Lingkungan Rusak, Nyawa Manusia Binasa

- Jurnalis

Rabu, 18 Desember 2019 - 16:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.net

Ilustrasi.net

DALAM dua pekan terakhir, masyarakat Sumatera Selatan dikejutkan adanya sekumpulan harimau yang ke luar dari habitatnya. Tak hanya itu, mereka kelayapan dan melahap manusia yang ditemuinya di ladang kopi, karena lapar.

Kucing-kucing besar itu diperkirakan berasal dari habitatnya di kawasan hutan lindung kawasan Gunung Dempo dan sekitarnya. Petugas Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyatakan, kerusakan alam akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab menyebabkan harimau-harimau itu turun ke sejumlah pemukiman warga.

Yang merasa diteror atas kehadiran hewan-hewan buas itu adalah warga Desa Tebat Benawa Kecamatan Dempo Selatan Pagaralam dan Desa Pagar Bulan Semendo serta desa-desa lainnya. Apakah konflik maut antara hewan buas dan manusia itu akan terus berlanjut?

Baca Juga:  Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

Kita juga bersukur munculnya kesadaran masyarakat, petugas kepolisian dan petugas koramil yang mencoba menghalau hewan-hewan buas itu agar kembali ke habitatnya di kawasan kantung Bukit Dingin seluas 63 ribu hektare yang membentang dari Kabupaten Lahat-Kota Pagaralam-Empat Lawang serta kantung Bukit Jambul Putih seluas 282 hektare.

Dalam pokok bahasan pada rapat Paripurna VII DPRD Sumsel, Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru menjelaskan, reaksi harimau menerkam manusia itu akibat faktor geothermal (ekspansi pertambangan).

Akibat geothermal itulah barangkali situasi lingkungan habitat mereka rusak dan kehilangan sumber makanan. Bahkan didapati pula oknum-oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan.

Baca Juga:  Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Memang,  tiada api tak ada asap. Karena ulah manusia tak bertanggung jawab, harimau-harimau itu lepas dari habitatnya. Hewan-hewan buas itu kelayapan dan melahap manusia di ladang kopi.

Maut-maut telah membunuh dua warga dan melukai dua orang lainnya. Apakah rangkaian nyawa manusia yang terancam itu akan terus berlanjut?

Terkait itu harus ada upaya dan kerja keras untuk mengembalikan harimau-harimau itu ke habitatnya. Namun harus dijaga agar hewan langka tidak berkurang jumlahnya. Sedangkan aktivitas dan keselamatan jiwa manusia tetap menjadi prioritas utama. Ibarat mengambil rambut di dalam tepung, rambutnya terangkat, sedangkan tepungnya tak berhamburan. (*)

Berita Terkait

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan
Harga BBM Nonsubsidi Naik Senyap, Publik Ditinggal di Belakang Informasi
Lagi! Sumur Minyak Ilegal Membara, Dugaan Skandal di Balik Lahan PT Hindoli?
Pembongkaran Ruko di Demang Lebar Daun Picu Konflik Hukum
Tertibkan Bangunan Liar: Dilema Perizinan di Kota Palembang
Hak Imun Seorang Advokat
Dari Bencana ke Bencana

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 13:04 WIB

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

Minggu, 19 April 2026 - 07:28 WIB

Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Minggu, 19 April 2026 - 04:20 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Senyap, Publik Ditinggal di Belakang Informasi

Sabtu, 4 April 2026 - 16:56 WIB

Lagi! Sumur Minyak Ilegal Membara, Dugaan Skandal di Balik Lahan PT Hindoli?

Kamis, 2 April 2026 - 20:31 WIB

Pembongkaran Ruko di Demang Lebar Daun Picu Konflik Hukum

Berita Terbaru