Anwar Puta Bayu : Bentuk Suara dan Cara Memahami Kedalaman Bentuk Sajak

- Jurnalis

Minggu, 24 Februari 2019 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIDEAZONE.COM — TAK dapat dinafikkan, membaca puisi itu merupakan bagian dari dunia pementasan. Tak heran jika membaca puisi itu banyak yang mereferentasikannya sebagai bentuk pementasan teater atau penampilan lainnya sebagai stage act untuk hiburan. Benarkah demikian?

Penyair Anwar Putra Bayu, mengatakan, membaca puisi itu bentuk pementasan kesenian yang coraknya berbeda di atas pentas. Membaca puisi, selain harus memahami puisi yang akan dibacakan, artikulasi yang disampaikan ke audiens pun harus jelas dari kata per kata.Sebab, membaca puisi itu intinya harus menyampaikan pesan yang diungkap penulisnya (penyair).
“Karena itu banyak orang yang beranggapan bahwa membaca puisi itu harus mempunyai karakter bentukan sesuai dengan deklamator yang sudah ada. Misalnya penyair WS Rendra dan Sutarji Qalzuom Bahri,” ujar Bayu, kemarin (Sabtu, 23/2/2019)

Rendra, katanya, ketika membaca puisi penuh dengan daya pikat. Ketika ia naik ke panggung, sebelum membaca puisi orang sangat yakin bahwa tampilan yang akan disajikan ke audiens akan sangat berkualitas. Dari gaya, ciri khasnya serta prototipenya yang nyentrik (eksenterik), mampu memukau orang-orang yang menonton tampilannya di atas panggung.

Dari kali pertama ia tampil, pesonayang ditebar Rendra ketika di pentas, orang sangat yakin bahwa dia akan memberikan tontonan yang menarik. Dari sikap serta suara yang keras dan berat, memperlihatkan siapa WS Rendra sebenarnya ketika membacakan puisinya. Karena itu gaya dan corak tampilannya selalu ditiru para pembaca pemula.

Haruskah para pemula mengikuti gaya dan corak Rendra membaca puisi? Boleh iya dan boleh juga tidak. Sebab, jika kita mengikuti pola-pola membaca puisi Rendra, kita tidak akan tampil menjadi diri sendiri.

Ketika melihat kita membaca puisi, orang akan melihatnya seperti seorang Rendra. Kita tidak akan menjadi diri sendiri. Seolah seorang WS Rendra itu diibaratkan sebagai ‘dewa’ yang didewa-dewakan di dalam diri kita, sehingga tidak muncul pola-pola lain yang juga mempunyai daya pikat berbeda.

Kita juga adalah aset. Aset yang ketika membaca puisi harus menjadi ‘dewa’ bagi diri sendiri. Yang ketika membaca puisi mempunyai kemampuan memikat yang tidak sama dengan WS Rendra.

“Kita juga mempunyai predikasi yang memunculkan nilai-nilai estetika ketika membaca puisi. Hanya saja kita belum menemukan jati diri sendiri karena keyakinan kita pada awal-awal penampilan belum muncul,” katanya.

Karena itu kita menjadi tidak percaya diri. Bagi kita, seolah seorang WS Rendra itu jauh lebih baik dibanding pembaca-pembaca puisi lainnya. Padahal kalau kita melihat tampilan Sutarji Qalzoum Bahri disaat membaca puisinya, ia mempunyai style lain yang juga memiliki daya pikat.

Dari eksistensinya menelaah kata per kata disaat membaca puisi, Sutarji mampu menyampaikan nilai-nilai mantra. Dia juga berani menawarkan cara membaca puisi yang dibarengi dengan instrumen musik harmonika.

Nilai musikal yang ditampilkan Sutarji tidak asal ngat-nget-ngot saja. Ia meniup dan mengisap harmonika, tujuannya untuk memunculkan estetika di balik kata-kata mantranya. Misalnya, ketika ia membaca puisi ‘Kucing’ , apakah maksud yang disampaikanitu adalah kucing sebenarnya? Bisa juga menawarkan tafsir yang berbeda dari puisi itu. Itulah hebatnya Sutarji.

Yang menjadi pertanyaan kita, bagus Sutarji atau Rendra ketika mereka membaca puisi? Dua-duanya bagus. Menurut Bayu, dua-duanya mempunyai daya pikat. Dua-duanya bisa menjadi referensi kita untuk belajar bagaimana cara membaca puisi yang baik.

Relativitas pandangan terhadap estetika yang disajikan Rendra dan Sutarji, dapat dinilai bahwa keduanya memiliki keragaman pandang yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan cara membaca puisi WS Rendra tak ada tandingnya. Sementara Sutarji, membacakan puisinya sangat baik. Ia menciptakan kata sebagai mantra (awal ia menulis puisi), ia wujudkan lewat penampilan garang seperti ‘seorang dukun’ yang mengobati atau mengguna-gunai pasiennya.

“Jika sudah masuk ke substansi itu, kita akan diajak Sutarji ke lorong-lorong persepsi yang memunculkan paradigma kedukunan yang sedang membaca mantera untuk mengguna-gunai atau mengobati pasiennya secara cognitif,” tambahnya.

Yang jelas, kedua penyair mempunyai format berbeda ketika mereka membacakan puisinya masing-masing. Dari gaya, cara serta tarikan napas dan suara yang berbeda pula. Maka itu, selain mengusai nilai-nilai puitika dalam memahami sajak yang dibacakan, suara dan pernafasan pun dapat dinyatakan sebagai syarat utama deklamator, ketika hendak membaca puisi.

Suara dan Pernafasan

Sebelum memahami sajak secara tekstual, secara fisik kita pun harus siap. Itu artinya, yang harus dijaga adalah volume suara yang baik (normal) dengan daya ucap yang prima. Jangan sampai ketika membaca puisi, kerongkongan seseorang sedang mengalami laringitis atau peradangan kerongkongan.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Jika kita sedang dilanda laringitis, pada pita suara kita akan terjadi peradangan. Dalam kondisi ini kita akan batuk-batuk dan demam sehingga suara seseorang menjadi serak dan bahkan bisa kehilangan suara.

Apakah ketika kehilangan suara seorang bisa membaca puisi atau bernyanyi? Tentu saja tidak.Sebab, syarat utama ketika membaca puisiatau bernyanyi, napas dan suara harus berada dalam posisi prima.

Dalam bernyanyi atau membaca puisi, terkadang seseorang lepas kontrol. Bisa jadi ini suatu kealpaan yang membuat suasana menjadi fatal. Misalnya ketika melakukan percepatan vibrasi yang melebihi batas ketahanan, akan mengalami loss voice sehingga bisa menjadi serak atau kehilangan suara sama sekali.

Jika mengalami kondisi seperti ini, siapa pun tak akan bisa berbuat banyak. Bahkan mereka akan menjadi deklamator yang gagal. Gagal menawarkan estetika persajakan dan gagal pula mengeluarkan suara yang sedang dirundung peradangan.

Bisa jadi, virus flu juga yang membuat suara serak dan bahkan hilang sama sekali. Naiknya asam lambung yang naik ke kerongkongan. Dengan suasana ini, seseorang bisa menderita penyakit reflu yang disebut gastreosofageol (GERK).

Menurut Bayu, melatih vokal (suara) agar terdengar kuat, gampang-gampang susah. Gampang, jika harus dilakukan, perlu menguasai teknik yang baik. Sedangkan susah, jika tidak memahami teknik untuk mengeluarkan suara yang menggelegar, apa yang diharapkan itu tak mungkin dapat digapai.

Dalam tenggorokan seseorang, terdapat celah laring (rongga pita suara) yang bisa menjadi serak atau tak mampu mengeluarkan suara apabila secara terus-menerus mengeluarkan suara dengan ritme yang tinggi.

Kapasitas suara yang dikeluaran harus harus memenuhi standar kemampuan yang ada. Apabila ritme suara yang dikeluarkan seseorang berada di bawah tingkat standar kemampuan, maka kondisinya akan berada pada titik yang tak maksimal.

“Karena itu kita harus mampu mengusai teknik vokal untuk mengeluarkan suara yang jelas, tegas dan terdengar menggegar. Membaca puisi dengan suara kuat, isi tulisan yang terkandung dalam nilai persajakan itu akan dapat ditangkap para pendengar dengan baik.”

Sebab, dalam artikulasi (daya ucap) yang benar, setiap kata ucap harus dikemukakan secara benar. Misalnya, dalam pengucapan darah, jika diucap dengan kata dara (kurang H), maka artinya menjadi lain. Itu artinya, mereka gagal menyampaikan arti yang termuat di dalam puisi yang kita bacakan (muatan sajak).

Jadi, peran ucapan dengan suara maksimal menjadi sangat penting. Sebab vokal maksimal merupakan nilai yang cukup referesentatif ketika seorang membacakan puisinya (isi sajak yang sudah dikuasai).

Teknik Vokal

Menguasai teknik vokal, katanya, merupakan keharusan bagi pembaca puisi. Karena tanpa teknik ucapan (mengeluarkan suara) yang maksimal, sebaik apapun pembacaan puisi seseorang, nilainya menjadi hambar (kurang maksimal).

Karena itu sebelum ‘berteriak’ (mengeluarkan suara)pembaca puisi harus belajar menguasai teknik vokal yang baik. Misalnya cara bersuara yang baik dengan standar vokal sesuai aturan teknik yang benar.

Itu artinya, ketika mengeluarkan suara harus dimulai dengan sikap santai dan posisi tubuh yang baik. Dimulai dari tekanan (tenaga) perut, dengan posisinya yang benar dan tidak menyakitkan rongga lain yang ada di dalam tubuh kita.

Karena itu, sebelum bersuara, posisi tubuh harus santai dengan mengeluarkan emosi dan tenaga yang teratur. Diawali dengan mengambil napas panjang, kemudian tahan sejenak di rongga perut, lalu keluarkan sekerasnya tanpa menggetarkan dinding laring di tenggorokan.

Apabila dinding laring tergetar, yang ada hanya rasa sakit dan perih. Jika ini terjadi, maka dapat menimbulkan kelelahan suara sehingga bisa terbatuk-batuk. Jika kondisi ita sudah seperti ini, dalam kompetisi (lomba baca puisi) yang diikuti tak mungkin dapat menghasilkan raihan nilai yang maksimal.

Maka itu, sebelum mengeluarkan suara sesuai teknik ungkapan, sebaiknya mengelola pernapasan yang baik. Sebab, nilai vokal yang kuat ditentukan pengelolaan teknik pernapasan yang bagus.

Napas, intinya seseorang mengisap udara seluas-luasnya. Selama ini, tanpa disadari, setiap hari, seseorang mengisap udara dengan kadar yang kurang maksimal. Terkait masalah pernapasan, dasar untuk mengeluarkan vokal yang lantang, ditentukan cara bernapas dan pengumpulan power (tenaga) di rongga perut. Dalam tempo sekian detik, napas yang terkumpul dikeluarkan secara terkondisi.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Semakin lama, pernapasan itu dibarengi dengan pengeluaran suara agar terbiasa untuk bersuara lantang tanpa hambatan. Secara alami, ada suara orang yang besar dan ada juga suara yang kecil.

Jika suara orang secara alami dikeluarkan secara maksimal, akan lebih baik jika mempelajari teknik yang benar. Sedangkan suara orang yang sangat kecil, akan menjadi lebih baik ketika ia telah menguasai teknik vokal yang baik.

Teknik menguasai vokal maksimal, ditentukan prinsip dasar tentang pengelolaan napas yang kuat. Pertama, posisi

harus dilakukan sesantainya. Kemudian, bernapas yang teratur. Irup udara seluas-luasnya, tahan beberapa detik dan kemudian keluarkan dengan cara berkala. Ulangi beberapa kali gerakan, lalu sertai dengan suara sekuatnya.

Apabila kita sudah menguasai teknik pernapasan dan pengungkapan suara yang baik, maka vokal yang kita keluarkan akan total sesuai keinginan yang diharapkan. Memasuki gerbang puitika dalam sebuah sajak, akan dihadang jalan berliku yang seolah-olah menyembunyikan makna sebenarnya. Di sinilah persepsi pembaca diajak untuk berpikir bagimana kita dapat menjelajahi maksud yang terkandung di dalam puisi itu. Namun untuk masuk ke wilayah itu tidak segampang ketika menikmati karya sastra lain berbentuk cerita pendek, cerita bersambung atau novellete (novel, katakan begitu).

