Klaim Aset BUMN, Warga Sungai Gerong Hadapi Konflik Agraria Berkepanjangan

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan warga Sungai Gerong Banyuasin kembali turun ke jalan, Rabu 21 Januari 2026 menuntut kejelasan status lahan yang mereka tempati namun masih tercatat sebagai aset badan usaha milik negara [BUMN].

Ratusan warga Sungai Gerong Banyuasin kembali turun ke jalan, Rabu 21 Januari 2026 menuntut kejelasan status lahan yang mereka tempati namun masih tercatat sebagai aset badan usaha milik negara [BUMN].

WIDEAZONE.com, BANYUASIN | Konflik agraria antara warga Desa Sungai Gerong, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, dan PT Pertamina mencerminkan persoalan klasik pengelolaan aset negara yang kerap berujung pada ketidakpastian hukum di tingkat tapak. Ratusan warga kembali turun ke jalan, Rabu 21 Januari 2026 menuntut kejelasan status lahan yang mereka tempati namun masih tercatat sebagai aset badan usaha milik negara [BUMN].

Lahan yang disengketakan disebut warga telah lama tidak dimanfaatkan oleh Pertamina. Dalam praktiknya, kawasan tersebut justru berkembang menjadi permukiman dan lahan garapan masyarakat.

Kondisi ini menempatkan warga dalam posisi rentan, karena secara administratif tanah tersebut berada di bawah penguasaan korporasi negara, sementara secara sosial telah dikuasai dan dikelola masyarakat selama bertahun-tahun.

Konflik semacam ini kerap muncul akibat ketimpangan antara penguasaan administratif dan penguasaan faktual. Dalam berbagai regulasi pertanahan, termasuk Undang-Undang Pokok Agraria [UUPA], penguasaan tanah yang berkelanjutan dan berfungsi sosial semestinya menjadi pertimbangan negara.

Namun dalam konteks aset BUMN, tanah yang tercatat sebagai kekayaan negara dipisahkan memiliki rezim hukum tersendiri yang cenderung kaku.

Baca Juga:  Gerak Jalan di Jalur Truk, Keselamatan Anak Dipertaruhkan: Lomba Meriah, Orang Tua Cemas

Sebagai BUMN, PT Pertamina terikat pada aturan pengamanan aset negara. Pelepasan aset tidak dapat dilakukan secara sederhana karena menyangkut nilai kekayaan negara dan memerlukan persetujuan berlapis, mulai dari internal perusahaan, kementerian teknis, hingga Kementerian Keuangan.

Akibatnya, lahan yang tidak lagi dimanfaatkan tetap dipertahankan secara administratif, meskipun di tingkat lokal menimbulkan konflik sosial.

Pemasangan plang kepemilikan oleh Pertamina di sejumlah titik Sungai Gerong mempertegas posisi korporasi, namun di saat yang sama memperdalam jurang konflik. Bagi warga, tindakan tersebut dipandang sebagai simbol dominasi negara atas ruang hidup mereka, sekaligus sinyal ancaman penggusuran yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

“Kami bukan pendatang baru. Kami sudah lama hidup di sini, tetapi selalu dianggap menempati tanah orang lain,” ujar Samsul Helmi, perwakilan warga, saat aksi demonstrasi.

Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Banyuasin berada di posisi dilematis. Di satu sisi, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan langsung untuk menghapus atau melepas aset BUMN. Di sisi lain, pemerintah daerah menghadapi tekanan sosial dari masyarakat yang menuntut perlindungan dan kepastian hukum atas ruang hidup mereka.

Baca Juga:  Kendaraan Listrik di Sumsel Tembus 2.047 Unit, PLN Perkuat SPKLU Center

Dalam aksinya, warga mendesak agar pemerintah daerah berperan aktif sebagai mediator dan membentuk tim penyelesaian konflik agraria yang melibatkan lintas sektor. Warga juga menuntut transparansi status lahan, termasuk dasar hukum pencatatan aset Pertamina serta rencana pemanfaatannya di masa depan.

Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka dari PT Pertamina terkait apakah lahan Sungai Gerong masih masuk dalam rencana strategis perusahaan atau berpotensi dilepas melalui mekanisme tertentu.

Padahal, sejumlah regulasi membuka ruang penataan ulang aset negara yang tidak dimanfaatkan, sepanjang melalui prosedur yang sah dan mempertimbangkan kepentingan publik.

Konflik Sungai Gerong menunjukkan bahwa persoalan agraria tidak semata soal kepemilikan, tetapi juga soal keadilan sosial dan tata kelola aset negara. Tanpa keberanian negara untuk mengevaluasi aset terlantar milik BUMN, konflik serupa berpotensi terus berulang, dengan masyarakat selalu berada di posisi paling rentan.

Laporan Desi OY | Editor Abror Vandozer

Berita Terkait

APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?
Realisasi APBD Palembang 2026: Pendapatan Baru 65 Persen, Belanja 59 Persen hingga Akhir September
ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam
1 Kilo Sabu di Bawah Kursi, Perjalanan Innova Mewah Kandas di Palembang
Pemburu Pajak Kakap Palembang! Jejak Jamiah: Jaksa yang Tak Pernah Minta Jabatan
Bapenda Palembang Buru Penunggak Pajak Kakap, Bersiap “Ditempel”!
Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat
Oknum Ngaku Wartawan Diciduk saat Terima Uang Rp10 Juta dari Perangkat Desa

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 11:28 WIB

APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?

Rabu, 30 September 2026 - 11:15 WIB

Realisasi APBD Palembang 2026: Pendapatan Baru 65 Persen, Belanja 59 Persen hingga Akhir September

Selasa, 29 September 2026 - 20:27 WIB

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Selasa, 29 September 2026 - 16:07 WIB

1 Kilo Sabu di Bawah Kursi, Perjalanan Innova Mewah Kandas di Palembang

Selasa, 29 September 2026 - 14:10 WIB

Pemburu Pajak Kakap Palembang! Jejak Jamiah: Jaksa yang Tak Pernah Minta Jabatan

Berita Terbaru

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Headlines

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Selasa, 29 Sep 2026 - 20:27 WIB