Cipayung Plus Palembang Kecam Keras Dugaan Persekusi di Depan Polda Sumsel, Enam Mahasiswa Luka-Luka

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aliansi Cipayung Plus Kota Palembang mengecam keras dugaan aksi kekerasan, intimidasi, persekusi, hingga pembubaran paksa terhadap massa aksi mahasiswa di depan Markas Polda Sumatera Selatan, Selasa 13 Oktober 2026.

Aliansi Cipayung Plus Kota Palembang mengecam keras dugaan aksi kekerasan, intimidasi, persekusi, hingga pembubaran paksa terhadap massa aksi mahasiswa di depan Markas Polda Sumatera Selatan, Selasa 13 Oktober 2026.

• Enam Mahasiswa Luka-luka
‎• Desak Pengusutan dan Siapkan Aksi Lebih Besar
‎• Dua Wartawan Dikeroyok
‎
‎WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Aliansi Cipayung Plus Kota Palembang mengecam keras dugaan aksi kekerasan, intimidasi, persekusi, hingga pembubaran paksa terhadap massa aksi mahasiswa di depan Markas Polda Sumatera Selatan, Selasa 13 Oktober 2026.
‎
‎Dalam pernyataan sikapnya, aliansi yang terdiri dari HMI, GMI, LMND, PMII, KAMI, GMKI, dan PMKRI itu mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
‎
‎Aliansi menilai tindakan kekerasan terhadap massa aksi merupakan ancaman serius terhadap kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dan mencederai demokrasi.
‎
‎“Demokrasi bukan untuk dibungkam, aspirasi rakyat bukan untuk dibungkus dengan kekerasan,” tegas Aliansi Cipayung Plus dalam pernyataan sikapnya.
‎
‎Kericuhan disebut terjadi ketika massa Aliansi Cipayung Plus baru tiba di depan Mapolda Sumsel untuk menyuarakan tuntutan penegakan hukum terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan [karhutla] di Sumatera Selatan.
‎
‎Namun, sebelum tuntutan tersebut disampaikan, massa mengaku menghadapi dugaan kekerasan dan pembubaran paksa oleh pihak yang diduga berasal dari organisasi kemasyarakatan (ormas) serta sejumlah orang yang tidak dikenal.
‎
‎Aliansi menegaskan tidak ada kelompok yang berhak melakukan intimidasi, ancaman, maupun tindakan main hakim sendiri terhadap warga yang menyampaikan aspirasi secara damai.
‎
‎Dampak insiden tersebut, Aliansi Cipayung Plus mencatat enam orang dari sejumlah organisasi mahasiswa mengalami luka-luka.
‎
‎Berikut daftar korban berdasarkan keterangan dalam pernyataan sikap aliansi:
‎
‎1. Taufik [HMI]: mengalami luka pada bagian dagu.
‎2. Haris [KAMI]: mengalami luka pada bagian hidung.
‎3. Abdul Basit [PMII]: mengalami luka pada bagian tangan.
‎4. Sepa [GMKI]: mengalami keseleo pada kaki setelah disebut terinjak saat penyerangan.
‎5. Opal Arif [HMI]: mengalami lebam di kepala akibat dugaan pemukulan oleh orang tidak dikenal.
‎6. Fahrizal Putra [LMND]: mengalami lebam-lebam setelah diduga dipukuli orang tidak dikenal.
‎
‎Aliansi menuntut agar seluruh dugaan kekerasan tersebut diusut secara objektif, transparan, dan profesional. Mereka juga mendesak Polda Sumsel menjamin keselamatan mahasiswa serta masyarakat sipil yang menyampaikan aspirasi secara damai.
‎
‎Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Cipayung Plus menyampaikan tiga tuntutan utama.
‎
‎Pertama, mengecam segala bentuk kekerasan terhadap massa aksi dan mendesak pengusutan tuntas terhadap dugaan persekusi, intimidasi, serta pembubaran paksa.
‎
‎Kedua, mendesak kepolisian mengidentifikasi dan memproses pihak-pihak yang terbukti terlibat sesuai hukum, tanpa pandang bulu.
‎
‎Ketiga, menuntut jaminan perlindungan kebebasan berpendapat agar intimidasi dan kekerasan serupa tidak kembali terjadi.
‎
‎Aliansi juga menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar sebagai respons atas insiden tersebut.
‎
‎“Siapa pun pelakunya, apabila terbukti melakukan kekerasan harus dipertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,” tegas mereka.
‎
‎Aliansi menutup pernyataan sikap dengan seruan, “Lawan kekerasan! Hentikan persekusi terhadap massa aksi!”
‎
‎Sebelumnya, tak hanya mahasiswa mengalami tindakan intimidasi kekerasan, aksi serupa melanda dua jurnalis yang tengah melakukan peliputan saat aksi tengah berlangsung di depan Mapolda Sumatera Selatan di antaranya Rachmad Kurniawan dari TribunSumsel dan Mulyadi dari PalTV.
