banner 2560x598

banner 2560x598

Colosseum, Menara Pisa dan Kota Venesia Wisata Menarik di Italia

  • Bagikan
Colesseum
Colesseum
banner 468x60

WIDEAZONE.COM,  ITALIA – MELANCONG ke beberapa negara di Eropa Barat, terutama ke Italia,  tak hanya mendapatkan pengalaman luar biasa bagi kita, tapi juga memberikan pelajaran yang mencerdaskan dalam hal peradaban,  perkembangan politik, pemerintahan, ekonomi serta pariwisata.  Lantas, pengalaman apa yang didapat untuk mengetahui kemajuan  peradaban negeri orang?

Anto Narasoma, Italia 

Selama 13 hari, dari 22 September hingga 4 Oktober 2014 lalu, saya berkesempatan melancong ke Italia, Vatikan, Switzerland, Jerman, Belanda, Belgia dan Prancis.      Hari pertama di Italia, jarum arloji menunjuk ke angka 9.00 waktu setempat. Saya dipandu tourist guide dari Bayu Buana Tour, Nurdin Supena, menelusuri jalan-jalan sempit yang dilewati dua lajur kendaraan. Selain bersih, badan jalan terbikin dari susunan conblock batu alam yang disemir aspal tipis itu terlihat indah tanpa cacat.

Yang membuat kami terkesima selama menelusuri jalan ke kawasan bersejarah Colosseum, fakta sejarah masa lampau itu masih terlihat kokoh. Jika selama ini Colosseum hanya didengar lewat cerita dari mulut ke mulut, buku-buku sejarah dunia atau di internet,  ternyata hari Senin, 22 September 2014 lalu itu, merupakan momen paling bernilai di sepanjang sejarah hidup saya setelah melihat langsung bangunan kuno yang terjadi kerusakan kecil di beberapa sisinya.

Colosseum berbentuk tapal kuda itu merupakan bangunan megah yang dibangun di tengah-tengah Kota Roma pada masa Kaisar Vespasian di tahun 70-82 Masehi. Bentuk bangunan berupa gedung pertunjukan kolosal  yang sering disebut sebagai colossal amphiteater. Dan, gedung bergaya roman kuno itu diarsiteki Chikkipa.

Menurut tourist guide Nurdin Supena, Colosseum memiliki 50.000 tempat duduk yang disediakan bagi pengunjung untuk menonton pertarungan maut para gladiator (gladiator contest) atau pertunjukkan public spectacles lainnya.

Colosseum didirikan di dekat istana Domus Aurea, dibangun oleh Kaisar Nero setelah kebakaran besar meluluhlantakkan Kota Roma. “Menurut ahli sejarah Dio Cassius, dalam 100 hari peresmian Coloseum tersebut, ada sekitar 9000 hewan buas yang sengaja dibunuh sebagai tumbal keperkasaan kaisar,” ucap Nurdin.

Sayangnya, saya tak terlalu lama berkunjung ke kawasan Coloseum. Sebab, waktu yang sangat sempit itu harus digunakan untuk melancong ke areal wisata sejarah  lainnya, Menara Pisa di Kota Pisa. Setelah mengabadikan suasana, akhirnya saya cabut dari tempat bersejarah itu.

Berkendaraan dengan bus wisata dari Kota Roma ke Pisa bisa ditempuh selama empat jam.  Dengan temperatur udara sekitar 19 derajat celcius, suasana perjalanan sangat menyenangkan.  Melalui jalan sempit yang mulus serta di kiri kanan jalan terdapat rumah-rumah penduduk bergaya kuno, kendaraan yang kami tumpangi melaju kencang.

Padahal sejumlah bus wisata, mobil box cargo berukuran raksasa, serta mobil-mobil pribadi saling berlintasan dengan jarak sempit, tapi kelancaran tetap terjaga. “Bounjorno (sejahtera buat semuanya). Hampir seluruh orang Eropa, terutama  orang Italia, selalu menjaga kedisplinan pribadi, sehingga mereka tetap tak berani melanggar aturan berlalulintas, meski di jalan-jalan yang dilalui tidak terdapat petugas polizia (polisi),” ujar sopir bus wisata D’Agustino Tour & Travel berkebangsaan Italia, Franco Spiezia, tersenyum ramah.

Jika diperhatikan, dispilin pribadi dan kerja keras inilah yang membuat perekonomian negeri mereka segera bangkit setelah dilanda krisis ekonomi Eropa dua tahun lalu.  Memang, tata nilai dari kedisplinan moral yang diterapkan bangsa Italia patut menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari  agar tumbuh sikap saling menghargai dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang.

“Disiplin itu sangat penting. Sebab, tanpa menumbuhkan kedisiplinan dalam diri tiap orang, maka semua program  yang dilakukan oleh bangsa ini akan menjadi porak-poranda. Apalagi sumber daya alam kami sangat terbatas. Selain anggur, sapi ternak dan cocoa, kami hanya memiliki alam yang menjadi komoditas komersial. Berkat disiplin tinggi dalam melaksanakan program kebangkitan ekonomi nasional, akhirnya Italia dapat terbebas dari cengkraman krisis dalam dua tahun terakhir,” urai Franco dalam bahasa Inggris berlogat Italia, kental.

Dari kaca jendela bus wisata yang kami tumpangi,  di kiri-kanan jalan terlihat rentetan bangunan kuno  permanen yang tetap dilestarikan bangsa Italia. Dari bangunan kantor pemerintahan, perkantoran swasta, pertokoan hingga rumah-rumah penduduk dalam bentuk apartemen, misalnya, menjadi panorama menarik, terutama dari detil ukiran di tiap dinding gedung yang terbuat dari batu pualam.

