banner 2560x598

banner 2560x598

Koestolo: Saya Sangat Cinta Tradisi Jawa

  • Bagikan
lukisan berlatar belakang rakyat kelas bawah bertajuk "Biyung". Lukisan ini berukuran 120X100 sentimeter. Dilukis oleh Koestolo dengan cat minyak yang dilukisnya setahun lalu (tahun 2020).
lukisan berlatar belakang rakyat kelas bawah bertajuk "Biyung". Lukisan ini berukuran 120X100 sentimeter. Dilukis oleh Koestolo dengan cat minyak yang dilukisnya setahun lalu (tahun 2020).
banner 468x60

KECINTAAN pelukis ternama asal Yogyakarta, DN Koestolo pada tradisi daerahnya, memang luar biasa. Dalam pameran tunggal di Museum Sonobudoyo, Kraton Yogyakarta dari 29-31 Agustus 2021, ia banyak menyajikan latar belakang tradisi kehidupan bangsawan Yogyakarta.

Sebagai pelukis senior yang berpengalaman, Koestolo menyajikan corak lukisan realis yang sangat kental merangkum tradisi Jawa.

“Tradisi merupakan bentuk jati diri suatu bangsa. Karena itu saya mencoba memahami kehidupan diri sendiri melalui tradisi yang telah membuat saya menjadi seperti sekarang,” ujar DN Koestolo kepada media ini, seusai pembukaan pameran lukisannya, Senin (30/8/2021).

Lukisan bertajuk “Masyarakat Bali Kuna I”

Karena itu, kata Koestolo, 85 persen lukisannya ia tata dengan kaitan tradisi Jawa. Sebab sebagai “anak Jawa”, ia mencoba mengangkat nilai-nilai kebiasaan orang Jawa.

Tak hanya mengusung tarap hidup masyarakat bangsawan kaya, tapi Koestolo berani mengangkat nilai kemiskinan rakyat kelas bawah.

Ada lukisan berlatar belakang rakyat kelas bawah bertajuk “Biyung”. Lukisan ini berukuran 120X100 sentimeter. Dilukis oleh Koestolo dengan cat minyak yang dilukisnya setahun lalu (tahun 2020).

“Saya sangat menyukai lukisan ini. Berlatar belakang seorang ibu dengan dua anaknya. Dari figur, latar belakang lukisan, serta nilai etnik sangat dekat dengan jiwa saya. Karena itu saya sangat “menyukai” lukisan Biyung,” ujar Koestolo, tersenyum.

Menurut pelikis senior ini, dalam pameran tunggal selama empat hari itu, Koestolo menampilkan sejumlah lukisan fenomenal.

Seperti lukisan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan istrinya Kanjeng Ratu Hemas. Lukisan Sultan Yogyakarta ini ia gambar di atas kanvas berukuran 100X50 sentimeter tahun 2018 lalu. “Saya tawarkan senilai Rp 25 juta, Mas,” katanya.

Selain lukisan itu, ada lukisan pelukis Raden Saleh Bustaman yang dirangkai secara eatetik di tahun 2018, kemudian lukisan ‘Wanita Bangsawan” di atas kanvas berukuran 100X120 sentimeter. Lukisan ini diselesaikan tahun 2021.

Koestolo merupakan pelukis kreatif. Ia mampu berkarya dalam dua hingga tingga lukisan di tahun yang sama. Misalnya karya lukisnya bertajuk “Masyarakat Bali Kuna I” dan lukisan Wanita Bangsawan. Kedua lukisan ini Koestolo selesaikan di tahun 2020.

Bahkan lukisan Sri Sultan Hamemgku Buwono X dan Kanjeng Ratu Hemas serta lukisan Raden Saleh ia selesaikan di tahun 2018. “Ini saya lalukan untuk memancing minat para pelukis muda Jogja,’ ujar Koestolo.

Pameran lukisan itu termasuk sajian seni rupa (lukis) bernilai eatetika tinggi. Ada 16 karya lukisan Koestolo terpilih dalam pameran tersebut.

Namun ia mengaku tak dapat berbuat banyak apabila tak dibantu rekannya sesama pelukis Yogyakarta, Chamit Arang.

“Kerja Mas Chamit itu patut dijempoli. Dia begitu cekatan. Tak banyak bicara tapi banyak kerja,” katanya.

Menurut Koestolo, 16 lukisan yang dipamerkan itu didisplay oleh Chamit Arang. “Saya tak mampu berbuat banyak apabila tak dibantu Dhimas Chamit Arang,’ ujar Koestolo.

Pameran lukisan itu awalnya disertakan dengan diajak produser Boy Rifai menonton film berdedikasi “Kehidupan” di Watulumbung. (*)

Laporan Anto Narasoma

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *