Presiden: Antisipasi Bencana Alam Secara Ekologis

- Jurnalis

Rabu, 5 Februari 2020 - 10:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden RI Joko Widodo

Presiden RI Joko Widodo

BENCANA alam di berbagai daerah di Indonesia yang terjadi beberapa bulan terakhir, perlu dicegah secara ekologis.

WIDEAZONE.COM, JAKARTA — Pencegahan bencana yang kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tak cukup dilakukan dengan cara membangun infrastruktur fisik pengendali semata.

Presiden Joko Widodo menekankan, selain strategi itu, yang tak kalah pentingnya, perlu diperhatikan langkah lain berupa pengelolaan lingkungan hidup.

Solusi pembangunan infrastruktur itu penting. Namun selama ekologinya tidak diperbaiki, seperti penanaman pohon, misalnya, tanah longsor akan terus terjadi,” ujar Presiden saat memberi pengarahan ke pada peserta rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana tahun 2020, di Sentul International Convention Center, Kabupaten Bogor, Selasa (4/2/2020).

Menurut Kepala Negara, ancaman bencana alam itu, dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Bencana alam tersebut, katanya, tak hanya terjadi di Indonesia tapi di negara lain pun terjadi pula karena perubahan iklim global.

Karena sudah kerap kali terjadi, kata Presiden, sebagai pengalaman itu dapat diperkirakan pola kejadian dan dicarikan solusi pencegahannya.

“Seperti banjir, kebakaran hutan dan lahan serta berulangnya bencana tanah longsor di sejumlah wilayah, menjadi pengalaman kita untuk ditanggulangi secara ekologis,” katanya.

Baca Juga:  PLN UID S2JB Sabet Platinum Nusantara CSR Awards 2026, Electrifying Agriculture Dongkrak Ekonomi Petani

Jika diteliti dari sejarah panjang, kata Presiden, banyak ancaman bencana yang rutin terjadi. Setiap musim kemarau, misalnya, pasti terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut. “Sedangkan di musim hujan, ada ancaman banjir, banjir bandang dan tanah longsor,” tutur Presiden.

Foto Rusman Biro Pers Sekretariat Presiden
Foto Rusman Biro Pers Sekretariat Presiden

Dalam pandangan Presiden, kejadian banjir dan tanah longsor akibat kelalaian ekologis. Artinya, kelalaian mengelola lingkungan hidup yang merupakan penyebab awal terjadinya banyak bencana di berbagai daerah.

Karena itu untuk melakukan pencegahan dan penanganan bencana, diperlukan solusi permanen yang tak berbatas pada pembangunan infrastruktur fisik pencegah bencana.

Presiden menjelaskan tentang kunjungannya ke Kecamatan Sukajaya, Provinsi Bogor, Jawa Barat. Di daerah itu, katanya, bencana longsor sudah berulangkali terjadi.

“Jangan diurusi urusan fisiknya saja. Bangun tanggul penahan longsor. Itu sangat penting apabila kita mau merehabilitasi lahan, mananam pohon yang memiliki akar kuat sehingga tidak terjadi lagi bencana longsor,” ujarnya.

Penanaman tanaman vertiler yang dilakukan Presiden saat kunjungannya ke Sukajaya Bogor, memiliki manfaat besar bagi pencegahan bencana longsor dan banjir, sekaligus merehabilitasi lahan.

Baca Juga:  Empat Penguji UKK Akan Uji 97 Calon Ketua DPC PKB se-Sumsel

Vertiler diketahui memiliki kemampuan untuk menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga stabilitas tanah agar tidak longsor dan erosi.

Tanaman vertiler, kata Presiden, dalam setahun setelah ditanam, akarnya bisa mencapai satu meter. Bayangkan, apabila sudah berumur tiga tahun penanaman, akarnya bisa mencapai tiga meter. “Ini yang perlu dikenalkan dan bibitnya harus diperbanyak. Sebarkan hingga ke daerah-daerah yang memiliki ancaman banjir dan tanah lingsor,” katanya.

Sedangkan terkait pengaruh kondisi kemarau panjang, biasanya terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu terjadi kerusakan ekosistem, lingkungan dan tata ruang,
Karena itu Presiden manyarankan agar dapat memanfaatkan lahan yang dapat menghindari risiko bencana.

Terkait itu, Presiden mengajak semua pihak untuk membangun komitmen sebagai kesadaran kolektif bahwa bencana alam merupakan urusan bersama. Sedangkan pencegahannya pun harus dilakukan secara menyeluruh agar siap menghadapi bencana yang bisa terjadi kapan saja. (*)

Laporan Abror Vandozer/Miska Rini/rel
Editor Anto Narasoma

Berita Terkait

Pemprov Sumsel dan Bank Sumsel Babel Kolaborasi Dorong UMKM Lokal Melalui Hiburan Rakyat dan Undian Super Grand Prize Pesirah
Hari Kebebasan Pers Sedunia: Ketum SMSI Firdaus Tegaskan Mendirikan Perusahaan Pers Adalah HAM
Tragedi dr Myta Aprilia Azmy, IKA-FK Unsri Desak Kemenkes Audit Wahana Internship
Skandal Razia Liar Dishub Palembang: 19 Oknum Petugas Terancam Sanksi Berat
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Jon Heri Kembali Pimpin SMSI Sumsel, Masa Bakti Diperpanjang
Sidang Praperadilan Narkotika di Palembang Disorot: Kuasa Hukum Ungkap Surat Penahanan Cacat Formil
Kejati Sumsel Kembali Ganyang Aset PT KMM, Mesin Bathcing Plant Disita

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:59 WIB

Pemprov Sumsel dan Bank Sumsel Babel Kolaborasi Dorong UMKM Lokal Melalui Hiburan Rakyat dan Undian Super Grand Prize Pesirah

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:43 WIB

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Ketum SMSI Firdaus Tegaskan Mendirikan Perusahaan Pers Adalah HAM

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:24 WIB

Tragedi dr Myta Aprilia Azmy, IKA-FK Unsri Desak Kemenkes Audit Wahana Internship

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:08 WIB

Skandal Razia Liar Dishub Palembang: 19 Oknum Petugas Terancam Sanksi Berat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:31 WIB

Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban

Berita Terbaru