BELUM baiknya ekonomi rakyat, justru pemerintah mewacanakan kenaikan gas elpiji 3 kilogram. Jika ini terjadi maka rakyat kecil akan menjerit, karena harga gas melon itu akan membumbung menjadi Rp 35 ribu per tabung.
WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Pengamat Sosial Poltik dan Kemasyarakatan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Dr Tarech Rasyid MSi, mengatakan pemerintah harus mempertimbangkan kembali wacana kenaikan itu.
“Kondisi ekonomi rakyat yang masih belum membaik ini, harusnya kenaikan itu dipertimbangkan kembali. Karena dampaknya akan memburuk dalam kondisi seperti sekarang,” ujar Tarech Rasyid, saat dimintai komentarnya, Senin (20/1/2020).
Belum tiba pada sasaran wacana saja, rakyat sudah resah. Apalagi jika gas elpiji 3 kilogram itu benar-benar jadi dinaikkan harganya, Tarech tak bisa membayangkannya.
Menurut dia, wacana pemerintah untuk mencabut harga subsidi dari Rp 20 ribu menjadi Rp 35 ribu per tabung, bisa memunculkan keresahan rakyat.
Karena itu Tarech meminta agar pemerintah mempertimbangkan kembali wacana yang tak berpihak ke rakyat tersebut. Karena setelah minyak tanah dihapus, sekarang subdisi gas elpiji tiga kilogram pula yang dinaikkan. “Kapan nikmat kemerdekaan ini dinikmati rakyat kecil?” kata Tarech seperti bertanya ke dirinya sendiri.
Menurut aktifis kemasyarakatan senior itu, pemerintah harus menperbaiki alur distribusiannya, agar masyarakat kaya tidak ikut menikmati subsidi gas melon tersebut.
Bagi masyarakat kaya, kata Tarech, kenaikan gas elpiji tiga kilogram sebesar Rp 15 ribu (Rp 5 ribu) tidak ada masalah.
“Tapi kalau untuk rakyat pedagang gorengan, pencari barang-barang bekas serta pekerja bangunan, kenaikan itu cukup berat. Kalau mengukur kemampuan kita, kenaikan itu tidak ada persoalan. Yang kita pikirkan adakah nasib rakyat kecil,” katanya.
Harga dasar (bersubaidi) saja rakyat sudah keberatan, apalagi subsidi itu dicabut, maka rakyat akan menjerit. Terkait masalah itu Tarech meminta pemerintah agar mengurungkan niat untuk mencabut subsidi gas elpiji tiga kilogram tersebut.
Sementara itu, ketika Wideazone.com dan ZoomPost mewawancarai pedagang gorengan di Jalan Radial, Herman (30), mengatakan berat jika harga elpiji melon dinaikkan. “Harga dasar saat ini saja berat, apalagi subsidi untuk rakyat itu dicabut sehingga harganya mencapai Rp 35 ribu per tabung, kami pasti menangis,” kata Herman.
Sebagai pedagang kecil, Herman hanya berjualan pisang, tempe goreng, tahu goreng serta yang lainnya. Apabila gas melon itu dinaikkan menjadi Rp 35 ribu, seluruh rakyat kecil akan babak belur. (*)
Laporan Miska/Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-225x129.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-225x129.jpg)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-129x85.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-129x85.jpg)




![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)


