DALAM dua pekan terakhir, masyarakat Sumatera Selatan dikejutkan adanya sekumpulan harimau yang ke luar dari habitatnya. Tak hanya itu, mereka kelayapan dan melahap manusia yang ditemuinya di ladang kopi, karena lapar.
Kucing-kucing besar itu diperkirakan berasal dari habitatnya di kawasan hutan lindung kawasan Gunung Dempo dan sekitarnya. Petugas Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyatakan, kerusakan alam akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab menyebabkan harimau-harimau itu turun ke sejumlah pemukiman warga.
Yang merasa diteror atas kehadiran hewan-hewan buas itu adalah warga Desa Tebat Benawa Kecamatan Dempo Selatan Pagaralam dan Desa Pagar Bulan Semendo serta desa-desa lainnya. Apakah konflik maut antara hewan buas dan manusia itu akan terus berlanjut?
Kita juga bersukur munculnya kesadaran masyarakat, petugas kepolisian dan petugas koramil yang mencoba menghalau hewan-hewan buas itu agar kembali ke habitatnya di kawasan kantung Bukit Dingin seluas 63 ribu hektare yang membentang dari Kabupaten Lahat-Kota Pagaralam-Empat Lawang serta kantung Bukit Jambul Putih seluas 282 hektare.
Dalam pokok bahasan pada rapat Paripurna VII DPRD Sumsel, Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru menjelaskan, reaksi harimau menerkam manusia itu akibat faktor geothermal (ekspansi pertambangan).
Akibat geothermal itulah barangkali situasi lingkungan habitat mereka rusak dan kehilangan sumber makanan. Bahkan didapati pula oknum-oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan.
Memang, tiada api tak ada asap. Karena ulah manusia tak bertanggung jawab, harimau-harimau itu lepas dari habitatnya. Hewan-hewan buas itu kelayapan dan melahap manusia di ladang kopi.
Maut-maut telah membunuh dua warga dan melukai dua orang lainnya. Apakah rangkaian nyawa manusia yang terancam itu akan terus berlanjut?
Terkait itu harus ada upaya dan kerja keras untuk mengembalikan harimau-harimau itu ke habitatnya. Namun harus dijaga agar hewan langka tidak berkurang jumlahnya. Sedangkan aktivitas dan keselamatan jiwa manusia tetap menjadi prioritas utama. Ibarat mengambil rambut di dalam tepung, rambutnya terangkat, sedangkan tepungnya tak berhamburan. (*)







![Anggota Komisi III DPRD Kota Palembang, Andreas Okdi Priantoro, dalam Rapat Dengar Pendapat [RDP] bersama Dinas Perhubungan, Inspektorat, DPMPTSP, Bagian Hukum, dan manajemen Green SM, Selasa 15 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/Anggota-Komisi-III-DPRD-Kota-Palembang-Andreas-Okdi-Priantoro-dalam-Rapat-Dengar-Pendapat-Selasa-15-September-2026-225x129.jpg)
![Rapat Dengar Pendapat [RDP] Komisi IV DPRD Palembang dengan Dinas Pendidikan Kota Palembang soal evaluasi PJJ [pembelajaran jarak jauh] pada Senin 14 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0015_copy_1600x1015-225x129.jpg)




![Anggota Komisi III DPRD Kota Palembang, Andreas Okdi Priantoro, dalam Rapat Dengar Pendapat [RDP] bersama Dinas Perhubungan, Inspektorat, DPMPTSP, Bagian Hukum, dan manajemen Green SM, Selasa 15 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/Anggota-Komisi-III-DPRD-Kota-Palembang-Andreas-Okdi-Priantoro-dalam-Rapat-Dengar-Pendapat-Selasa-15-September-2026-129x85.jpg)


![Wakil Ketua Komisi Informasi Sumsel Haidir Rohimin didampingi Komisioner KI Sumsel Hadi Prayogo, Yoppy Van Houten saat melakukan monitoring dan evaluasi [monev] dengan Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Sumsel H Nopianto, Selasa 8 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260908_123130_982_copy_3264x2079-360x200.jpg)

![Presiden RI Prabowo Subianto [gambar Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20250227-WA0099-scaled-266x266-1-266x200.jpg)
