“Pandemi Dua Tahun” COVID-19 Sempat Ditentang Praktisi Hukum ini

- Jurnalis

Minggu, 22 Agustus 2021 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo: Tangkapan layar di halaman FB Amin Tras

Photo: Tangkapan layar di halaman FB Amin Tras

SIKAP dan cara berpikir Muhammad Aminuddin SH terkait adanya seorang yang tewas karena virus corona, sangat ditentang praktisi hukum Sumatera Selatan itu. Mengapa?

Dalam wawancara dengan media ini, Aminuddin yang lebih dikenal sebagai Amin Tras itu, mengatakan manusia mati karena ajal.

“Kalau ada yang mengatakan ada manusia mati karena penyakit, itu tidak benar,” kata Amin Tras dalam wawancara terbuka di ruang kerjanya, Minggu (22/8/2021).

Menurut Amin, tiap manusia, apabila sudah tibanya ajalnya, ia akan mati. Jadi, katanya, tdak benar apabila ada orang mati karena penyakit. “Sedangkan secara medis, tiap penyakit, tentu ada obatnya,” ujar Amin.

Karena itu ia berharap agar masyarakat memahami nilai pemahaman kedua kutub yang sangat bertolak belakang dengan rumusan hukum.

Baca Juga:  Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat

Karena itu Amin menolak adanya pemahaman masyarakat tentang perlawanan terhadap virus corona. “Kita tidak mampu menghindar dari kehadiran COVID-19. Apalagi melawan eksistensinya yang sulit ditangkap penglihatan mata kita,” katanya.

Maka sejak dua tahun lalu ia “menolak” perlawanan terhadap COVID-19 yang sudah menyebar ke seantero belahan dunia. Makanya, kata Amin, untuk menghindari pemaparan virus corona, tiap orang harus meningkatkan imun fisiknya.

“Tak ada upaya yang lebih efektif selain meningkatkan kadar imun di dalam tubuh kita. Sebab hanya imunitas fisik manusia yang dapat menghindari kita dari virus corona,” ujar Amin.

Menurut Amin, sejak awal kemunculan virus corona dari Wuhan China, indikasinya biasa-biasa saja. Namun di tahun kedua, virus ini semakin menggila. Karena itu Amin mencoba menyikapinya dengan sikap cerdas.

Baca Juga:  ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

“Virus yang sulit dilacak dengan tatapan mata ini, harus disikapi dengan kekebalan tubuh manusia. Artinya, kita harus mencoba meningkatkan imunitas,” katanya.

Terkait dengan masalah itulah Amin mencoba mengungkap idenya untuk tidak mengajak “perang”, tapi mencoba bersikap sebaliknya.

“Menghadapi kehadiran corona itu biasa saja. Karena semua itu adalah ketentuan Allah. Jadi hadapi seperti biasa. Kuncinya, kuatkan iman dan imun kita,” katanya.

Karena itu Amin mencoba mengabadikan keberadaan kasusnya merupakan persoalan biasa. Sebab kehadiran COVID-19 itu akan memberi rahmat dan kreativitas manusia. “Itu saya tulis dalam tiga puisi bertajuk “Jangan Tantang Aku, Sayangi Aku, dan Corona Allah,” ujar Amin Tras, tersenyum. (*)

Laporan Anto Narasoma

Berita Terkait

Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk
Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu
ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam
Pemburu Pajak Kakap Palembang! Jejak Jamiah: Jaksa yang Tak Pernah Minta Jabatan
Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat
Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179
ISPU Palembang di Angka 209, DPRD: 2.222 Siswa Terpapar ISPA, PJJ Tetap Lanjut
Dari Anak Yatim hingga Jadi Nahkoda Dishub Palembang: Kisah Panjang Sariyansyah Ismail

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:53 WIB

Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu

Selasa, 29 September 2026 - 14:10 WIB

Pemburu Pajak Kakap Palembang! Jejak Jamiah: Jaksa yang Tak Pernah Minta Jabatan

Senin, 28 September 2026 - 14:04 WIB

Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat

Jumat, 18 September 2026 - 11:05 WIB

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Berita Terbaru