Breaking News! Dua Wartawan Dikeroyok saat Liputan Demo di Mapolda Sumsel, Handphone Nyaris Dirampas

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi kedua wartawan, Rachmad Kurniawan dari Tribun Sumsel [terbaring/dirawat] dan Mulyadi dari PalTV IGD RS Bhayangkara Moh Hasan.

Kondisi kedua wartawan, Rachmad Kurniawan dari Tribun Sumsel [terbaring/dirawat] dan Mulyadi dari PalTV IGD RS Bhayangkara Moh Hasan.

‎‎• Paksa Hapus Video, Wartawan Jadi Sasaran
‎• Minta Tolong Tapi tak Ada
‎• Dua Wartawan Luka-luka
‎
‎WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Aksi kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Dua wartawan, Rachmad Kurniawan dari TribunSumsel dan Mulyadi dari PAL TV, menjadi korban pengeroyokan saat meliput aksi massa di depan Mapolda Sumatera Selatan, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Selasa 13 Oktober 2026, siang.
‎
‎Tak hanya dikeroyok, para jurnalis juga mengaku diintimidasi dan dipaksa menghapus rekaman video kericuhan. Bahkan, telepon genggam mereka nyaris dirampas saat berupaya mendokumentasikan bentrokan antarkelompok massa.
‎
‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden tersebut juga mengakibatkan tiga mahasiswa dan seorang anggota Polri menjadi korban.
‎
‎Mulyadi mengungkapkan, kericuhan bermula ketika dua kelompok massa bertemu di sekitar Simpang Polda Sumsel. Satu kelompok mengenakan pakaian hitam dan membagikan masker, sementara kelompok mahasiswa dari Cipayung hendak menggelar demonstrasi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan [karhutla] serta kabut asap di Sumatera Selatan.
‎
‎“Awalnya ada rombongan pakai baju hitam ada kegiatan bagi-bagi masker di Simpang Polda. Setelah itu ada rombongan mahasiswa dari Cipayung datang untuk gelar aksi demo (karhutla),” ungkap Mulyadi saat memberikan keterangan di IGD RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, seperti dikutip WIDEAZONE.com.
‎
‎Situasi mendadak memanas ketika kelompok mahasiswa hendak menyampaikan orasi di depan pintu keluar Mapolda Sumsel. Ketegangan pun berubah menjadi bentrokan yang meluas hingga kawasan lampu merah.
‎
‎“Keos itu dari pintu kedua Polda sampai ke lampu merah,” katanya.
‎
‎Di tengah kericuhan, para wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik justru menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. Mereka diminta menghapus rekaman video bentrokan. Ponsel yang digunakan untuk meliput bahkan nyaris dirampas.
‎
‎“Kami dikeroyok oleh rombongan baju hitam,” tegas Mulyadi.
‎
‎Mulyadi menyebut Rachmad menjadi korban dengan kondisi paling parah. Rekan seprofesinya itu disebut dipukuli dan diinjak-injak oleh sejumlah orang hingga sulit melepaskan diri dari kepungan massa.
‎
‎“Yang paling parah Rachmad. Dia dipukuli, diinjak, dan tidak mau dilepas oleh rombongan mereka. Di situ saya berusaha menyelamatkan Rachmad dan Yola, jadinya saya juga jadi sasaran,” tuturnya.
‎
‎Padahal, menurut Mulyadi, para wartawan telah berusaha menjelaskan bahwa mereka sedang menjalankan tugas peliputan. Namun, penjelasan tersebut tidak diindahkan.
‎
‎Mulyadi juga mengaku telah berusaha meminta pertolongan kepada anggota Polri yang berada di lokasi saat situasi semakin tidak terkendali. Namun, ia menyatakan tidak mendapatkan pertolongan yang diharapkan.
‎
‎“Di situ ada anggota polisi tapi mereka diam saja. Saya sudah berusaha minta tolong anggota intel tapi tetap kami kena keroyok,” ujarnya.
‎
‎Dalam insiden tersebut, Rachmad juga dituduh membawa pisau oleh pihak yang mengeroyoknya. Tuduhan itu dibantah Mulyadi yang menyatakan rekannya sedang melakukan siaran langsung melalui Facebook ketika meliput kejadian.
‎
‎“Tidak benar tuduhan bawa pisau itu,” tegasnya.
‎
‎Akibat pengeroyokan tersebut, Rachmad dan Mulyadi mengalami sejumlah luka. Mulyadi terlihat lemas saat menjalani perawatan di ruang IGD RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang. Ia mengalami memar di wajah serta luka robek pada bibir.
‎
‎Sementara itu, Rachmad terbaring lemah di tempat tidur IGD dengan luka memar di wajah serta darah yang mengalir dari hidung dan kaki.
‎
‎“Sekarang kondisi saya masih pusing,” ujar Rachmad.
‎
‎Insiden ini menjadi sorotan serius terhadap keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan di lapangan. Kekerasan, intimidasi, hingga upaya memaksa wartawan menghapus rekaman merupakan persoalan serius yang perlu diusut secara menyeluruh.
‎
‎Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak kepolisian. [AbV]

Baca Juga:  70 CCTV AI Kepung Palembang, Incar Pelaku Pencurian Aset PJU

Berita Terkait

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan
“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎
Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel
PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif
Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk
Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu
APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?
Realisasi APBD Palembang 2026: Pendapatan Baru 65 Persen, Belanja 59 Persen hingga Akhir September

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:29 WIB

Breaking News! Dua Wartawan Dikeroyok saat Liputan Demo di Mapolda Sumsel, Handphone Nyaris Dirampas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:24 WIB

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:45 WIB

Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:53 WIB

Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk

Berita Terbaru