Gubernur Ansar: Air dan Tanah Miliki Nilai Historis

- Jurnalis

Senin, 14 Maret 2022 - 23:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad hadir langsung dan membawa sendiri tanah dan air dari Kepri untuk disatukan dengan seluruh tanah dan air dari penjuru Indonesia dalam sebuah Bejana Nusantara, Senin [14/3], Kalimantan Timur.

Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad hadir langsung dan membawa sendiri tanah dan air dari Kepri untuk disatukan dengan seluruh tanah dan air dari penjuru Indonesia dalam sebuah Bejana Nusantara, Senin [14/3], Kalimantan Timur.

WIDEAZONE.com KEPRI | Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad hadir langsung dan membawa sendiri tanah dan air dari Kepri untuk disatukan dengan seluruh tanah dan air dari penjuru Indonesia dalam sebuah Bejana Nusantara, Senin [14/3], Kalimantan Timur.

Prosesi penyatuan tanah dan air ini dilakukan di Titik Nol Kilometer Ibu Kota Negara [IKN] Nusantara.

Sebanyak 34 Gubernur dari penjuru Indonesia, termasuk Gubernur Kepulauan Riau, masing-masing menyerahkan tanah dan air yang mereka bawa kepada Presiden RI Joko Widodo.

Kemudian Presiden lah yang memasukkan langsung air dan Tanah tersebut dalam Bejana Nusantara yang sudah disiapkan. Prosesi ini sebagai simbol penyatuan tanah air Indonesia di pusat IKN Nusantara.

Hadir dalam kesempatan Istri Presiden RI, Iriana Joko Widodo, ketua MPR RI, para Menteri Kabinaet Indonesia Maju. Dan pada saat prosesi penyatuan tanah dan air, Presiden didampingi oleh Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor.

Diawali dengan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang membawa tanna dan air dan menyerahkannya kepada Presiden, kemudian dilanjutkan Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan seterusnya.

Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad mendapat kesempatan menyerahkan tanah dan air yang ia dawa setelah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Kepada media, Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad sempat ber-statement seusai acara prosesi penyatuan tanah dan air.

Menurut Gubernur, air dan tanah yang dibawa dari Kepri merupakan air dan tanah yang memiliki nilai historis dan erat kaitannya dengan kearifan budaya lokal, yakni, Tanah yang diambil dari Daik-Lingga dan air yang diambil dari sumur di Balai Adat, Pulau Penyengat.

“Kita yakin jika seluruh Gubernur dari setiap Provinsi juga membawa tanah dan air yang diambil dengan asal-muasal sumber yang bisa mewakili daerahnya dan melalui proses penyatuan ini. Semoga saja seperti yang kita harapkan, bisa menyatukan Indonesia, berkah dan guyub,” kata Gubernur Ansar.

Sebelumnya, Gubernur Ansar telah menjelaskan, kenapa tanah yang diambil dari Daik Lingga,  menurut Ansar tanah ini berada di lokasi Struktur Cagar Budaya Bekas Tapak Istana Damnah yang dibangun pada tahun 1860 semasa kesultanan Lingga – Riau Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah [1857-1883], serta dibantu oleh yang Dipertuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf Al – Ahmadi beserta Pemaisurinya [isteri] Tengku Embung Fatimah. Tepatnya tanah yang dibawa diamgil dari lokasi Balai Bertitah [Singgasana] tempat Balai Pemerintahan Sultan yang merupakan Balai Bagian Bekas Istana Sultan Lingga – Riau terakhir di Daik – Lingga Kabupaten Lingga Bunda Tanah Melayu.

Sesuai sejarah, istana Damnah tahta pemerintahannya ketika itu diteruskan oleh Tengku Embung Fatimah [1883-1883] sebagai pemerintahan sementara, lalu dilantiklah dan dinobatkannya Anandanya Raja Abdul Rahman menjadi Sultan Lingga – Riau pada Tahun 1875 dengan gelar sultan Abdulrahman Muazzam Syah [1885-1991] yang merupakan Sultan Lingga – Riau terakhir.

“Berdasarkan sejarah, sumber tanah yang kita bawa ini sangat erat kaitannya dengan sejarah dan nilai-nilai leluhur Melayu di Kepri,” jelas Ansar.

Adapun alasan membawa air dari sumur Balai Adat Pulau Penyengat Indera Sakti dikarenakan banyak yang mengatakan  bila aeseorang ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau belumlah lengkap jika belum bertandang ke Pulau Penyengat serta minum atau sekedar cuci muka menggunakan air di Pulau tersebut.

Saat ini, situs – situs bersejarah yang ada di pulau Penyengat sedang diusulkan kepada UNESCO [Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan] untuk menjadi situs warisan dunia.

“Air tawar itu hingga saat ini tetap bisa dinikmati oleh masyarakat setempat dan para wisatawan yang datang berkunjung. Ada beberapa sumur di Pebyengat dan  salah satunya adalah yang berada di bawah gedung Balai Adat Pulau Penyengat yang berfungsi sebagai tempat untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang – orang penting,” ujar Ansar. [Kamal Asni]

Berita Terkait

Arus Penumpang Pelayaran Libur Imlek di Tanjung Pinang Berjalan Lancar
178 Personel dan 6 Anjing Pelacak Turun Cari Korban Longsor di Natuna
Mensos Dengarkan Keluhan Pengungsi Longsor Natuna
Longsor Natuna, 13 Orang Tewas
Jemaah Haji Lingga Tiba di Batam, Semuanya Sehat
Kepri Fokuskan Pembangunan Kewilayahan Berbasis Potensi Daerah
Gubernur Ansar Bertemu Menhub, Bahas PSN di Kepri
Entry Point Wisman di Kepri Bertambah

Berita Terkait

Jumat, 9 Februari 2024 - 19:18 WIB

Arus Penumpang Pelayaran Libur Imlek di Tanjung Pinang Berjalan Lancar

Senin, 13 Maret 2023 - 19:57 WIB

178 Personel dan 6 Anjing Pelacak Turun Cari Korban Longsor di Natuna

Minggu, 12 Maret 2023 - 15:54 WIB

Mensos Dengarkan Keluhan Pengungsi Longsor Natuna

Selasa, 7 Maret 2023 - 16:17 WIB

Longsor Natuna, 13 Orang Tewas

Jumat, 29 Juli 2022 - 10:08 WIB

Jemaah Haji Lingga Tiba di Batam, Semuanya Sehat

Berita Terbaru