‎
‎Keduanya tak hanya dikeroyok, para jurnalis juga mengaku diintimidasi dan dipaksa menghapus rekaman video kericuhan. Bahkan, telepon genggam mereka nyaris dirampas saat berupaya mendokumentasikan bentrokan antarkelompok massa.
‎
‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden tersebut juga mengakibatkan tiga mahasiswa dan seorang anggota Polri menjadi korban.
‎
‎Mulyadi mengungkapkan, kericuhan bermula ketika dua kelompok massa bertemu di sekitar Simpang Polda Sumsel. Satu kelompok mengenakan pakaian hitam dan membagikan masker, sementara kelompok mahasiswa dari Cipayung hendak menggelar demonstrasi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan [karhutla] serta kabut asap di Sumatera Selatan.
‎
‎“Awalnya ada rombongan pakai baju hitam ada kegiatan bagi-bagi masker di Simpang Polda. Setelah itu ada rombongan mahasiswa dari Cipayung datang untuk gelar aksi demo [karhutla],” ungkap Mulyadi saat memberikan keterangan di IGD RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, seperti dikutip WIDEAZONE.com.
‎
‎Situasi mendadak memanas ketika kelompok mahasiswa hendak menyampaikan orasi di depan pintu keluar Mapolda Sumsel. Ketegangan pun berubah menjadi bentrokan yang meluas hingga kawasan lampu merah.
‎
‎“Keos itu dari pintu kedua Polda sampai ke lampu merah,” katanya.
‎
‎Di tengah kericuhan, para wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik justru menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. Mereka diminta menghapus rekaman video bentrokan. Ponsel yang digunakan untuk meliput bahkan nyaris dirampas.
‎
‎“Kami dikeroyok oleh rombongan baju hitam,” tegas Mulyadi.
‎
‎Mulyadi menyebut Rachmad menjadi korban dengan kondisi paling parah. Rekan seprofesinya itu disebut dipukuli dan diinjak-injak oleh sejumlah orang hingga sulit melepaskan diri dari kepungan massa.
‎
‎“Yang paling parah Rachmad. Dia dipukuli, diinjak, dan tidak mau dilepas oleh rombongan mereka. Di situ saya berusaha menyelamatkan Rachmad dan Yola, jadinya saya juga jadi sasaran,” tuturnya.
‎
‎Padahal, menurut Mulyadi, para wartawan telah berusaha menjelaskan bahwa mereka sedang menjalankan tugas peliputan. Namun, penjelasan tersebut tidak diindahkan.
‎
‎Mulyadi juga mengaku telah berusaha meminta pertolongan kepada anggota Polri yang berada di lokasi saat situasi semakin tidak terkendali. Namun, ia menyatakan tidak mendapatkan pertolongan yang diharapkan.
‎
‎“Di situ ada anggota polisi tapi mereka diam saja. Saya sudah berusaha minta tolong anggota intel tapi tetap kami kena keroyok,” ujarnya.
‎
‎Dalam insiden tersebut, Rachmad juga dituduh membawa pisau oleh pihak yang mengeroyoknya. Tuduhan itu dibantah Mulyadi yang menyatakan rekannya sedang melakukan siaran langsung melalui Facebook ketika meliput kejadian.
‎
‎“Tidak benar tuduhan bawa pisau itu,” tegasnya.
‎
‎Laporan/Editor Abror Vandozer

Baca Juga:  ISPU Palembang di Angka 209, DPRD: 2.222 Siswa Terpapar ISPA, PJJ Tetap Lanjut

Berita Terkait

Breaking News! Dua Wartawan Dikeroyok saat Liputan Demo di Mapolda Sumsel, Handphone Nyaris Dirampas
7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan
“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎
Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel
PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif
Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk
Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu
APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:07 WIB

Cipayung Plus Palembang Kecam Keras Dugaan Persekusi di Depan Polda Sumsel, Enam Mahasiswa Luka-Luka

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:29 WIB

Breaking News! Dua Wartawan Dikeroyok saat Liputan Demo di Mapolda Sumsel, Handphone Nyaris Dirampas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:53 WIB

“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:45 WIB

Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif

Berita Terbaru