Harimau Kelaparan, Nyawa Manusia Jadi Sasaran Empuk

- Jurnalis

Sabtu, 11 Januari 2020 - 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Martam (56) Warga Desa Kota Agung Kecamatan Semende Kabupaten Muaraenim, korban keganasan kucing besar tersebut, seorang warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muaraenim harus merasakan ketajaman kuku harimau.

Martam (56) Warga Desa Kota Agung Kecamatan Semende Kabupaten Muaraenim, korban keganasan kucing besar tersebut, seorang warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muaraenim harus merasakan ketajaman kuku harimau.

MESKI keganasan harimau yang sudah menerkam dan melahap manusia mulai reda, namun masyarakat harus waspada. Sebab, kucing besar itu kerap muncul secara tiba-tiba dan menyerang manusia.

WIDEAZONE.COM, MUARAENIM —- Meski kiprah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) belum memperlihatkan kinerja maksimal, namun masyarakat harus lebih hati-hati bekerja di kebun. Sebab secara diam-diam bisa saja harimau muncul dan aku langsung menerkam warga.

Pengamat sosial politik dan kemasyarakatan dari Universitas Taman Siswa Palembang Joko Siswanto, mengatakan karena tak ada makanan, harimau langsung menerkam dan melahap tubuh manusia.

“Makanan harimau itu adalah hewan lain. Habitatnya selalu mengincar hewan lain untuk dijadikan santapan. Karena lingkungan komunitasnya rusak, harimau jadi keluyuran ke sana-sini dan melahap menusia yang dijumpainya,” kata Joko Siswanto ke pada Wideazone.com dan Zoom Post, Sabtu (11/1/2020).

Pengamat sosial politik dan kemasyarakatan dari Universitas Taman Siswa Palembang Joko Siswanto
Pengamat sosial politik dan kemasyarakatan dari Universitas Taman Siswa Palembang Joko Siswanto

Mengapa harimau ke luar dari habitatnya? Menurut Joko, karena lingkungan mereka telah rusak akibat kerakusan manusia, membuat komunitas hewan lain yang merupakan konsumsi makanan bagi harimau sudah tandas. “Akibatnya, manusia sendiri yang menjadi incaran hewan buas tersebut,” katanya.

Menurut Joko, meski BKSDA berusaha menggiring harimau itu untuk masuk lagi ke habitatnya, itu upaya sia-sia.

Mengapa begitu? Karena kucing-kucing besar yang diperkirakan berasal dari kawasan hutan lindung Gunung Dempo dan sekitarnya itu mengalami ketidakada makanan. Karena itu kata Joko, ketika ia ke luar dari habitatnya, apa yang ditemui akan menjadi santapannya. “Begitu juga jika harimau-harimau itu ketemu manusia di ladang kopi, pasti diterkamnya juga, karena dia kelaparan,” tegas Joko.

Baca Juga:  Kapolda Sumsel Tinjau Pengamanan Imlek di Sejumlah Klenteng

Meski dinilai lamban, namun Joko Siswanto meminta agar Pemprov Sumsel, Pemkab Muaraenim, Lahat dan Pagaralam dapat bahu-membahu mengatasi keganasan harimau tersebut. Jika tidak ada upaya, bukan saja habitat harimau yang dilindungi itu akan habis, kehidupan manusia di sekitar habitat hewan buas itu akan binasa.

Dalam waktu lebih dari satu bulan, telah lebih dari lima nyawa manusia yang telah menjadi korban keganasan harimau. Bahkan warga Desa Tebat Benawa Kecamatan Dempo Selatan Pagaralam hidup dalam ketakutan setelah seorang warganya tewas dilalap hewan buas tersebut. Tampaknya emosi warga desa itu mencair karena teror harimau yang sangat menakutkan.

Terakhir yang menjadi korban keganasan kucing besar tersebut, seorang warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muaraenim harus merasakan ketajaman kuku harimau.

Meski sudah membawa parang panjang saat hendak mencuci beras ke pancuran air, tiba-tiba Martam (56) diserang harimau. Dalam persoalan itu, Martam memberanikan diri melayangkan parang panjang di wajah harimau.

