banner 970x250
banner 970x250
banner 970x250

1 Jam Bersama Dirintelkam Polda Sumsel: Hapus Paham Radikalisme di Kalangan Generasi Milenial

  • Bagikan
1 Jam Bersama Dirintelkam Polda Sumsel: Hapus Paham Radikalisme di Kalangan Generasi Milenial
1 Jam Bersama Dirintelkam Polda Sumsel: Hapus Paham Radikalisme di Kalangan Generasi Milenial
banner 468x60

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — DirIntelkam Polda Sumsel Kombes Pol Ratno Kuncoro SIK MSi menjadi Narasumber di stasiun Pal TV Palembang.

Acara yang mengusung tema “Menghapus Paham Radikalisme di Kalangan Generasi Milenial” bertempat di Panhead Cafe dan Resto, jalan KH Ahmad Dahlan nomor 45 Palembang.

Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Pol Ratno Kuncoro SIK MSi didampingi H Mgs Syaiful Fadli selaku Anggota DPRD Provinsi Sumsel dan Tokoh Pemuda.

Ratno Kuncoro menyampaikan kenapa mengenai terorisme, radikalisme dan intoleransi menjadi informasi yang trend saat ini, tidak terlepas kaitannya dengan kasus yang terjadi baru-baru ini yaitu pada 24 Maret 2021 yang lalu sepasang suami istri melakukan bom Gereja Katedral di Makassar dan 4 hari berselang terjadi kasus penyerangan oleh wanita milenial di Mabes Polri. “Setelah diteliti oleh Densus 88 dan BNPT diketahui mereka telah terpapar paham Radikal,” ungkapnya.

Paham Radikal adalah paham dimana merasa perlu ada perubahan baik secara sosial, ekonomi dan politik secara drastis dan tak jarang menggunakan cara-cara kekerasan.

“Munculnya radikalisme tidak terjadi secara serta-merta namun dimulai dari adanya intoleransi yaitu sikap yang menyatakan diri paling benar dan kelompok lain salah, yang bila tidak diatasi akan berkembang menjadi radikalisme dan bila disertakan dengan kekerasan menjadi terorisme,” ucap Ratno yang pernah menjabat sebagai Kasat Intelkam Polrestabes Palembang.

Dari hasil monitoring Densus 88 yang di back up oleh intelijen seluruh Indonesia, sudah banyak kasus yang diungkap dan ratusan/ribuan orang telah ditangkap dalam meredam kasus teror namanya “Preemtife Stright”. Dan jaringan terorisme telah diketahui diantaranya JAD dan JAT yang berafiliasi dengan ISIS dan bahkan banyak warga kita berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan jihadis asing melawan pemerintahan Irak yang sah.

“Artinya kelompok ini tidak hanya berdiam diri, mereka melakukan perekrutan dan menyebarkan paham Radikal ke masyarakat, mereka merekrut pengantin melakukan aksi teror dengan target kepolisian ataupun tempat dengan mobilitas tinggi,” ujarnya.

Di Sumsel telah beberapa kali terjadi kasus penangkapan dan beberapa napi teror di lapas Sumsel yang masih menjalani hukuman, untuk itu kepolisian membutuhkan dukungan dari masyarakat dan seluruh elemen lain dalam mendeteksi awal muka terorisme yaitu radikalisme. “Radikalisme tidak suka agama lain, tidak suka dipimpin kelompok lain yang tidak menutup kemungkinan masih terjadi di wilayah Sumsel,” jelasnya.

Hasil penelitian terhadap salah satu laptop hasil sitaan kelompok teroris diketahui gerakannya begitu masif dan tidak hanya terjadi di kalangan yang fanatik dalam beragama bahkan menargetkan mahasiswa dan ASN termasuk TNI/Polri. “Dari situ diketahui bahwa kelompok ini memiliki pola untuk merubah mindset seseorang untuk menjadi radikal.
Kolaborasi dengan Densus 88 yang sudah diakui dunia, saat ini situasi masih terbilang kondusif, kita juga menggandeng beberapa tokoh agama,” tutur Kombes Ratno seraya mengakhiri.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap melaksanakan Protokol Kesehatan COVID-19. (Abror Vandozer/rel)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *