Ketika Pergelaran itu Tiba ke Pokok Pikiran Penonton

- Jurnalis

Sabtu, 5 Oktober 2019 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pergelaran

Pergelaran

TRADISI masyarakat dan seni dalam berbagai cabang merupakan jatidiri budaya yang sangat mengakar di dalam kehidupan bangsa.

Dengan kekuatan tradisi itulah bangsa Indonesia banyak memberikan kontribusi kebudayaan bagi masyarakat dunia.

Maka dengan dasar kemampuan mendasar yang ada di dalam dirinya, para seniman mengekspresikan lenggok dan gayanya saat berada di pentas pertunjukan.

Seperti kata penyair Putu Arya Tirtawirya, panggung merupakan ruang untuk mengekspresikan segala kemampuan yang dimiliki seniman.

Panggunglah tempat berkolaborasinya dramaturgi yang memuat penampilan musik, tari, drama, baca puisi, lukis (ilustrasi panggung) serta seni-seni lainnya.

Terkait masalah itu, Willy Surendra (WS Rendra) berpendapat, seorang seniman pentas akan selalu memberikan tampilan yang menghibur sepanjang di dalam dirinya muncul “kesombongan estetika” saat tampil sebagai pemain.

“Kesombongan estetika” adalah emosi jiwa yang membakar segala kemampuan artistik di dalam dirinya.

Karena itu ketika seniman tampil sebagai penghibur di panggung, ia akan menguras segala “kesombongan estetik”, agar tampilannya mampu memberikan tawaran maksimal.

Sebagai aktor, sebelum tampil di pentas membawakan misi hiburan, ia telah melewati masa latihan panjang untuk mengolah diri.

Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Saat latihan, ia mencoba merenungi diri dan menyatukan diri ke dalam alam sekitarnya. Saat itu, ia akan mendengar detak jantungnya, suara cericit burung di kejauhan sana, desau angin, serta mencium aroma sekitar.

Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan perenungan diri atau bermeditasi di alam terbuka?

Di sinilah kunci untuk menajamkan insting dirinya ketika dipercaya sutradara untuk memerankan lakon tertentu.

Bahkan dengan cara menyatukan diri ke alam sekitar, penari akan mampu melenturkan diri saat ia berlenggak-lenggok di panggung.

Seni tak sekadar mengungkap keindahan. Di dalamnya terdapat filosofi terkait nilai kemanusiaan dan tugas perannya di panggung.

Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Ketika pelakon tampil sebagai penghibur, ia begitu paham untuk menggali nilai seni yang memuat estetika sebagai penjabaran keindahan dan penyampaian isi (sense of art) pertunjukkan.

Bermeditasi dan merenungi diri, sangat penting untuk membedakan siapa dirinya, apa tugasnya dan apa yang akan dibawakan ketika ia tampil di pentas hiburan.

Jika pemusik mampu memberikan kekayaan ilustrasi nada, maka aktor berani berekspresi dengan nilai keindahan permainannya di areal stage of act.

Memang, keindahan tampilan seniman muncul dari pikiran, rasa dan nalurinya sebagai pemain. Pikiran, rasa dan naluri akan membangun emosi sehingga penampilannya di panggung itu mencapai titik estetika maksimal atau tidak. Karena peran pikiran, rasa dan naluri itulah yang membangun struktur permainan (pola tayang) kita akan tiba ke pokok pikiran penonton. (*)

 

Tirta Bening, 5 Oktober 2019

Berita Terkait

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA
Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:47 WIB

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:11 WIB

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Kamis, 16 April 2026 - 16:02 WIB

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Berita Terbaru

Oleh: Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan]

Opini

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Kamis, 10 Sep 2026 - 12:28 WIB