Karena wajahnya terluka, harimau itu pun lari meninggalkan Martam yang menderita luka akibat terkaman harimau di paha kirinya.

Dengan jalan terpincang-pincang, Martam langsung ke pondok ladang kopinya sembari menghubungi warga dan tim satuan tugas (satgas) binatang buas.

Pada Jumat (10/1/2020), tim Satgas Binatang Buas segera menjemput korban dan segera mengevakuasi Martam. Saat ini Martam sudah dilarikan ke rumah sakit.

Dalam penjelajahan tim BKSDA, TNI-Polri dan masyarakat, pascaserangan pertama di kawasan wisata Tugu Rimau, 16 November 2019 lalu, harimau-harimau itu diindikasi masih berkeliaran di seputar wilayah perbukitan Kabupaten Muaraenim dan Lahat. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kota Pagaralam.

Baca Juga:  Banjir Dadakan Kala Lebaran di Banyuasin III

Dari penjelajahan yang dilakukan secara bersama itu jelas mengindikasikan bahwa konflik konflik harimau dengan manusia itu semakin runcing.

Pada 12 Desember lalu, harimau itu menyerang Mustadi (55) di Kemacatan Kota Agung Lahat. Kemudian, pada 22 Desember 2019, kucing ganas itu menyerang warga Kecamatan Mulak Ulu, Lahat, Suhadi (50). Dalam perseteruan dengan harimau-harimau itu, kedua orang ini tewas.

Kemudian pada 27 Desember lalu, seorang ibu dari dua anak, Sulis Setiawati (30) harus menyerahkan nyawanya ke pada harimau-harimau yang menerkam dirinya.

Ibu Sulis, warga Deaa Padang Bindu, Kecamatan Panang Enim, Muaraenim itu berdomisili jauh dari kawasan hutan lindung. Sebagai ibu dari dua anak, Sulis tinggal di kebun, tempat pemandian Dusun V Sidodadi.

Sebenarnya kasus penyerangan harimau itu sudah terlihat dari tanda-tanda sehari sebelumnya. Wandi, warga Desa Tanah Abang Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muaraenim, sempat berhadapan dengan harimau yang berjarak sekitar tiga meter. Kemudian ia memberitahukan Poksek Semendo. Ketika dicek, terlihat harimau itu menyeberang jalan.

Korban terakhir dialami Martam. Saat ia hendak mandi, ia diserang harimau. Untungnya ia membawa parang panjang, sehingga harimau itu melarikan diri. Namun dalam pertikaiannya dengan harimau, Martam terluka di paha kirinya. (*)

Laporan Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma

Berita Terkait

Ketua DPRD Prabumulih Ikut Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap
Pabrik Miras Oplosan Merek Terkenal di Banyuasin Digerebek, Rp620 Juta Dista
Seleksi Siswa Baru di Sumsel Makin Kompetitif, TKA Penentu di Jalur Prestasi
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdaleneid, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
Kejati Sumsel Geledah Tiga Lokasi Soal Korupsi Sungai Lalan, hingga Menang Praperadilan Suap Irigasi Muara Enim
Pejabat Pemkot Palembang Rangkap Jabatan! Pemerhati Sorot SDM–Pelayanan hingga Dobel Tunjangan
Siap-siap Pembuang Sampah Sembarangan di Palembang Ditindak!

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 08:42 WIB

Ketua DPRD Prabumulih Ikut Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang

Kamis, 16 April 2026 - 19:13 WIB

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 April 2026 - 17:36 WIB

Pabrik Miras Oplosan Merek Terkenal di Banyuasin Digerebek, Rp620 Juta Dista

Kamis, 16 April 2026 - 16:51 WIB

Seleksi Siswa Baru di Sumsel Makin Kompetitif, TKA Penentu di Jalur Prestasi

Rabu, 15 April 2026 - 18:45 WIB

Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdaleneid, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik

Berita Terbaru

DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.

Headlines

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 Apr 2026 - 19:13 WIB