Tragedi Boncel Dan Halimah

- Jurnalis

Minggu, 13 Januari 2019 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cerpen Anto Narasoma

WIDEAZONE.COM, CERPEN– SEJAK pabrik sandal tempat ia bekerja habis dilalap api dua bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarga Boncel menjadi morat-marit. Kerja serabutan apapun untuk makan sehari-hari terpaksa harus ia lakukan. Yang penting tidak merampok dan tiga orang anaknya tidak mati kelaparan.

Namun ia juga berpikir, hidup tidak hanya sebatas makan. Sebagai seorang kepala keluarga, Boncel dituntut untuk memenuhi segala kebutuhan hidup bagi istri dan tiga anaknya. Maka itu ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tapi, meskipun ia sudah berusaha sebisanya, hingga kini ia belum memperoleh pekerjaan yang memadai.

Memikirkan nasibnya yang begitu buruk, Boncel tercenung di sudut ruangan kecil di rumah kontrakannya yang sempit. Airmatanya menitik ke pipi. Apalagi sejak pagi tadi istrinya membawa Indah ke rumah sakit. Kebetulan anak bungsunya yang berusia tiga tahun itu menderita demam tinggi. Sejak semalaman tubuhnya panas sekali. Sepanjang malam Boncel dan istrinya cemas bukan main.  Ia khawatir Indah terserang demam berdarah. Ah, menunggu lewatnya malam, bagi Boncel dan istrinya  terasa begitu panjang. Lama dan mencemaskan. Kegelisahan yang membelit perasaannya terasa sangat menyiksa. Ya Allah, selamatkan anakku..

Pagi-pagi sekali, Halimah –istri Boncel– sudah siap mengantarkan anaknya ke rumah sakit. Karena tak ada ongkos, Boncel terpaksa mengantarkan istrinya dengan becak yang ia pinjam dari tetangga sebelah rumah.

Kemarin, Boncel pernah mengutarakan hasratnya untuk menyewa becak tersebut. Rencana Boncel, ia akan membawanya  sendiri. Pokoknya, dia tidak malu menyandang predikat sebagai tukang becak. Persetan dengan pandangan orang tentang statusnya sekarang.

‘’Mengapa harus malu, Mas. Justru uang yang dihasilkan dari menjadi penarik becak, itu merupakan duit halal. Yang dihasilkan dari keringat sendiri. Tanpa korupsi uang rakyat. Terserah apa kata orang mengenai aku. Yang penting anak-istriku tidak kelaparan,’’ tukas Bocel kepada Mas Gendon, si empunya becak, dua hari lalu.

Mendengar penuturan Boncel, perasaan Mas Gendon jadi terharu. Ia setuju Boncel membawa becaknya. Apalagi Gendon mempunyai dua becak. ‘’Pakailah becak ini. Carilah duit sebanyak yang dapat kau peroleh. Yang penting hati-hati. Soalnya, Dik Boncel baru kali ini menjadi pengemudi becak kan?’’.

‘’Iya, Mas,’’ Boncel menganggukkan kepalanya.

‘’Nah, silakan. Mas doakan agar kau berhasil mencari rejeki yang halal,’’ kata Gendon.

Baru hari kedua Boncel menjadi pengemudi becak, anak bungsunya sakit. Karena tak punya ongkos angkot, maka sejak pagi tadi ia harus mengantarkan Halimah ke dokter. ‘’Mudah-mudahan saja anak kita dapat ditolong dokter rumah sakit ini,’’ kata Boncel berbisik di telinga istrinya. Mata Halimah berkaca-kaca. Untuk menutupi biaya pengobatan anaknya, Boncel harus mencari uang. Ia harus menarik becak kemana saja. Yang penting dapat uang sebanyak-banyaknya. Namun sebelum meninggalkan Halimah, Boncel menyelipkan uang Rp 20 ribu ke balik kutang istrinya.

‘’Kau atasi dulu keadaan ini, Dik. Mas Boncel akan mencari biaya tambahan buat pengobatan Indah. Sebetulnya, aku sedih dan tak tega meninggalkan kau sendirian di rumah sakit. Tapi inilah jalan terbaik buat kita. Aku harus mendapatkan uang sebanyaknya untuk biaya pengobatan anak kita,’’ ucap Boncel kepada istrinya. Meski dengan berat hati, Halimah terpaksa menganggukkan kepalanya.

****

Sepeninggal Boncel, Halimah segera mendaftarkan nama anaknya ke loket pendaftaran. Setelah menunggu antrean sekitar tiga puluh menit, tibalah giliran Halimah.

‘’Waduh, suhu badan anak ibu ini begitu tinggi. Sudah berapa lama anak ini sakit?’’ tanya dokter dengan kening berkerut.

‘’Dua hari, dokter,’’ jawab Halimah.

