Oleh Anto Narasoma
SAAT membuka-buka rak buku antologi puisi di kamar tidur, saya menemukan puisi menarik yang ditulis penyair wanita Izzah Zen Syukri berjudul _Karena Rindu_
Saya langsung membuka dari lembar ke lembar dan membaca buku tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah puisi-puisi yang terhimpun di dalam antologi itu nyaris berkaitan dengan nilai-nilai religi.
Saya lupa, buku puisi ini diberikan Izzah sejak September 2017 lalu. Seingat saya, ketika saya menerimanya, saya langsung menyusunnya di rak buku puisi. Karena asyik bekerja sebagai jurnalis, eh, saya lupa untuk membacanya hingga tuntas.
Saat saya mencari-cari buku puisi Chairil Anwar, eh kebetulan saya melihat antologi *Karena Rindu* ini. Wah, ini menarik hati saya.
Maka saya baca berkali-kali dan saya membolak-balik dari halaman ke halaman buku tersebut.
Saya tertarik karena penyair yang berlatarbelakang anak sulung seorang ustadz ternama di Sumatera Selatan –KH Zen Syukri ini memiliki nilai-nilai religiusitas yang sangat dalam.
Ada 93 puisi pilihan yang terkumpul di dalam antologi ini. Jika dikaji dari runutan kalimat yang ditulisnya, ia menggunakan bahasa yang sederhana, tegas, dan religius.
Dari sejumlah puisi yang ada, saya justru tertarik dengan empat pilihan yang ada. Misalnya puisi bertajuk “17 Agustus 2017, Sahabat Quran, Perjalanan Istimewa”, serta puisi “Komunikasi”.
Dalam uraian isi puisi, imajinasi saya terus berkeliaran jauh, sehingga saya mampu meneropong perasaan penyair dalam mengetengahkan persoalan ide dan gagasan yang disampaikannya.
Saya bangga dengan adanya aktivitas sastra dari penyair wanita seperti Izzah Zen Syukri. Sebab, di Sumatera Selatan, terutama di Palembang jarang ada aktivitas penyair wanita.
Padahal, pada dekade tahun 2000 ke bawah, ada beberapa penyair wanita yang kuat secara estetik di dalam karyanya, seperti Ine Somad, Rita Sumarni, serta sejumlah nama lainnya
Tapi sekarang ini, nama-nama mereka seolah lenyap ditelan waktu. Bahkan keberadaan mereka seakan hanya tinggal cerita saja.
Karena itu ketika saya “menemukan” karya Izzah ini gembira sekali. Bahkan saya segera membaca dan mendalami setiap karya yang terhimpun di antologi ini.
Imajinasi
Meski dengan bahasa sederhana, namun penyair Izzah selalu mengetengahkan imajinasi yang kuat, terutama saat ia menyandingkan esensi sosial dengan keagamaan (religi).
Dari 93 puisi yang ada, terdapat empat puisinya yang menarik untuk diresensi. Keempat puisi itu antara lain, “17 Agustus 2017, Sahabat Quran, Perjalanan Istimewa”, dan “Komunikasi”.
Dari keempat puisi tersebut, saya tertarik pada puisi “Perjalanan Istimewa” di lembaran 8-9.
Sebab, perjalanan dimaksud bukan sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi perjalanan suci atas panggilan Allah SWT –melaksanakan kewajiban umat (Islam) sebagai ibadah haji.
Perjalanan Istimewa
Saudaraku,
Perjalannmu bukan perjalanan biasa
Keberangkatanmu bulan jalan-jalan semata
Dirimu telah dipilih Allah
Menjadi tamu-Nya
Diundang oleh-Nya
Kamu semua akan dilayani-Nya
Kamu semua pasti dihormati-Nya
Kamu semua akan diservis-Nya
Jangan takut
Kamu berada di rumah yang paing indah
Ada limpahan cahaya luar biasa
Yang akan kau rasakan merasuk hingga ke tulang sumsum
Bergetar raga
Bergoyang jiwa
Indahnya
Bertemu kekasih hati dambaan insan semua
Saudaraku,
Nikmatilah perjamuam Allah ini
Dengan pandai membawa diri
Dia suka alunan Quran
Dia suka zikir yang menggema
Dia suka orang-orang yang memuji dan mengagungkan-Nya
Jangan hiraukan polah tingkah tamu yang lain
Jadilah tamubyang baik
Yang pandai membawa diri
Jadilah tamu yang santun
Yang disukai Tuan Rumah-Nya
Jadilah tamu yang istimewa
Yang membawa predikat mabrur dan diridhoi-Nya
Saudaraku,
Selamat bertemu kekasih hati
Bersama pujaan hatimu
Bergandengan tangan dalam suka dan senang
Bismillahi majreeha wa mursaaha inna robbi
laghofururur rohim
(*Spesial untuk saudariku Vedia yang berangkat haji hari ini*)
14.08.17
Jika dicermati, puisi ini hanya menggunakan kalimat dan kata-kata bersahaja. Artinya tidak dibubuhi dengam diksi-diksi khusus yang mengandung isi berbelit dan tersembunyi.
Meski demikian, ada nilai rujukan yang tersembunyi di dalamnya. Misalnya, pada bait kedua,…_Kamu semua dilayani-Nya//Kamu semua pasti dihormati-Nya//Kamu semua akan diservis-Nya_..
Apakah pelayanan, dihormati, dan diservis-Nya sama seperti kita dihormati, dilayani, dan diservis seperti kita merasakan saat bersosialisasi antarsesama kita sehari-hari?
Tentu saja tidak seperti itu. Sebab, “pelayanan” Allah SWT kepada hamba-Nya hanya memberi kemudahan-kemudahan, serta kelancaran beribadah.
Di sinilah dapat dipetik bahwa unsur yang tersembunyi di balik itu, ada nilai kata-kata khusus yang dipilih secara cermat agar suasana padat makna sebagai bentuk diksi dari puisi tersebut dapat kita pahami.
Ketika nilai kalimat yang dibaca itu kita dalami, maka susunan kata yang dirancang Izzah, seolah menghadirkan imajinasi yang kuat, sehingga kita dapat “melihat” dan “mendengar” aktivitas religi di Tanah Suci.
