Palembang Menyapa Sejarah: Lima Hari Lima Malam Tak Pernah Padam

- Jurnalis

Sabtu, 3 Januari 2026 - 13:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Palembang Ratu Dewa di tengah semarak peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam, Sabtu 3 Januari 2025.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa di tengah semarak peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam, Sabtu 3 Januari 2025.

WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Untuk sesaat, denyut Kota Palembang seolah mundur delapan dekade ke belakang.

Deru mesin mobil-mobil tua, derap sepeda ontel, serta kibaran bendera merah putih membawa ingatan kolektif kota tertua di Indonesia ini ke tahun 1940-an—masa ketika kemerdekaan belum sepenuhnya dimiliki, dan perjuangan menjadi napas sehari-hari.

Pemerintah Kota Palembang menggelar peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam, sebuah peristiwa heroik yang menandai perlawanan sengit rakyat Palembang terhadap agresi Belanda.

Namun peringatan kali ini tak sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi rekonstruksi sejarah hidup, menghadirkan kembali semangat juang yang pernah membara di setiap sudut kota.

Lawang Borotan Saksi Bisu

Pelataran Lawang Borotan, lokasi strategis yang menjadi titik balik pertempuran, berubah menjadi panggung sejarah terbuka. Di tempat inilah dahulu peluru dan tekad beradu, dan kini, sejarah itu dihidupkan kembali.

Mobil-mobil klasik seperti Willys dan Jeep Ford GPW melaju perlahan, diikuti barisan sepeda ontel yang dikayuh pemuda-pemudi berseragam pejuang. Ikat kepala merah putih terikat di dahi mereka, bendera berkibar di tangan—sebuah visual yang menghadirkan sensasi seolah mesin waktu benar-benar bekerja, membawa Palembang kembali ke masa perjuangan.

Baca Juga:  Pelarian Terpidana Kekerasan Seksual di Sekayu Kandas!

Pemimpin di Tengah Rakyat, Sejarah di Tengah Kota

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, memilih tak sekadar menjadi penonton. Ia mengenakan seragam pejuang lengkap dengan atributnya, duduk di salah satu kendaraan tua, dan menyusuri ruas jalan protokol kota. Kehadirannya menjadi simbol bahwa sejarah bukan milik masa lalu semata, tetapi bagian dari kepemimpinan hari ini.

“Lima Hari Lima Malam bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan kita dibayar mahal. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengisinya dengan karya,” tegas Ratu Dewa di hadapan masyarakat.

Menurutnya, peringatan ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan—antara darah para pejuang yang tertumpah dan tanggung jawab generasi penerus untuk menjaga makna kemerdekaan.

“Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, Palembang membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tetap hidup dan berdenyut dalam setiap langkah,” ujarnya.

Teater Perjuangan dan Emosi Kolektif

Tak hanya parade kendaraan dan kostum, peringatan ini juga diwarnai pertunjukan teatrikal perjuangan. Adegan perlawanan, pengorbanan, dan keberanian ditampilkan dengan intensitas emosional yang kuat, menggugah ingatan sekaligus empati penonton.

Baca Juga:  Wali Kota Ratu Dewa bersama Kajari Palembang Serahkan Gerobak Bakso untuk Eks Napiter

Sejumlah warga terlihat terdiam, larut dalam kisah yang bukan sekadar tontonan, melainkan cermin perjalanan bangsa.

Dari Sejarah ke Masa Depan Pariwisata

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, menekankan bahwa peringatan ini memiliki dimensi lebih luas: menghidupkan potensi wisata sejarah Palembang.
“Masih banyak jejak perjuangan yang tersembunyi dan belum dikenal luas oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, Pemkot Palembang akan lebih gencar melakukan sosialisasi dan pengemasan sejarah menjadi destinasi edukatif dan inspiratif.

“Ini bukan hanya soal mengenang, tapi menghidupkan kembali semangat dan kebanggaan akan kota ini. Sejarah Palembang adalah kekuatan, dan itu harus dirasakan oleh generasi hari ini dan yang akan datang,” kata Sulaiman.

Sejarah Terus Berdenyut

Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam tahun ini membuktikan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hidup dalam ingatan, dalam ruang kota, dan dalam kesadaran kolektif warganya.

Palembang, dengan segala lapisan waktunya, kembali menegaskan jati dirinya: kota tua yang tak pernah kehilangan semangat muda—semangat untuk merdeka, menjaga, dan melanjutkan perjuangan dengan cara zaman ini.

Laporan/Editor Abror Vandozer/red

Berita Terkait

Ahli Hukum Pidana: Implikasi Pidana atas Distorsi Informasi dan Klaim Legitimasi Pasca Putusan PK MA 32 PK/TUN/2026
Mengakhiri Polemik PGRI: Hormati Putusan Inkrah Pengadilan
Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang
Eks Ketua Forum Guru Honorer Sebut Pernyataan Riza Pahlevi Hanya Slogan
Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi
Aktivasi IMEI Ilegal di 12 Ribu Telepon Seluler Asal Luar Negeri Terbongkar! Empat Tersangka Diciduk
Polemik Parkir Rajawali Belum Usai, Komisi II DPRD Palembang Desak Tindak Lanjut Kasus Dugaan Perusakan
Pegang SK Resmi! PGRI Sumsel Tancap Gas, Riza Pahlevi: Organisasi Guru Harus Kembali ke Tangan Guru

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:04 WIB

Ahli Hukum Pidana: Implikasi Pidana atas Distorsi Informasi dan Klaim Legitimasi Pasca Putusan PK MA 32 PK/TUN/2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:18 WIB

Mengakhiri Polemik PGRI: Hormati Putusan Inkrah Pengadilan

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:11 WIB

Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:26 WIB

Eks Ketua Forum Guru Honorer Sebut Pernyataan Riza Pahlevi Hanya Slogan

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:35 WIB

Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi

Berita Terbaru

Akademisi Fakultas Hukum Universitas PGRI Palembang, Dr Dadang Apriyanto SH MH

Headlines

Mengakhiri Polemik PGRI: Hormati Putusan Inkrah Pengadilan

Jumat, 5 Jun 2026 - 21:18 WIB