Klien Alami Gangguan Psikis, Kuasa Hukum Layangkan Somasi ke PTBSPC

Kuasa Hukum Nining Analita, Desri Nago SH bersama rekannya, Phillipus Pito Sogen SH, Rizky Tri Saputra dan Ilham Wahyudin SH. 
Kuasa Hukum Nining Analita, Desri Nago SH bersama rekannya, Phillipus Pito Sogen SH, Rizky Tri Saputra dan Ilham Wahyudin SH. 

WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Akibat surat panggilan [SP] pertama hingga ketiga dalam satu hari, Nining Analita mengalami gangguan psikis. Kuasa Hukum Desri Nago SH dan rekan layangkan somasi kepada PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal [BSPC].

Klien kami tertekan seolah-olah melakukan kejahatan luar biasa. Kita ini negara hukum. Untuk pembuktian tetap menunggu sikap dari PT BSPC yang sudah tidak ada rasa kemanusiaan dengan mau menyita aset dan memberikan undangan tiga kali dalam waktu satu hari,” ungkap Desri bersama rekannya, Phillipus Pito Sogen SH, Rizky Tri Saputra dan Advokat Ilham Wahyudin SH. 

banner 468x60

Soal undangan, sebut Desri itu sudah mengada-ada, itu upaya agar klien kami datang mungkin akan dipaksa menandatangani surat pengembalian uang sebesar Rp405 juta. 

Bahkan, kata Desri saat ini kliennya mendapatkan surat panggilan dari PT BSPC, tapi pengiriman suratnya mengada-ada, sedangkan yang bersangkutan dalam kondisi sakit. 

“PT BSPC sudah menakutkan klien kita dengan memberikan undangan untuk menjelaskan tidak masuk kerja dengan memberikan surat undangan sebanyak tiga kali tapi diberikan dalam satu hari. Surat itu dikirimkan ke rumah ibu Nining mereka ini mengirimkan tiga surat undangan dalam satu hari. Kami menilai ini perbuatan tidak jelas dalam konteks apa. Kami akan melakukan upaya hukum bila terjadi hal yang di luar kaidah hukum,” tuturnya. 

Menurut Desri, PT BSPC tidak berhasil menyita aset secara paksa tanpa proses peradilan dan uang yang diklaim oleh perusahaan sebesar Rp 405 juta itu harus dikembalikan, padahal ada uang yang digunakan untuk kepentingan perusahaan.

Sedangkan yang terpakai oleh klien kami hanya Rp99 juta, maka itu membuat klien kami sangat tertekan secara psikis. Itu tidak ternilai dengan uang PT BSPC. Selain itu, klien kami kooperatif dengan korporasi, tapi kalau ngirim surat undangan dalam sehari 3 undangan bagaimana mau menghadiri. 

Sementara, Nining Analita merasa tertekan dan diintimidasi pihak PTBSPC, lantaran dirinya dipaksa menandatangani pengembalian uang sebesar Rp405 juta. 

Padahal, dari Rp 405 juta itu digunakan sebesar Rp300 jutaan untuk operasional perusahaan, dan hanya memakai Rp 99 juta.

Nining Analita pun berniat mengembalikan uang yang terpakai. Namun, PT BSPC memberikan tiga kali panggilan kepada Nining Analita dalam waktu bersamaan. Padahal dirinya dalam kondisi sakit. 

Nining Analita mengatakan, pada 15 September 2023, ada orang kantor ke rumah memberikan Surat Panggilan [SP] pertama, kedua, dan ketiga atas ketidakhadiran dia secara berturut sejak 1 September 2023.

Namun, hal itu di luar pemikirannya alias ngawur, sebab SP pertama hingga ketiga diberikan pada hari yang sama yaitu 15 September 2023.

SP pertama dibuat pada [6/9] undangan untuk hadir pada 7 September 2023 dengan agenda untuk menjelaskan prihal ketidakhadirannya selama 5;hari berturut-turut dari 1-5 September 2023.

“Kemudian, SP Kedua tanggal pembuatan [10/9], undangan untuk hadir 11 September 2023, agenda menjelaskan ketidakhadiran saya 5 hari berturut turut dari 1-9 September 2023,” ungkapnya. 

SP ketiga, lanjut Ninit, pembuatan tanggal [11/9] untuk hadir pada 12 September 2023, agenda menjelaskan ketidakhadiran saya selama 5 hari berturut-turut dari tanggal 1 – 11 September 2023.

Laporan Ocha Rosa | Editor AbV