‘’Tampaknya anak ini harus dirawat inap,’’ kata dokter itu sembari memeriksa detak jantung Indah dengan stateskop. Kemudian dokter itu meneliti kulit lengan dan sekujur badan anak Halimah. ‘’Wah, anak ini harus dirawat secepatnya’’.

Baca Juga:  Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

‘’Lantas bagaimana caranya, dok?’’ tanya Halimah dengan wajah cemas. Wajar jika perasaan cemas itu muncul di dalam diri wanita ini. Sebab, selain tidak mempunyai biaya untuk rawat inap, tidak ada seorang pun yang dapat ia jadikan tempat bertukar pikiran. Ya Allah, bagaimana ini?

Selama berada dalam kegelisahan dan kepedihan yang menghimpit perasaannya, kondisi Indah semakin parah. Matanya mendelik hingga korneanya tidak terlihat sama sekali. Melihat itu Halimah menjerit minta pertolongan dokter yang memeriksanya. Tanpa mempedulikan rasa malu, wanita itu menangis sejadi-jadinya. ‘’Tolong obati anak saya dokter. Keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Tolonglah anak saya,’’ ujar Halimah dengan suara bergetar. Ritme tangisnya semakin meninggi.

‘’Ibu segeralah ke bagian administrasi. Ruangannya ada di sebelah kiri depan dari sini,’’ ujar dokter tersebut. Tiba di ruangan itu, Halimah dipaksa untuk membayar uang muka sebagai jaminan rawat inap. Wanita ini pucat seketika, karena di sakunya hanya ada uang senilai Rp 40 ribu. Jumlah itu pun  setelah ditambah dari pemberian Boncel yang diselipkan di balik kutangnya tadi.

‘’Berapa uang jaminan itu, Bu?’’ tanya Halimah ke petugas administrasi rumah sakit itu. Ia menanti jawaban dari petugas wanita itu dengan harap-harap cemas

‘’Ibu harus memberikan uang jaminan sebesar Rp 300 ribu,’’ jawab petugas administrasi itu dengan wajah ketus tanpa senyum sedikit pun.

‘’Saya hanya ada uang sebesar Rp 40 ribu,’’ kata Halimah.

‘’Wah, gila. Uang sebesar itu mana bisa untuk menjamin biaya pengobatan anak Ibu. Ini rumah sakit profesional, Bu. Kami tidak dapat menampung si sakit. Lebih baik ibu cari rumah sakit lain saja,’’ tukas wanita berseragam baju terusan putih-putih itu, meninggalkan Halimah.

Orang-orang di sekitar tempat itu menaruh simpati melihat nasib Halimah. ‘’Daripada kondisi anak ini semakin parah, sebaiknyaMbak usahakan berobat ke rumah sakit lain saja. Kasihan anak ini, Mbak’’ ujar seorang wanita seusia Halimah.

Sementara suasana di sekitar ruang administrasi rumah sakit itu semakin riuh, tubuh Indah pun mengejang. Panasnya semakin meninggi. Matanya terbeliak. Yang terlihat hanya bagian putihnya saja. Sementara kornea matanya menyelinap ke rongga atas. Melihat kondisi anaknya,  Halimah menjerit meminta pertolongan.

‘’Oh, alangkah kejamnya rumah sakit ini. Padahal saya sudah mendaftarkan diri dengan surat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Ternyata surat ini tidak ada gunanya sama sekali,’’ begitu Halimah memangis. Suaranya membuat orang-orang yang berobat di sana berpaling ke arahnya.

Getar suara tangisan wanita ini kian menyayat hati. Namun demikian, bagi para petugas rumah sakit tersebut, nasib buruk Halimah adalah perkara sepele. Mereka tidak peduli. Jika ibu muda ini punya duit untuk uang muka pertanggungjawaban rawat inap bagi anaknya, Indah boleh masuk ke sal perawatan. Kalau tidak, silakan angkat kaki dari lantai rumah sakit ini, titik.

Merasa tidak ada respons dan dilecehkan oleh petugas rumah sakit tersebut, Halimah pergi dari ruang administrasi. Ada perasaan marah, jengkel, kecewa, dan putus asa, berkecamuk jadi satu. Ketika menuruni anak tangga dari lantai dua, kondisi Indah tak tertolong lagi. Dalam penderitaannya didera temperatur tinggi, jiwa anak itu pergi menghadap Sang Ilahi.

Halimah menjerit dan secara tiba-tiba dunia menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri dan jatuh dari ketinggian tangga paling atas. Tak urung, tubuh wanita muda yang masih mendekap jasad anaknya di dalam gendongan ini tergelimpang bertubi-tubi dan menghempas rentetan anak tangga dari lantai dua. Tubuh Halimah dan jasad Indah tergeletak tanpa daya di lantai rumah sakit itu. Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un…

Baca Juga:  Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

****

Sementara itu di tempat terpisah, Boncel yang sudah berkali-kali mendapat tumpangan sejak menarik becak pagi tadi, telah mengantongi uang sebesar Rp 50 ribu. Uang itu terdiri dari pecahan seribu rupiah. Uang itu ia susun rapi dan diselipkan ke kaos kakinya. Ah, lumayan.

