah larik Di Ladang Mimpi.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Oleh sebab itu, penyair harus mengungkap puisinya dengan diksi tersamar. Meski demikian tak ada satu puisi yang baik tidak mengungkap nilai arti.

Seperti puisi penyair Perantjis, Ilya Ehrenbourg bertajuk “Sadjak”…
Kaukata aku telah bunuh diri/ Itu Temperau dan tjemburu/ Paris bukan Jean dan Nivelle, bukan aku, andjingnja/Betapapun, dari hidup satu ajat tak pupus..dan seterusnya (Puisi Dunia — BP No 338 tahun 1960).

Seperti puisi Mara Uliya, sajak Ilya Ehrenbourg ini menyenandungkan sejumlah kata berlapis yang tidak menyampaikan makna sesuai pikiran makna sesungguhnya.

Memang, tidak sedikit penyair yang menulis sajaknya secara tersamar, sehingga pembaca dituntut untuk lebih berpikir secara kreatif. Dengan demikian pembaca dapat menangkap maksud apa yang ada di balik nilai arti puisi tersebut

Inilah disebut sense. Namun banyak pula pembaca yang mencoba mendalami nilai di balik kesamaran puisi yang disajikan, namun harapan untuk mencapai sense of poetnya tidak sampai.

Puisi Di Ladang Mimpi ini, merupakan puisi yang menyajikan perumpamaan antara fakta dan mimpi (puitika). Karena itu kata-kata yang disajikan Mara Uliyah jauh lebih cair ketimbang puisi awalnya.

Meski estetika puisi ini bisa dikatakan cukup kuat, namun Ully harus lebih impresif menata kisahan agar tak terkesan kasar dan tidak masuk akal.

Pada lanjutan larik kedua, terdapat kata ..
Di dini hari/Sang sufi memeluk balok es/Memunculkan sisa pergumulan mimpi…, ini cukup bagus.

Namun berdasar catatan saya, alangkah baiknya kata …memeluk balok es itu dirangkai dengan ide kreatif. Misalnya, Di dini hari, gugusan cuaca membatu dalam kesejukan dada Sang Sufi/Meluncurkan sisa pergumulan mimpi..dst.

Namun saya memberikan apresiasi tinggi ke pada penyair cantik Mara Uliyah. (*)

Berita Terkait

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat
ORANG-ORANGAN SAWAH
Sulaiman: Sayap-Sayap Proklamasi, Edukasi Sejarah bagi Generasi Muda Kita

Berita Terkait

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Jumat, 17 Oktober 2025 - 08:15 WIB

Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !

Rabu, 1 Oktober 2025 - 14:34 WIB

KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi

Sabtu, 1 Februari 2025 - 11:33 WIB

Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terbaru

DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.

Headlines

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 Apr 2026 - 19:13 WIB