Membangun Apresiasi Panggung Bambang Oeban

- Jurnalis

Senin, 3 Juli 2023 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bambang Oeban

Bambang Oeban

by Anto Narasoma

DALAM sastra panggung, ekapresi pemain merupakan dasar utama untuk melihat kemampuannya.

Sebab dari dasar inilah seorang pemain panggung dipresikasi sebagai aktor. Dari pengendapan emosi, memunculkan power voice, hingga mengaktualisasi karakter secara keseluruhan akan memgantarkan pementasannya menjadi berhasil atau tidak.

Mencernati peran Bambang Oeban dalam pergelaran Gajahmada, sangat menarik untuk dicermati. Sebab dari sejak awal karakter yang ia bangun dari emosi jiwanya, Bambang tampak pasrah menyajikan figur Gajahmada.

Bukan soal bagus atau tidaknya peran yang ia bawakan. Tapi sejauh apa jiwa seorang Bambang Oeban “pasrah” ke sosok Gajahmada?

Penggambaran karakter Gajahmada dari seorang Bambang Oeban sebagai pemain, ia berusaha menghadirkan karakter yang bukan dirinya.

Seperti yang diungkap Anton Palvovich Chekhov, tiap pemain akan berusaha “mengusir” karakternya sendiri untuk menghadirkan tokoh yang ia perankan. Dalam ilmu teater, usaha ini disebut sebagai pelepasan jiwa untuk menghadirkan “karakter” lain yang ia hadirkan dalam pementasan itu.

Dari fase awal seorang Bambang menghadirkan Gajahmada dalam pola pikiran dan perasaannya sebagai pemain

…Setelah lampu padam, Bambang Oeban mulai berteriak. Ia mencoba melampiaskan pola permainannya yang keras dan jantan.

Dari volume suara yang berat parau, Bambang membangun emosinya. Dari gerakan awal pada pola pengkarakteran, ia tampak ganas.

Baca Juga:  Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Bisa jadi sikap ini ia dedikasikan ke pentas Gajahmada untuk meyakinkan dirinya, dari pola permainan itu akan muncul figur Gajahmada sesuai skenario yang ia tulis sendiri.

Dalam pemunculan karakter permainan, tampaknya Bambang tidak asal bermain. Dengan segala kekuatan estetiknya di panggung, penyerahan dirinya ke pada kekuatan akting, memperlihatkan dirinya sebagai pemain berbakat yang memiliki berbagai pengalaman pentas.

Dari ilustrasi sound efect yang mampu membangun karakter peran, membakar emosi Bambang, sehingga kualitas permainanya benar-benar menggetarkan jiwa penonton.

Aktor panggung ternama Indonesia, Willy Surendra atau WS Rendra, mengatakan amosi peran akan terbangun dengan sangat baik apabila ilustrasi sound efect atau sound of musical yang mengiringi memiliki spesifikasi yang ideal dengan karakter naskah permainan.

Kesadaran moral inilah yang dimiliki Bambang Oeban sebagai Gajahmada itu ia eksresikan ketika sound efect itu membakar suasana permainannya.

Dari monolog yang ia ungkap dengan takaran emosi permainannya, Bambang berusaha meyakinkan ke penonton bahwa itulah Gajahmada.

Meski secara sadar ia ungkap kata-kata itu melalui karakter dirinya yang “tersingkir” akibat ketokohan Gajahmada, namun perhatian penonton diajak untuk lebur ke dalam sikap cerita yang diungkapnya.

Seperti yang dikatakan Jean-Paul Satre, peran seperti ini dapat mengadjarkan penonton untuk tahu sikap apa jang diungkap tokoh cerita melalui si pemeran ( buku Membangun Watak dan Imajinasi Pelakon..(hal 195..terbitan Djambatan Djakarta 1951).

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Karena itu ketika dalam dialognya Bambang Oeban mencoba menjelaskan tentang siapa Gajahmada dan bagaimana peran aktifnya sebagai tokoh sejarah.

Dari sinilah kita bisa melihat bagaimana emosi permainan aktor panggung Indonesia ini. Sebab dari rincian awal saat naik ke pentas permainan, secara sadar dia sudah mengerti untuk menyajikan tiap etape permaiman yang baik.

jangan kalian kira Gajahmada hanya tinggal nama. Aku tetap ada dan tiada dalam abad yang berbeda.

Dari dialog yang diungkapnya lewat ekspresi sangat kental itu, Bambang menjelaskan siapa dirinya yang terombang-ambing dalam sejarah.

Sebagai sosok yang menyintai Nusantara ini, Gajahmada tak hanya menjadi pembicaraan, tapi dia memang ada di hati setiap generasi muda kita.

Terlepas dari apakah Gajahmada itu memiliki watak keras dan tegas, itulah Gajahmada versi emosi permainan seorang pemain pentas yang berpengalaman seperti Bambang Oeban.

Dari tarikan garis wajahnya, teriakannya serta nada dan alunan monolog yang ia pentaskan itu pantas memperoleg apresiasi tinggi dari para penonton. (*)

Palembang
8 Juli 2019

Berita Terkait

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat
ORANG-ORANGAN SAWAH

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:11 WIB

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Kamis, 16 April 2026 - 16:02 WIB

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Jumat, 17 Oktober 2025 - 08:15 WIB

Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !

Berita Terbaru

Polres OKU Timur menggelar Sidang Isbat Nikah Massal dalam rangka HUT Bhayangkara ke-80 Polres OKU Timur. Nikah massal ini diikuti sebanyak 80 pasangan 

Headlines

Sidang Isbat Massal Polres OKU Timur Diikuti 80 Pasangan

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:02 WIB