Jika dalam konsepsi ilmu tasawauf, pendekatan diri kepada Allah SWT itu merupakan corak kesadaran diri dalam menelaah kelemahan yang ada di diri sendiri.
Puisi dalam bentuk _movement_ seperti ini sangat baik untuk kejiwaan dan perilaku hidup sehari-hari. Sebab, susunan kata yang terancang secara estetik akan dapat menuntun diri sendiri ke arah nilai yang mendalam, sehingga mampu mencairkan pokok-pokok gagasan ke ruang pikiran utama untuk memahami isi puisi secara menyeluruh.
Karena itu puisi *Perjalanan Istimewa* ini memaparkan perjalanan fisik dan batin untuk memperoleh keridhoan *Pemilik Ruang*. Apalagi secara tekstur, penyair mengingatkan (barangkali sahabatnya) agar bersikap sederhana yang tak berlebihan agar mendapat keberkahan perjalanan religiusitas yang panjang itu dapat diraih dengan baik.
Pada teks di bait keempat –penyair menjelaskan tentang getaran jiwanya ketika melaksanakan perjalanan itu…, _Bergetar raga//Bergoncang jiwa//Indahnya//Bertemu kekasih hati dambaan insan semua_…
Tuturan itu sebenarnya bentuk nilai rasa (feel of poe) yang tersisip secara estetik. Karena itu ia “menasihati” dengan…_Jangan hiraukan pola tingkah tamu yang lain//Jadilah tamu yang baik//Yang pandai membawa diri//Jadilah tamu yang santun_..(bait 7).
Sebagai bentuk dari unsur batin yang mewarnai puisnya, tampaknya Izzah menggambarkan satu nilai kepasrahan yang diucap lewat nasihat sejati sebagai kerendahan hati kepada Tuhannya.
Sebab, sebagai tamu Allah SWT yang disukai Sang Mahapencipta itu –adalah kerendahan hati dalam corak kesantunan akhlak dari sikap hidup sehari-hari hamba-Nya.
Selain puisi puisi *Perjalanan Istimewa*, ada juga puisi religi yang berkaitan dengan Al-Quran. Puisi ini mengurai nasihat kepada anak-anak bangsa
Dari puisi bertajuk *Sahabat Quran* itu, tampaknya semangat kebangsaan dan kendali diri terhadap kitab suci Al-Quran memang sangat kuat. Karena latar belakang kehidupan penyair sebagai seorang putri sulung anak ustadz ternama Sumsel (KH Zen Syukri), sangat mendominasi jiwanya.
Dari larik-larik puisi *Sahabat Quran* di halaman 5, penyair Izzah menekankan pentingnya semangat kebangsaan yang mencintai Al-Quran.
*SAHABAT QURAN*
Berjuanglah
Untuk anak-anak bangsa
Jangan biarkan mereka terseok-seok di dunia
Kenalkan mereka pada Tuhan
Agar mereka tahu
Mereka selalu dalam pengawasan
Kenalkan mereka pada Al-Quran
Agar hidup mereka terarah
Bikin mereka gila
Gila baca Quran
Gila khatam Quran
Gila hafal Quran
Gila kajian Quran
Gila pada kalam-kalam Alllah yang mulia
Gila pada bacaan Sang Baginda
Jika anak muda bicara narkoba
Mereka bicara Al-Quran
Jika anak muda bicara sinetron
Mereka bicara indahnya kalam Tuhan
Jika anak muda pakai jins robek-robek di paha
Mereka bicara pakaian takwa
Jika anak muda bicara musik yang hingar ningar di telinga
Mereka bicara syahdunya bacaan Al-Quran
Jika anak muda bicara seputar kebut-kebutan
Mereka bicara percepatan hafalan
Dunia seakan surga
Jika di rumah-rumah Quran dibaca
Dunia seakan kuburan
Jika Quran hanya jadi pajangan
(halaman 5)
Puisi ini hanya terkesan sederhana jika dirangkai dari kata dalam bahasa seadanya. Namun dari kajian bahasa tanda-tanda, penyair mengisyaratkan kata-kata pilihan khusus secara cermat agar padat makna.
Dari kajian yang saya urai secara eatetik, secara citraan (imaji), puisi ini mengajak pembaca seolah melihat dan merasakan imajinasi antara kehidupan sosial dan pemahaman religiusitas untuk menguasai makna keagamaan (Islam).
Meski dengan gaya bahasa sederhana, namun nilai estetiknya cukup kuat, sehingga dapat memberikan efek artistik untuk menghidupkan suasana puitik
Dari susuna kalimat seperti.., _Bikin mereka gila//Gila naca Quran//Gila khatam Quran//Gila hafal Quran//Gila kajian Quran//Gila pada kalam-kalam Allah yang mulia//Gila pada bacaan Sang Baginda_…
Dari kata yang diungkap dengan rangkaian kata secara berulang, tentu berusaha untuk dapat menciptakan keindahan bunyi saat dibaca di panggung lomba baca puisi.
Gagasan seperti ini merupakan konsepsi penyair saat awal membentuk tipografi sebagai ungkap urai dari puisi tersebut.
Karena itu, meski penggunaan bahasa sederhana dan bersahaja, namun penyair Izzah sudah berusaha mengekspresikan gagasan artistik, religi, serta nilai-nilai sosial yang berkaitan dengan kemuliaan akhlak kemanusiaan.
Jika diulas, ada beberapa nilai yang perlu dipahami secara esensi. Misalnya, pada halaman 4 ada puisi bertajuk *Satusatu*. Meski setiap penyair bebas menuliskan persoalan sosial lewat kata-kata dan bahasa yang sesuai hatinya, namun sebagai ‘seniman kata-kata” kita harus mengacu pada bahasa yang baik dan benar.
Sebab, seusia kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) setiap kata (kalimat) harus disesuaikan dengan konsep tanda-tanda yang disesuaikan dengan konsep KBBI
Seperti kata (judul) *Satusatu* harusnya Satu-satu. Tapi penyair mengekspresikannya Satusatu. Ini bentuk “pelarian” dari konsep kata dan bahasa di dalam prinsif dasar KBBI. Ini yang perlu penyair sikapi. (*)
Penulis adalah sastrawan, seniman, dan jurnalis senior
Palembang, 17 September 2026




