AIR merupakan sarana sangat penting bagi manusia. Tak hanya digunakan untuk masak dan mencuci, peranan air dalam kehidupan makhluk hidup (terutama manusia) sangat kompleks dan menjadi pagar bagi tiap kepentingan hidup.
Tak heran apabila banyak yang mengatakan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat dua per tiga cairan sebagai penopang kehidupannya.
Dalam tradisi masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, air begitu mulia melingkari kebiasaan dalam adat perkawinan masyarakatnya.
Dalam tradisi perkawinan antara bujang dan gadis Palembang, air merupakan hal penting. Seperti kebiasaan yang dilakukan masyarakat dalam rukun cara, peranan air selalu digunakan sebagai tradisi mandi simburan.
Mandi simburan ini biasanya dilakukan pada malam ketiga selepas kedua mempelai “campur” di malam pertama sesudah resepsi pernikahan.
Dalam tradisi mandi simburan, selain kedua mempelai disiram terlebih dahulu oleh tetua adat, orang-orang yang berada di dekat lokasi itu harus “menjadi korban” siraman.
Di bawah tahun 1970-an, setiap wong Plembang ngentenke anaknyo (orang Palembang menilahkan anaknya), fungsi air dalam tradisi mandi simburan begitu sakral.
Air yang sudah dihimpun di dalam drum, nampan besar atau ember, sebelumnya “diimantrai” dengan tuturan berbahasa Arab. Sebab antara adat dan tradisi masyarakat begitu erat kaitannya dengan nilai-nilai keagamaan (Islam).
Masyarakat Palembang yakin setelah mereka menjalani prosesi mendi simburan, anak dan menantunya akan terbebas dari aral dan rintangan tatkala memghadapi keluasan samudera kehidupan.
Dari kepercayaan mereka, tiap tetes air yang disiram dan melekat di kulit dan tubuh pengantin akan mengantarkan mereka ke ruang-ruang kebahagiaan.
Terkait masalah itu, pengamat adat dan tradisi Palembang, Kgs Muhammad Tohir, mengatakam mandi simburan itu merupakan simbol pembersihan diri untuk memasuki rumah tangga baru.
“Dampak pembersihan diri itu, agar dapat mempengaruhi eksistensi keturunan yang bersih dari perilaku buruk. Pembangunan akhlak inilah diharapkan mampu menghadirkan anak-anak manusia yang soleh dan soleha, ” ujar Tohir mengulas tradisi mandi simburan tersebut.
Sebagai alat pembersih, air yang digunakan sudah disteril dari unsur keburukan yang seaktu-waktu bakal melumuri kehidupan “keluarga baru” ini.
Karena itu, dengan dibimbing oleh para tetua, kedua mempelai dikenalkan dengan istiadat yang mampu menjaga moral dari perilaku buruk yang dapat merusak rumah tangga kedua mempelai.
Kalau dulu, tak ada tradisi pacaran seperti sekarang. Karena anak gadis Palembang saat itu pantang keluyuran seperti yang terjadi saat ini.
“Jika tidak ada kepentingan yang sangat urgen, mereka dilarang keras keluyuran ke luar rumah, ” kata Tohir.
Karena sistem pingit yang dianut begitu kuat, maka para gadis berada dalam situasi pingitan ketat. Mereka diawasi para tetua, seperti nenek, ibu, bibi serta kerabat tua yang terkait dengan nilai kekerabatan sang gadis.
Dalam tradisi mandi simburan seperti yang disebutkan sebelumnya, dinilai mampu memberikan arahan yang jelas terkait kehidupan sehari-hari, sesuai nilai agama (Islam) yang dipeluk masyarakat Palembang.
Tata Cara Mandi Simburan
Sebelum prosesi mandi simburan itu dilaksanakan, kedua mempelai disandingkan di ruang besar, di tepi drum atau baskom besar yang telah diisi air bersih.
Seorang tetua adat membacakan doa selamat bagi prosesi mandi simburan tersebut. Setelah selesai, kedua mempelai disirami air layaknya mandi seperti biasa.
Namun pada puncaknya, kedua mempelai disimbah dengan air, yang kemudian simburan air di arahkan ke orang-orang di sekitar prosesi.
Unsur air tak hanya melingkupi rumus-rumus kimiawi saja, namun dalam rumusan tradisi yang mengenal simbol simbol kebersihan dan kesucian, air merupakan unsur paling utama dalam tiap kegiatan adat.
Guru Besar Rijks-Universiteit, Dr TH Fischer, mengatakan dalam simbol simbol tertentu, air merupakan unsur kehidupan jang menghidupkan semua machluk hidup.
Bahkan unsur sedjuk, panas (tatkala dimasak di atas tungku) dan daja melekat tjairan air, memberikan nilai rasa bagi kehidupan itu (buku Enleiding to de Culture Anthropologie hal 125, terbitan Pembangunan 1953).
Karena itu secara simbolik, air dapat membersihkan dan menyucikan unsur tertentu yang berkaitan dengan tradisi klasik masyarakat.
Karena itu wajar jika masyarakat Palembang menggunakan air sebagai prosesi mandi simburan sebagai bagian dari tradisi klasiknya.
Lantas, mengapa tradisi luhur itu tampaknya tak dilakukan lagi di era saat ini? Menurut budayawan Palembang, Yai Beck, menyatakan bahwa saat ini tradisi itu tampaknya sudah “tak dipakai” lagi di tengah prosesi pernikahan masyarakat Palembang.
“Bisa jadi karena biaya untuk melaksanakan prosesi itu sangat besar. Mempertimbangkan persoalan inilah mandi simburan jarang dilaksanakan masyarakat. Bisa jadi hanya orang kaya saja yang dapat melakukan itu, ” katanya. (bersambung)








![Penandatangan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PLN yang diwakili Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UID Jawa Barat, Martindar Jalu Respati (kedua dari kanan) mewakili General Manager PLN UID Jabar dengan BDx Indonesia yang diwakili CEO BDx Indonesia, Agus Hartono Wijaya (ketiga dari kiri) disaksikan oleh Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto (ketiga dari kanan) didampingi EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati (kedua dari kiri), EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Joni [kanan], dan EVP Manajemen Konstruksi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, Widyo Anggoro Putro [kiri] di Kantor PLN Pusat, Selasa [19/5]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260602-WA0036_copy_1003x578-225x129.jpg)









![Gubernur Sumatera Selatan [Sumsel] Dr H Herman Deru saat memberikan sambutan dalam pembekalan Pendidikan Dasar–Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama [PD-PKPNU] Angkatan II yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama [PWNU] Sumsel di Balai Diklat Keagamaan Palembang, Jumat 29 Mei 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0037_copy_1223x770-360x200.jpg)