Selagi asyik menghitung-hitung pendapatannya sembari melepaskan lelah, sepasang suami-istri yang bertubuh bongsor minta diantar ke pasar.

‘’Berapa ke pasar, Mang?’’ tanya suami-istri tersebut hampir berbarengan.

‘’Terserah bapak dan ibu saja. Lokasi yang kita tuju dari sini, cukup jauh, Pak. Pikirkan saja nasib saya,’’ tukas Boncel dengan wajah terlihat lelah.

Karena Boncel dinilai suami-istri itu tidak banyak pintaan, dua penumpamng itu pun langsung masuk ke becak secara berhimpitan. Lantaran tubuh keduanya begitu gemuk, terpaksa pantat si suami duduk agak menjorok ke depan. Sedangkan Boncel yang bertubuh kurus hitam itu terengah-engah mengayuh pedal becak. Andaikan pencernaannya sedang bermasalah, pastilah di sela selangkangannya akan becek.

Uh, apalagi matahari mulai tinggi. Cahayanya begitu panas menyengat kulit lelaki bertubuh kecil ini. Baru berjalan seratus meter dari tempat semula, keringat dingin sudah mengucur ke sekujur tubuh. Ya Allah, alangkah pahitnya hidup ini.

Menarik beban yang begini berat, rasanya Boncel mau mati saja. Sebab, ia belum terbiasa mengemudikan becak dengan dua penumpang yang berbobot sebesar karung beras ukuran jumbo. Meskipun demikian, Boncel memaksakan dirinya untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Padahal, tenaganya sudah terkuras sejak tadi. Menarik dua tubuh berbobot luar biasa itu, Boncel sudah kehilangan tenaga. Wuih, bagaimana ini?

Menghadapi keadaan yang tak menguntungkan itu ia segera turun dari sadel becak. Dengan keringat dingin yang mengucur dari segenap celah di tubuhnya, ia mendorong becaknya. Cahaya matahari yang menyengat tajam itu makin mempercepat anjloknya stamina Boncel. Ya Allah, kuatkan aku..uh. Wajahnya terlihat porak-poranda menahan penderitaan.

Sedangkan rentetan mobil yang ada di belakang Boncel sudah membunyikan klakson, persis parade bunyi-bunyian yang menjengkelkan. Sementara di sisi lain, orang-orang yang ada di dalam mobil melontarkan caci maki yang menyakitkan hati. Namun begitu, Boncel tidak peduli. Sebab, ia sudah merasa tak memiliki cukup tenaga untuk mendorong becak secepatnya ke tepi jalan.

Pada kelokan dekat pasar yang dituju, terdapat sebuah jembatan dengan tanjakan cukup tinggi. Masya Allah, mampukah Boncel melewati itu dengan beban yang begitu berat?   Melihat tanjakan yang rasanya tak mungkin bisa dijajaki, roman muka Boncel pucat seketika. Meskipun demikian ia memaksakan diri untuk tidak mengeluh menghadapi tantangan yang berbahaya ini. Apalagi dua penumpang yang berbobot hampir dua kwintal itu tidak peduli dengan kondisi Boncel. Terbayang dengan kondisi anaknya yang membutuhkan biaya pengobatan, Boncel menepiskan keterbatasan tenaganya. Mau tak mau, dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong becak tersebut ke medan tanjakan.

Tepat di ofret jembatan, kakinya terpeleset kulit pisang. Tubuh Boncel terbanting ke belakang. Dengan diboboti dua tubuh tambun, roda becak itu melindas dada Boncel. Lelaki muda bertubuh kurus hitam ini terpekik. Dari mulut Boncel yang naas keluar darah segar. Ia pingsan seketika. Sementara itu dua penumpangnya terjengkang dari becak dan jatuh ke selokan berlumpur hitam, dekat trailer sampah pasar yang basah. Mendengar hiruk-pikuk kecelakaan, orang-orang di sekitar itu menyerbu ke tempat kejadian. (*)

Berita Terkait

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar
Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung
Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal
Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang
SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award
Fariz RM Berbagi Pengetahuan Aransemen Musik dengan Pelajar SMA-SMK se-Sumsel
Festival Jazz Suara Musi 2024 Guncang Palembang
SBS-Adinata Project Gelar Musik dan Lagu Nostalgia

Berita Terkait

Selasa, 11 Maret 2025 - 16:21 WIB

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar

Senin, 17 Februari 2025 - 18:29 WIB

Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung

Jumat, 10 Januari 2025 - 13:50 WIB

Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal

Kamis, 26 Desember 2024 - 10:45 WIB

Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang

Minggu, 8 Desember 2024 - 09:44 WIB

SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award

Berita Terbaru