![Anggota Komisi III DPRD Kota Palembang, Andreas Okdi Priantoro, dalam Rapat Dengar Pendapat [RDP] bersama Dinas Perhubungan, Inspektorat, DPMPTSP, Bagian Hukum, dan manajemen Green SM, Selasa 15 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/Anggota-Komisi-III-DPRD-Kota-Palembang-Andreas-Okdi-Priantoro-dalam-Rapat-Dengar-Pendapat-Selasa-15-September-2026-225x129.jpg)
![Rapat Dengar Pendapat [RDP] Komisi IV DPRD Palembang dengan Dinas Pendidikan Kota Palembang soal evaluasi PJJ [pembelajaran jarak jauh] pada Senin 14 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0015_copy_1600x1015-225x129.jpg)

![Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Sariyansyah Ismail bersama Sang Istri, Fildawati SE. [Foto: AbV-WI]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/801786117_1392309859656953_5754432592619811251_n-225x129.jpg)
![Mobil listrik asal Vietnam tengah melintas di Jalan POM IX [Foto: AbV-WI]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/Mobil-listrik-asal-Vietnam-tengah-melintas-di-Jalan-POM-IX-225x129.jpg)

![Anggota Komisi III DPRD Kota Palembang, Andreas Okdi Priantoro, dalam Rapat Dengar Pendapat [RDP] bersama Dinas Perhubungan, Inspektorat, DPMPTSP, Bagian Hukum, dan manajemen Green SM, Selasa 15 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/Anggota-Komisi-III-DPRD-Kota-Palembang-Andreas-Okdi-Priantoro-dalam-Rapat-Dengar-Pendapat-Selasa-15-September-2026-129x85.jpg)
![Rapat Dengar Pendapat [RDP] Komisi IV DPRD Palembang dengan Dinas Pendidikan Kota Palembang soal evaluasi PJJ [pembelajaran jarak jauh] pada Senin 14 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0015_copy_1600x1015-129x85.jpg)

![Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Sariyansyah Ismail bersama Sang Istri, Fildawati SE. [Foto: AbV-WI]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/801786117_1392309859656953_5754432592619811251_n-129x85.jpg)


![Wakil Ketua Komisi Informasi Sumsel Haidir Rohimin didampingi Komisioner KI Sumsel Hadi Prayogo, Yoppy Van Houten saat melakukan monitoring dan evaluasi [monev] dengan Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Sumsel H Nopianto, Selasa 8 September 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260908_123130_982_copy_3264x2079-360x200.jpg)

![Presiden RI Prabowo Subianto [gambar Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20250227-WA0099-scaled-266x266-1-266x200.jpg)
