Epidemi corona virus disease atau vicod-19, tampaknya sangat membahayakan. Karena penyebaran dan daya tularnya begitu menakut.
Karena mendengar dan menyaksikan bahayanya virus covid-19, wajar andaikan muncul beragam pendapat dan anjuran agar di suatu negara melakukan kebijakan lockdown terhadap warga dan para pendatang.
Lockdown atau mengunci ke luar masuknya merupakan kebiajakan pemerintah untuk mempersempit ruang gerak penyebaran covid-19.
Ini berarti masyarakat tengah dikarantina dalam satu lokasi, kemudian dianjurkan untuk tidak saling berdekatan. Padahal sebagai komunitas yang saling membutuhkan antarsatu dengan lainnya adalah prinsip hidup manusia.
Bisa jadi, kebijakan dan anjuran ini diberlakukan karena muncul kekhawatiran akibat penyebaran penyakit virus covid-19 sangat cepat dengan jumlah korban terkait epidemi tidak normal.
Apalagi dari berbagai tempat di dunia ini, banyak warga yang tertular saat kasus ini kali pertama ditemukan di Wuhan, China.
Tampaknya Allah SWT sedang memberi mengajarkan secara alamiah ke pada manusia untuk tidak sombong dan angkuh.
Buktinya, dengan setitik virus covid-19 saja, dunia diguncang ketakutan. Di sana-sini mengeluarkan kebijakan agar rakyat dan masyarakat di satu negara melakukan lockdown.
Bahkan warga diminta untuk melakukan social distancing, untuk menjauhi segala bentuk perkumpulan serta menjaga jarak agar terhindar dari sergapan virus covid-19.
Dari berbagai analisis, suspeck yang telah menjangkiti tiap pasien membuktikan bahwa penyakit yang disebabkan cengkraman virus corona tampaknya memang mematikan.
Karena itu banyak persentase dari pasien yang terjangkit vicod-19 tewas akibat cengkraman penyakit itu. Akibat perkembangan kurang baik itulah akhirnya pemerintah tiap negara menginstruksikan untuk melaksanakan kebijakan isolasi agar perpindahan penyakit itu dari orang per orang dapat ditangkal sesuai harapan.
Meski belum menunjukkan hasilnya, namun kebijakan itu dinilai cukup efektif untuk meredam perkembangan dan penyebaran virus corona.
Dari sisi sosial kemasyarakatan, isolasi seperti sangat mengurung kreativitas kebersamaan. Sebab dalam kolerasi pergaulan, lockdown atau karantina terhadap si pasien, kurang menghadirkan prinsip kebersamaan.
Dampak bahayanya pandemi vicod-19 yang berkembang dan mematikan pasiennya memang mendirikan bulu kuduk. Dari 100% masyarakat dunia yang ada, sekitar 80% di antaranya benar-benar takut dijangkiti virus corona.
Tradisi Agama
Dalam tradisi masyarakat Melayu (kebetulan sebagian besar beragama Islam), kebiasan bersilaturahim itu protes dengan kebijakan lockdown.
Sebab dalam ajaran agama tsamawi, kontaks pergaulan yang dianjurkan mengajarkan nilai-nilai pergaulan yang saling mernghargai antarsatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Sebab Islam mengajarkan, apabila umatnya ingin awet muda dan memperoleh keberkahan rezeki, banyak-banyaklah melakukan silaturahim. Ini anjuran sehat yang dapat menjalin kekuatan spiritual.
Namun fakta adanya anjuran pemerintah melaksanakan work from home (WFH), sangat berlainan dengan anjuran bersilaturahim.
Tapi apabila kita lihat dari sisi positifnya, anjuran dan kebijakan mana yang harus lebih didahulukan, tinggal melihat situasinya saja.
Sebab anjuran pemerintah agar melakukan lockdown dalam pergaulan masyarakat internasional, tak lebih dari antisipasi agar virus corona tidak menyebar dan menjangkiti kesehatan masyarakat kita.
Namun yang perlu kita ingat, setiap Allah SWT menciptakan jenis penyakit tentu akan ada obatnya. Sang Pencipta tak mungkin menciptakan virus penyakit tidak ada obatnya.
Sedangkan salat secara berjamaah yang wajib dan harus dilakukan itu, harus tetap digelar. Bila perlu buka pintu masjid lebar-lebar bagi jemaah yang akan menunaikan perintah-Nya.
Bila perlu ajak umat Islam melakukan zikir bersama. Sebab setiap umat dianjurkan untuk takut ke pada Allah SWT, bukan takut dengan ciptannya berupa covid-19 atau takut ke pada manusia.
Jika di dalam diri kita sudah terjangkit virus ketakutan terhadap covid-19, berarti kota telah menanamkan penyakit syirik yang membahayakan iman kita. (*)
Tirta Bening, 20 Maret 2020




![DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0024_copy_1250x657-225x129.jpg)


![Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia [Taipei Economic and Trade Office/TETO]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0022_copy_394x300-225x129.jpg)


![DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0024_copy_1250x657-129x85.jpg)


![Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia [Taipei Economic and Trade Office/TETO]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0022_copy_394x300-129x85.jpg)



![Polda Sumatera Selatan [Polda Sumsel] melalui Biro SDM menunjukkan peran strategisnya dalam reformasi birokrasi daerah dengan memfasilitasi pelaksanaan Assessment Center untuk seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi [JPT] Pratama Pemerintah Kota Prabumulih.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260415-WA0033_copy_623x331-360x200.jpg)

