Menggelar Kembali Tradisi Sanjo-Sanjoan

- Jurnalis

Selasa, 10 Mei 2022 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menggelar Kembali Tradisi Sanjo-Sanjoan

Menggelar Kembali Tradisi Sanjo-Sanjoan

Anto Narasoma

Sanjo-sanjoan atau Umpak-umpak’an merupakan tradisi masyarakat Palembang dan sekitarnya. Jika di era tahun 1950-1990-an, tradisi ini sangat melekat dalam kehidupan masyarakat.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, tradisi itu jarang dilakukan. Apakah saat ini masih ada yang melakukan sanjo-sanjoan atau umpak-umpak’an?

Ketua Forum Palembang Bangkit Sumafera Selatan [FPB Sumsel] Idham Rianom SSos, mengatakan dua tradisi masih dilakukan di beberapa lokasi saja. Misalnya di kawasan wong Plembang tempat bermukimnya warga keturunan Arab di 7 Ulu, Jalan Ali Gathmir 13-14 Ilir, serta di wilayah Kelurahan 1 Ilir.

“Tradisi sanjo-sanjoan atau umpak-umpak’an merupakan kebiasaan yang baik bagi masyarakat Palembang. Ini mencerminkan nilai kebersamaan untuk saling menghargai dan merasa senasib sepenanggungan,” ujar Idham Rianom didampingi Sekretaris FPB Sumsel Idham Abubakar, Selasa (10/5/2022).

Tradisi sanjo-sanjoan atau umpak-umpak’an merupakan kebiasaan masyarakat Palembang untuk bertamu ke pihak keluarga, sahabat, serta bertamu ke rumah orang-orang gang dicintai. “Inilah mulianya cara bertamu yang mampu membangun semangat pihak keluarga,” kafanya.

Maka, di hari Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah inilah momen yang tepat untuk menggelar kembali tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu. Menurut Idham, tidak banyak anak-anak muda yang memahami secara harfiah tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu.

Apa yang membedakan tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an bagi masyarakat Palembang? Menurur Idham, memang ada pembedaan di antara keduanya.

Tradisi sanjo-sanjoan, katanya, dilakukan untuk bertamu ke pihak keluarga, teman, sahabat, atau handai taulan. Namun dilakukan dengan beberapa orang saja, misalnya, dengan istri, anak, atau teman dekat. ” ini tradisi yang mempererat tali silaturahim antarsesama kita,” ujarnya.

Sedangkan umpak-umpak’an, menyiratkan tradisi bertamu secara bergerombol. Misalnya, setelah salat Id bersama, kesepakatan jamaah salat untuk bertamu mendatangi rumah orang-orang yang terkait dalam salat bersama itu.

Dengan canda dan tawa gembira, para pesanjo akan bersalam-salaman, dan kepada yang lebih tua, mereka mencium tangan. “Inilah hebatnya tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu,” ujar Idham.

Sementara itu, dalam kunjungan ke istana Sultan Fawaz Prabu Diraja SMB IV SH MKn, tradisi sanjo-sanjoan itu dilakukan dengan hikmat. Penasihat FPB Sumsel H Yunani Abuhasan, mengatakan tradisi ini sangat berkaitan dengan ajaran Islam. Sebab, kata Yunani, Islam mengajarkan untuk saling menguatkan tali silaturahim antarsesama.

“Secara filosofi, tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu merupakan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW yang mengajarkan cara hidup yang saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya,” ujar Yunani.

Artinya, dalam kebersamaan yang dijalin, dapat saling membantu ketika bertamu ke tempat saudaranya yang dalam keadaan tidak mampu. “Inilah konsep kehidupan di dalam Islam yang lebih mengutamakan kebersamaan. Dari cara salat berjamaah, serta saling kunjung ketika ada teman atau keluarga yang sakit. Ini kita lakukan sesuai tuntunan Rasulullah,” kata Yunani.

Dalil-dalil kebersamaan itulah yang tercermin ke dalam sikap sosial cara bertamu ke pihak kekuarga dan para sahabat. Format sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu, katanya, dirintis dari nilai-nilai rasa memiliki yang ada di dalam diri kita. Karena itu, ketika konsepnya diaplikasi ke masyarakat, nilai kebersamaan dan saling menghargai antarsesama, dapat tercermin dalam konsep bertamu seperti itu. “Saya sangat mendukung konsep sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu,” ujar Yunani.

Terkait apa yang dikatakan H Yunani Hasan tersebut, penasihat FPB Sumsel lainnya, Kms Sofyan Abdullah, mengatakan konsep bertamu dengan cara sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu memang mempertimbangkan nilai rasa dan kemanusiaan.

“Rasulullah SAW mengajarkan kita agar memahami apa yang dirasakan orang lain di dalam cerminan hidup bersama. Apalagi ketika bertamu, kita melihat adanya warga yang tak mampu, tentu hati kita akan terpanggil untuk memberikan bantuan sesuai kapasitas yang ada di dalam diri kita,” ujar Sofyan.

Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, kata Sofyan, Islam memunculkan watak kebersamaan yang saling membantu. Maka timbullah tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an yang begitu semarak dan mengembirakan suasana hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah.

Sementara itu, penasihat FPB Sumsel lainnya, Ahmad Fauzi, mengatakan tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-_umpak’an itu merupakan tradisi lama yang harus dibangkitkan kembali.

“Kita jangan kehilangan tradisi wong Plembang lamo yang sekarang sudah jarang dilakukan anak-anak muda saat ini,”katanya.

“Baik dilihat dan dirasakan secara filosofi keagamaan, tradisi ini sangat hebat kita lakukan. Selain bisa memperat kebersamaan, nilai kebaikannya dapat saling membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita yang hidupnya susah,” kata Fauzi.

Tradisi sanjo-sanjoan dan umpak-umpak’an itu sudah jarang dilakukan meski masih ada di beberapa kampung yang melaksanakannya. Namun tidak semua wilayah di Palembang ini yang melakukannya. “Kalau saya menanyakan ke anak-anak, tahukah umpak-umpak’an itu apa, mereka tidak mengetahuinya. Makanya saya setuju jika pengurus Forum Palembang Bangkit memasyarkatkan kembali tradisi sanjo-sanjoan dan kegiatan umpak-umpak’an tersebut,” ujar Ahmad Fauzi menutup pembicaraan. (*)

Berita Terkait

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar
Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung
Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal
Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang
SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award
Fariz RM Berbagi Pengetahuan Aransemen Musik dengan Pelajar SMA-SMK se-Sumsel
Festival Jazz Suara Musi 2024 Guncang Palembang
SBS-Adinata Project Gelar Musik dan Lagu Nostalgia

Berita Terkait

Selasa, 11 Maret 2025 - 16:21 WIB

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar

Senin, 17 Februari 2025 - 18:29 WIB

Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung

Jumat, 10 Januari 2025 - 13:50 WIB

Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal

Kamis, 26 Desember 2024 - 10:45 WIB

Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang

Minggu, 8 Desember 2024 - 09:44 WIB

SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award

Berita Terbaru