Virus Corona dan Penyakit Syirik

- Jurnalis

Jumat, 20 Maret 2020 - 18:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi.net

ilustrasi.net

SAYA jadi heran ketika membaca berbagai komentar terkait merebaknya virus corona (covid-19). Terutama menyangkut adanya larangan salat berjamaah di masjid-masjid dari sebagian orang.

Epidemi corona virus disease atau vicod-19, tampaknya sangat membahayakan. Karena penyebaran dan daya tularnya begitu menakut.

Karena mendengar dan menyaksikan bahayanya virus covid-19, wajar andaikan muncul beragam pendapat dan anjuran agar di suatu negara melakukan kebijakan lockdown terhadap warga dan para pendatang.

Lockdown atau mengunci ke luar masuknya merupakan kebiajakan pemerintah untuk mempersempit ruang gerak penyebaran covid-19.

Ini berarti masyarakat tengah dikarantina dalam satu lokasi, kemudian dianjurkan untuk tidak saling berdekatan. Padahal sebagai komunitas yang saling membutuhkan antarsatu dengan lainnya adalah prinsip hidup manusia.

Bisa jadi, kebijakan dan anjuran ini diberlakukan karena muncul kekhawatiran akibat penyebaran penyakit virus covid-19 sangat cepat dengan jumlah korban terkait epidemi tidak normal.

Apalagi dari berbagai tempat di dunia ini, banyak warga yang tertular saat kasus ini kali pertama ditemukan di Wuhan, China.

Tampaknya Allah SWT sedang memberi mengajarkan secara alamiah ke pada manusia untuk tidak sombong dan angkuh.

Buktinya, dengan setitik virus covid-19 saja, dunia diguncang ketakutan. Di sana-sini mengeluarkan kebijakan agar rakyat dan masyarakat di satu negara melakukan lockdown.

Baca Juga:  Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban

Bahkan warga diminta untuk melakukan social distancing, untuk menjauhi segala bentuk perkumpulan serta menjaga jarak agar terhindar dari sergapan virus covid-19.

Dari berbagai analisis, suspeck yang telah menjangkiti tiap pasien membuktikan bahwa penyakit yang disebabkan cengkraman virus corona tampaknya memang mematikan.

Karena itu banyak persentase dari pasien yang terjangkit vicod-19 tewas akibat cengkraman penyakit itu. Akibat perkembangan kurang baik itulah akhirnya pemerintah tiap negara menginstruksikan untuk melaksanakan kebijakan isolasi agar perpindahan penyakit itu dari orang per orang dapat ditangkal sesuai harapan.

Meski belum menunjukkan hasilnya, namun kebijakan itu dinilai cukup efektif untuk meredam perkembangan dan penyebaran virus corona.

Dari sisi sosial kemasyarakatan, isolasi seperti sangat mengurung kreativitas kebersamaan. Sebab dalam kolerasi pergaulan, lockdown atau karantina terhadap si pasien, kurang menghadirkan prinsip kebersamaan.

Dampak bahayanya pandemi vicod-19 yang berkembang dan mematikan pasiennya memang mendirikan bulu kuduk. Dari 100% masyarakat dunia yang ada, sekitar 80% di antaranya benar-benar takut dijangkiti virus corona.

Tradisi Agama
Dalam tradisi masyarakat Melayu (kebetulan sebagian besar beragama Islam), kebiasan bersilaturahim itu protes dengan kebijakan lockdown.

Sebab dalam ajaran agama tsamawi, kontaks pergaulan yang dianjurkan mengajarkan nilai-nilai pergaulan yang saling mernghargai antarsatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Baca Juga:  Pancasila di Persimpangan Jalan

Sebab Islam mengajarkan, apabila umatnya ingin awet muda dan memperoleh keberkahan rezeki, banyak-banyaklah melakukan silaturahim. Ini anjuran sehat yang dapat menjalin kekuatan spiritual.

Namun fakta adanya anjuran pemerintah melaksanakan work from home (WFH), sangat berlainan dengan anjuran bersilaturahim.

Tapi apabila kita lihat dari sisi positifnya, anjuran dan kebijakan mana yang harus lebih didahulukan, tinggal melihat situasinya saja.

Sebab anjuran pemerintah agar melakukan lockdown dalam pergaulan masyarakat internasional, tak lebih dari antisipasi agar virus corona tidak menyebar dan menjangkiti kesehatan masyarakat kita.

Namun yang perlu kita ingat, setiap Allah SWT menciptakan jenis penyakit tentu akan ada obatnya. Sang Pencipta tak mungkin menciptakan virus penyakit tidak ada obatnya.

Sedangkan salat secara berjamaah yang wajib dan harus dilakukan itu, harus tetap digelar. Bila perlu buka pintu masjid lebar-lebar bagi jemaah yang akan menunaikan perintah-Nya.

Bila perlu ajak umat Islam melakukan zikir bersama. Sebab setiap umat dianjurkan untuk takut ke pada Allah SWT, bukan takut dengan ciptannya berupa covid-19 atau takut ke pada manusia.

Jika di dalam diri kita sudah terjangkit virus ketakutan terhadap covid-19, berarti kota telah menanamkan penyakit syirik yang membahayakan iman kita. (*)

Tirta Bening, 20 Maret 2020

Berita Terkait

Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan
Harga BBM Nonsubsidi Naik Senyap, Publik Ditinggal di Belakang Informasi

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:10 WIB

Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Senin, 11 Mei 2026 - 07:47 WIB

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:31 WIB

Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban

Berita Terbaru

Penandatangan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PLN yang diwakili Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UID Jawa Barat, Martindar Jalu Respati (kedua dari kanan) mewakili General Manager PLN UID Jabar dengan BDx Indonesia yang diwakili CEO BDx Indonesia, Agus Hartono Wijaya (ketiga dari kiri) disaksikan oleh Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto (ketiga dari kanan) didampingi EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati (kedua dari kiri), EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Joni [kanan], dan EVP Manajemen Konstruksi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, Widyo Anggoro Putro [kiri] di Kantor PLN Pusat, Selasa [19/5]

Ekobis

PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Selasa, 2 Jun 2026 - 14:28 WIB

Gedung Pancasila [Gambar Ist]

Headlines

Pancasila di Persimpangan Jalan

Senin, 1 Jun 2026 - 14:49 WIB