“Gedung dan perumahan yang ada di Italia umumnya dibiarkan tetap terkesan alami. Artinya, pemerintah Italia melarang penduduknya untuk mengecat dinding bangunan tempat tinggal mereka. Karena itu gedung-gedung permanen yang terbuat dari batu alam ini tetap mencerminkan warna aslinya, krem atau kecoklatan,”  tukas Nurdin.

Setelah memasuki kawasan wisata Menara Pisa, kami begitu terpana. Sebab, bangunan-bangunan megah abad pertengahan yang masih terjaga itu menyajikan panorama sejarah yang sangat memikat.  Dengan luas areal sekitar seribu hektare persegi, tampak gedung-gedung sejarah berupa kathedral (gereja agung) menjadi lokasi wisata spiritual bagi pelancong yang beragama Katholik.

COLOSEUM
COLOSEUM

Di Piazta Del Duomo (komplek Menara Pisa) terdapat gedung Kathedral Buschetto yang setiap saat dikunjungi sebagai tempat upacara kebaktian bagi umat Katholik. Selain itu terdapat juga sebuah gedung antik tempat pembaptisan bagi anak-anak Nasrani (pemandian) yang disebut Babtistry Duomo.

Menara Pisa merupakan menara lonceng yang terletak di belakang Kathedral Buschetto, dibangun pada Agustus 1173. Menara ini memiliki ketinggian  55,86 meter dengan 294 anak tangga yang memutar di dalamnya.  Berbobot mati 14.500 ton, dengan kelebaran dinding lantai bawah mencapai 4,09 meter dan 2, 48 meter lantai puncak, menara Pisa sempat dikhawatirkan akan ambruk.

Seperti diungkap Franco Spiezia sebelumnya, pariwisata merupakan komoditas komersial utama bagi negerinya, maka tak heran jika ratusan pelancong dari berbagai negara memadati kawasan wisata Menara Pisa setiap harinya. Dengan pelataran yang luas, para wisatawan dari berbagai belahan dunia menyempatkan diri untuk mengabadikan suasana dengan bidikan kamera. Dengan berbagai pose, mereka berfoto bersama sembari mengumbar kegembiraannya. Tak heran apabila nilai finansial yang masuk ke kas Negara Italia dapat menyejahterakan hidup rakyatnya.

Menara Pisa yang memiliki kemiringan sekitar 3,97 derajat, kata Nurdin, sempat ditutup untuk wisatawan. Sebab, tahun 1990 lalu, Pemerintah  Italia mengkhawatirkan kemiringan menara itu dapat membahayakan jiwa para pelancong, maka di tahun itu juga wisatawan tak diizinkan mendekati areal menara tersebut.

KOTA VANESIA
KOTA VANESIA

Setelah dideteksi para ahli  dan arsitek terkemuka dunia,  akhirnya kawasan menara Pisa dibuka kembali untuk umum pada 15 Desember 2001. Bahkan pemerintah Italia meyakini, bangun fisik Menara Pisa dapat bertahan hingga 300 tahun ke depan. “Sebagai bangunan ketiga dari gedung Babtistry Duomo dan Kathedral Buschetto, lapangan Menara Pisa disebut sebagai Compo Dei Muracoli (lapangan pelangi),” tukas Nurdin.

Berwisata di hari kedua, kami menyempatkan diri mengunjungi Venesia (Venice). Wuih, mata kami tak sempat berkedip. Sebab, panorama Kota Venesia yang menakjubkan itu seolah menenggelamkan kami ke alam khayal yang tak berbatas. Venesia dikenal masyarakat dunia sebagai kawasan ‘Sejuta Kanal’, terletak di atas 120 pulau yang setiap incinya tenggelam  di saat lautan es mencair. “Tenggelamnya Kota Venesia ini disebabkan pemanasan global,” kata Nurdin.

Dulu, katanya, sebelum tenggelam, puluhan kanal  yang ada di Venesia merupakan jalan-jalan umum yang bisa dilalui kendaraan. Namun setelah terjadi perubahan iklim,  jalan-jalan itu disapu air laut hingga menjadi kanal yang dimanfaatkan warga sebagai pelintasan gondola atau perahu wisata khas Italia.

Justru, dengan tenggelamnya jalan-jalan Kota Venesia menjadi puluhan kanal, ternyata  membawa berkah yang luar biasa. Selain alamnya dikenal indah bak kecantikan Ratu Adriatik (ratu Venesia), kanal-kanal itu dapat meraup puluhan ribu euro setiap harinya.

Melintasi kanal di bawah jembatan Bridge of Sighs (Jembatan Rintihan) dengan gondola terasa begitu romantis. Bahkan para pelancong yang ada di sana merasa belum pernah berkunjung ke Venesia jika tidak melayari kanal di atas gondola yang didampingi penyanyi seriosa. Sekali sewa gondola yang berisi enam penumpang itu dicharge senilai 80 Euro sekali perjalanan. Dan, jika ingin dihibur penyanyi seriosa sekaligus perangkat musiknya, penumpang harus menambah biaya sebesar 120 Euro. Jika dikurs dengan rupiah, ongkos naik gondola cukup menguras kantong. Satu Euro nilainya Rp 15 ribu. Bisa dibayangkan, berapa besar nilai charge naik gondola sekali perjalanan? (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *