Prahara di Pulau Maspari: Lukisan Senja

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 11: Prahara di Pulau Maspari: Lukisan Senja

BAB 11: Prahara di Pulau Maspari: Lukisan Senja

Tetapi, adanya pusaran air ini sangat menguntungkan jika kita mengetahui di mana kita harus melepaskan jangkar, dan kapan tiga arus laut ini berubah.” “Perubahan arus selat dipengaruhi pasang surutnya air laut. Malam ini adalah malam bulan purnama. Jadi, air laut pasti akan pasang. Pusaran air itu akan menyeret kita ke dalam putaran arus, sehingga kapal-kapal kita bisa saling bertabrakan.”

Para perwira di depan meja mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan pimpinan tertinggi mereka. Laksamana Cheng Ho menunjuk kembali titik yang telah ditandai oleh perwira madyanya. “Atur jarak masing-masing kapal dua ratus meter jaraknya. Kenapa? agar saat bermanuver nanti, kapal-kapal kita tidak saling berbenturan,” “Kemudian, pastikan pasukan pemanah berada dalam jarak tembak untuk mengamankan para prajurit yang berada di dalam kapal umpan.”

Laksamana Cheng Ho menerangkan strategi sembari menggerakkan kedua tangannya di atas meja. “Jika dilihat dari perubahan angin dan suhu, malam ini akan terjadi badai. Untuk itu, kalian harus tetap jaga posisi kapal agar tidak terseret ombak besar dan perubahan arus.” “Siap Laksamana!” Seluruh perwira yang menghadiri rapat penting di ruangan itu menjawab serentak. “Setiap prajurit di garis depan harus waspada.” Laksamana Cheng Ho memandangi satu persatu perwiranya.

Baca Juga:  Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

“Berdasarkan laporan yang aku terima dari Shi Jin Qing, ada lima ribu perompak dengan enam puluh kapal cepat yang siap merampok kapal harta muhibah milik kita.” “Apa yang membuat Laksamana yakin bahwa Chen Zhuyi akan menyerang kita dengan kekuatan penuh?” Pertanyaan dari Wang Ji Hong membuat Laksamana Cheng Ho tersenyum kecil. “Mata adalah jendela hati, Ji Hong.

Dari sinar matanya aku bisa melihat ada kemarahan yang membara. Lagipula, Ia sudah terjepit situasi. Di Tiongkok dia akan dihukum karena kesalahan sebelumnya, sedangkan kekuasaannya di negeri ini semakin pupus seiring pergantian kekuasasan dari Sriwijaya ke Majapahit. Tidak ada jalan lain kecuali menyatakan perang kepada siapapun yang menghalangi niatnya.”

Laksamana Cheng Ho menjawab dengan yakin. Tatapannya ke arah Wang Ji Hong begitu ramah dan sangat bersahaja. “Baik Laksamana, hamba mengerti.” Rapat para perwira sore hari itu akhirnya ditutup dengan keyakinan yang tinggi di dada masing-masing. Terkhusus sang Laksamana yang masih berdiri di depan meja. Sorot matanya tajam mengamati formasi dan miniatur kapal yang menjadi umpan para perompak kejam di Selat Malaka di malam ini.

Baca Juga:  Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Perjalanan yang dilalui oleh sang Laksamana bukanlah ekspedisi biasa. Ia mendapat perintah khusus dari Kaisar Yong Le untuk memburu para buronan kekaisaran yang lari dari Tiongkok serta menumpas gerombolan perompak yang mengganggu hubungan perdagangan dengan negara-negara sahabat. Selat Malaka adalah salahsatu jalur perdagangan yang cukup penting bagi para pedagang Tiongkok.

Untuk itu, menumpas gerombolan perompak Chen Zhuyi merupakan tugas utama selain menjalin hubungan kekerabatan dengan bangsa-bangsa lain yang dilewati armada kapalnya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi seluruh prajurit yang dipimpinnya. Meski ia telah mencoba menghindari agar tidak terjadi pertumpahan darah antara armada laut dan gerombolan perompak, sang Laksamana tidak ingin gegabah dengan tabiat dan kebiasaan nekat Chen Zhuyi.

Laksamana Cheng Ho yakin, komplotan perompak sisa-sisa laskar Sriwijaya itu akan menyerang mereka secara tiba-tiba. Untuk itu, dirinya sudah menyiapkan strategi pertempuran jarak jauh dan jarak dekat agar misi yang dibawanya berjalan dengan sukses. Membawa hidup-hidup pimpinan perompak laut ke Tiongkok untuk menjalani hukumannya di hadapan Kaisar. Suara genderang di buritan kapal telah terdengar. Kapal tiang sembilan yang ditumpanginya perlahan bergerak. ***

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru

Terpidana kasus kekerasan seksual, Fahrul Rozi alias Balung bin Azim [Alm] berhasil diringkus Tim Tangkap Buron [Tabur] Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Jumat 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.15 WIB.

Headlines

Pelarian Terpidana Kekerasan Seksual di Sekayu Kandas!

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:56 WIB

Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.

Headlines

SMSI Sumsel Tancap Gas Persiapkan Muswil 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:02 WIB