BPS Bilang Angka Kemiskinan Banyuasin Turun Sedangkan Taraf Hidup Tidak Terpenuhi

- Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Badan Pusat Statistik [BPS] Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kantor Badan Pusat Statistik [BPS] Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

WIDEAZONE.com, BANYUASIN | Badan Pusat Statistik [BPS] menyebut angka kemiskinan di Kabupaten Banyuasin mengalami penurunan, sedangkan taraf hidup masyarakat di bumi Sedulang Setudung belum terpenuhi.

Angka penurunan itu merujuk pada garis kemiskinan tahun 2025 berada di angka Rp560.840 per kapita perbulan.

Nilai tersebut merupakan batas maksimum pengeluaran seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan non makanan selama satu bulan.

Jika satu rumah tangga terdiri dari lima anggota keluarga, maka pengeluaran di bawah Rp2,8 juta perbulan dikategorikan sebagai miskin.

Namun, di sisi lain, fenomena di lapangan menunjukkan realitas yang tidak sepenuhnya sejalan. Pasca pandemi COVID-19 dan meningkatnya angka PHK, sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Harga bahan pokok yang terus naik membuat daya beli masyarakat semakin tertekan.

Kepala BPS Banyuasin melalui Stastisi Ahli Madya, Dian Febrini menegaskan bahwa metode perhitungan yang digunakan masih berpedoman pada Basic Need Approach [Pendekatan kebutuhan dasar] yaitu menghitung kebutuhan minimum seseorang berdasarkan konsumsi makanan dan kebutuhannya lainnya.

Baca Juga:  Cipayung Plus Palembang Kecam Keras Dugaan Persekusi di Depan Polda Sumsel, Enam Mahasiswa Luka-Luka

“Garis kemiskinan itu dibentuk dari dua komponen utama yakni kebutuhan makanan dan non makanan. Kalau di banyuasin, untuk tahun 2025 nilainya di Rp560.840. artinya, kalau dalam satu rumah ada lima orang dan pengeluarannya dibawah 2,8 juta rupiah baru dikategorikan miskin,” Jelas Dian, Selasa 21 Oktober 2025.

Ia menambahkan faktor turunnya angka kemiskinan tidak berdiri sendiri. Semua aspek, mulai dari daya beli hingga pengeluaran rumah tangga, saling berpengaruh.

“Yang kita lihat mungkin secara kasat mata harga-harga naik. Tapi secara keseluruhan, daya beli masyarakat juga ikut menyesuaikan,” ujarnya.

Kendati demikian, dirinya tidak menampik bahwa masih ada kemiskinan multidimensi, bentuk kemiskinan yang dilihat bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga kualitas pendidikan, kesehatan dan kondisi tempat tinggal.

“secara fisik di Banyuasin ini nanti ada kemiskinan multidimensi, itu yang nanti melihat dari kasat mata, yang dilihat dari rumah dan pendidikannya. Tapi untuk saat ini perhitungan yang masih digunakan adalah metode basic need approach berdasarkan konsumsi masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga:  MISTERI 5 TAHUN TERBONGKAR! Rani dan Ayuhana Dibunuh, Jasad Tinggal Tulang-belulang di Rumah Kosong

Aktivis Banyuasin, Abdullah Hudedy menilai penurunan angka kemiskinan versi statistik perlu dibaca secara lebih hati-hati. Sebab, data sering kali sepenuhnya mencerminkan dinamika kesejahteraan masyarakat di lapangan.

Turunnya angka kemiskinan memang bisa menjadi kabar baik, namun belum tentu menandakan meningkatnya taraf hidup.

Sebab, sambungnya, garis kemiskinan itu bersifat relatif , berbeda di tiap daerah dan sangat bergantung pada perubahan harga barang serta pola konsumsi masyarakat.

“Data bisa menunjukkan kemajuan, tapi kesejahteraan sejati bukan hanya soal angka. Masih banyak keluarga yang hidup pas-pasan dengan pekerjaan tidak tetap dan biaya hidup yang terus naik,” terangnya.

Pada akhirnya, data BPS tetap penting sebagai dasar kebijakan. Namun, realitas sosial di lapangan menjadi pengingat bahwa penurunan angka kemiskinan tidak boleh membuat pemerintah lengah.

Sebab, di balik statistik yang menurun, masih ada wajah-wajah masyarakat yang berjuang setiap hari untuk sekedar bertahan hidup.

Laporan Desi OY | Editor Abror Vandozer

Berita Terkait

Audit Bapenda Ungkap Tunggakan PBB Yayasan STIMIK IGM, Perluasan Bangunan Juga Disorot
Korupsi Lampu Jalan Palembang, Dua Tersangka Ditahan! Kerugian Negara Rp3,07 Miliar
Plang PBB Bapenda Terpasang di Dua Objek IGM, Marzuki Alie Minta DPRD Bersikap Tegas
BREAKING NEWS: Bapenda Palembang Pasang Plang Penunggak Pajak di Dua Objek STIMIK IGM
Palembang Kebagian Rp10 Miliar untuk Karhutla, Pemkot Siapkan Anggaran Pemadaman hingga Penanganan ISPA
Nyaris Dua Tahun Jabat Dirut Pasar, Pengangkatan Dedi Siswoyo Dipertanyakan
CACA Desak Kejati Sumsel Usut Dugaan Penyimpangan Anggaran Perjadin dan Bimtek Rp70 Miliar
Kebutuhan 7.000 Kantong Darah Perbulan, PMI Palembang Masih Kekurangan 2.000 Kantong

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:44 WIB

Audit Bapenda Ungkap Tunggakan PBB Yayasan STIMIK IGM, Perluasan Bangunan Juga Disorot

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:54 WIB

Korupsi Lampu Jalan Palembang, Dua Tersangka Ditahan! Kerugian Negara Rp3,07 Miliar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Plang PBB Bapenda Terpasang di Dua Objek IGM, Marzuki Alie Minta DPRD Bersikap Tegas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:11 WIB

BREAKING NEWS: Bapenda Palembang Pasang Plang Penunggak Pajak di Dua Objek STIMIK IGM

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Palembang Kebagian Rp10 Miliar untuk Karhutla, Pemkot Siapkan Anggaran Pemadaman hingga Penanganan ISPA

Berita Terbaru