Lawan Hoaks, Gunakan Sastra

- Jurnalis

Selasa, 12 Februari 2019 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIDEAZONE.COM, JAKARTA–HOAKS menjadi fenomena paling berbahaya. Seorang pemuda dibunuh di India lantaran karena hoaks. Di dalam negeri, Indonesia mulai terancam karena hoaks. Namun bukan berarti hoaks tidak bisa dilawan. Banyak pihak terus mengampanyekan untuk melawan hoaks. Satu di ataranya, lahir dari kalangan dunia sastra. Ini terpapar dari diskusi bertajuk “Hancur Lebur karena Hoaks, Melawan dengan Sastra & Humor”,di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.

Beberapa sastrawan dan jurnalis terlihat di sana. Di antarnya, Suhardi AS Laksana dan Linda Christanty. Keduanya membahas hoaks dengan di ranah acara hari itu. Menurut AS Laksana, sastra akan kalah bila disandangkan dengan hoaks karena penyebaran hoaks sangat terorganisir.
“Bagi saya, ada cara lain untuk melawan hoaks melalui sastra dan ini sanggat realistis. Sastra harus diimbangi dengan pengetahuan ilmiah yang kita miliki,” katanya. Menurut Laksana, ia merasa peran sastra sanggat penting. Jika benar-benar serius dan ada kemauan, sastra bisa digunakan sebagai alat melawan hoaks.

Gerakan ini perlu didukung. Dalam situasi seperti ini, karya harus mendapat perhatian di hati publik. Jika tidak, hanya akan terjadi dua kemungkinan, simplistik atau hanya berupa teriakan saja,” tukas AS Laksana.
Menurut Linda Christanty, hoaks adalah ancaman. Di antaranya untuk memicu perang urat syaraf. Ada jenis hoaks melawan arus bawah terhadap narasi di sosial media. Aada juga hoaks dalam dunia jurnalisme yang terjadi di wilayah wartawan karena sulit mengakses narasumber.
Linda seorang jurnalis itu memaparkan, apabila seorang jurnalis itu memiliki figur jurnalis yang baik, maka dia akan menulis berita sesuai fakta di lapangan.
Dia tidak akan mengubah fakta. Dalam jurnalisme kebenaran memang bersifat tidak mutlak. “Ketika kita melakukan peliputan dan telah mempublikasikan hasil tulisan kita, itu bisa menjadi karya sesuai fakta di lapangan,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, dapat dilakukan wawancara bersama narasumber baru dan dinilai kredibel beserta riset lain yang dilakukan. Lantas masyarakat bisa menemukan fakta baru, maka bisa melakukan verifikasi atas tulisan sebelumnya. “Dalam jurnalisme, kebenaran tidak mutlak dan tidak betul-betul 100%. Dalam sehari memang seperti faktanya,” kata Linda.
Hoaks adalah alat untuk perlawanan. Namun pengaruh negatifnya sanggat berpotensi di masyarakat. Menurut AS Laksana, hoaks akan terus muncul dan tak peduli bagaimana pun respon masyarakat.
“Ketika kita memiliki kerangka cara berpikir ilmiah, termasuk pada hoaks yang memiliki niat baik sekali pun. Maka dampak dan risikonya akan mampu diminalisir,” ujarnya. (Anto)

Berita Terkait

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar
Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung
Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal
Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang
SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award
Fariz RM Berbagi Pengetahuan Aransemen Musik dengan Pelajar SMA-SMK se-Sumsel
Festival Jazz Suara Musi 2024 Guncang Palembang
SBS-Adinata Project Gelar Musik dan Lagu Nostalgia

Berita Terkait

Selasa, 11 Maret 2025 - 16:21 WIB

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar

Senin, 17 Februari 2025 - 18:29 WIB

Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung

Jumat, 10 Januari 2025 - 13:50 WIB

Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal

Kamis, 26 Desember 2024 - 10:45 WIB

Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang

Minggu, 8 Desember 2024 - 09:44 WIB

SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award

Berita Terbaru