Untuk tiba ke gerbang puitika, pembaca harus membacanya secara berulang-ulang dengan penuh kecermatan dan kesabaran maksimal. Sebab, jika tidak begitu, maka akan menemukan pintu pembuka dalam memahami isi pada majas puisi tersebut.

Tidak demikian halnya dengan cerita pendek, cerber atau novel.Ketika penulisnya menjabarkan maksud cerita ke pembacanya, maksud isinya sudah langsung bisa dicerna meski terkadang alurnya dibuat berbelit untuk menghadirkan konflik yang menarik.

Sebagai contoh, :Pagi itu Maria tampak sedih. Airmatanya yang hangat, membasahi permukaan pipinya yang merah delima. Tapi guratan wajahnya memperlihatkan kesedihannya. Sebab, pagi itu, ketika ia akan pergi kuliah, Maria menerima kabar bahwa ibunya di desa sakit parah melalui telepon genggamnya…. dst.

Apa yang diungkap penulis mengenai keadaan Maria sudah bisa diketahui pembacanya. Seperti penggambaran kesedihan gadis itu, misalnya, yang terguratnya di wajahnya di saat ia akan kuliah. Dijelaskan pula ketika pagi itu ia menerima kabar ibunya yang sakit parah lewat ponselnya.

Dari teknik penceritaan dapat tergambar bagaimana keadaan Maria dalam tulisan itu. Yang pasti, pembaca akan mengetahui arah cerita yang diungkap penulisnya. Tapi tidak begitu dengan puisi. Kata yang diungkap lewat diksi-diksi penuh makna, terkadang diarahkan oleh simbol-simbol ke persepsi lain. Misalnya kata Tuhan.Dalam puisi, Tuhan tidak selamanya diucap dengan kata ‘Tuhan’. Bisa saja sang penyair mengungkapnya melalui kata pilihan Juwita, Kekasih atau Gelombang Besar Kekuasaan tak terhingga.

Dari alur puitik yang disampaikan penyair, dalam komposisi kalimatnya akan kita ketahui penulis sedang menyatakan Tuhan sebagai Mahapencipta yang telah menciptakan dunia dengan segala isinya.

Meski sudah mengetahui tentang Tuhan lirik sebagaimana diungkap penyair, tapi untuk mengetahui maksud puisi secara utuh, perlu mengapresiasinya melalui teori-teori umum yang sudah menjadi dasar untuk memahami maksud isinya.

Meskipun demikian, kita belum tentu mengerti secara maksud sebenarnya seperti apa yang diungkap penyair melalui kata pilihan dengan ikatan simbol-simbol yang dapat memperkuat bentuk puisi tersebut.

Dalam teori apresiasi, bentuk (tipografi) puisi terdiri ide awal, idiom, gagasan, simbol-simbol serta diksi (kata pilihan) sebagai penyampai pesan ke sejumlah penikmatnya.“Mengapa saya hanya mengatakan sejumlah penikmat dan tidak semua orang?Pilihannya adalah, tidak semua orang bisa memahami dan menyukai puisi secara utuh. Sebagai karya sastra paling tua, puisi sanggup menguras teori dan pikiran seseorang ketika ia berusaha untuk menjelajah ke dunia kata-kata yang ada di dalamnya. Sebab, sebagai bentuk sastra yang multi tafsir, apa yang dimaksud penyair di dalam puisinya, belum tentu sama seperti yang diapresiasi orang lain (penikmat puisi),” urainya.

Apabila tidak merunut dari proses ide, gagasan serta pilihan kata yang diperkuat dengan struktur simbolnya, maka tidak akan menemukan isi puisi sebagai karya sastra yang mengandung multi tafsir. Hakikatnya, yang perlu ditelusuri terlebih dahulu maksud yang terkandung dalam bentuk puisi itu sehingga dapat membacanya dengan baik.(anto narasoma)

Berita Terkait

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat
ORANG-ORANGAN SAWAH
Sulaiman: Sayap-Sayap Proklamasi, Edukasi Sejarah bagi Generasi Muda Kita

Berita Terkait

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Jumat, 17 Oktober 2025 - 08:15 WIB

Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !

Rabu, 1 Oktober 2025 - 14:34 WIB

KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi

Sabtu, 1 Februari 2025 - 11:33 WIB

Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terbaru

DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.

Headlines

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 Apr 2026 - 19:13 WIB