DUNIA IBRA

- Jurnalis

Sabtu, 6 April 2019 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMUNAN Ibra begitu jauh, dalam dan terkadang lupa dengan keadaan sekelilingnya. Dari pagi, ia duduk sendiri di dekat jendela rumah kayunya yang kokoh.

Padahal selama lebih dari 15 tahun, Ibra dikenal masyarakat sebagai dosen paling cerdas dan mampu memberi pengajaran dengan kualitas lebih dibanding rekan-rekan dosen lainnya.

Ibra banyak memberikan inspirasi dan aspirasi positif ketika mengajar di ruang kuliah. Istrinya Mawarniah, cantik, cerdas dan juga bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi yang sama.

ibra dan Mawarniah mempunyai satu anak. Ia sangat tampan. Dari keluarga ilmuwan yang berbahagia itulah, Mardian hidup manja dan berkecukupan.

Bahkan di usianya yang baru masuk ke tiga tahun itulah Mardian menghadapi persoalan pelik rumah tangga keluarganya.

Ibra dan Mawarniah mendiami rumah kayu yang mereka beli ketika baru menikah setengah tahun. Rumah itu begitu dingin, terdiri dari kayu unglen (ulin) dan berdinding kayu tembesu.

Itu rumah tradisional Palembang. Rumah limas memilili ruang-ruang berundak tiga. Seperti tangga, tiap undakan (ruang ) ada yang lebih tinggi, menengah dan rendah. Tiap undakan itu memiliki filosofi kehidupan masyarakat Palembang yang menyandang gelar kebangsawanan, raden, kemas, masagus dan kiagus.

Meski istrinya sudah mau pergi ke kampus, namun Ibra tetap terpatung di sudut jenddela itu. Bahkan ketika anaknya Mardian menangis ketika ia terbalik dari sepeda roda tiganya, Ibra seolah tak peduli.

“Mas, itu anakmu menamgis. Berhentilah melamun. Bardian jatuh dari sepedanya, ” teriak Mawarniah kepada Ibra.

Namun Ibra seolah tak peduli. Ia tetap berada dalam sekapan lamunan panjang. Sementara tangisan Bardian makin menjadi.

Akhirnya Mawarniah bergegas ke luar dari kamari setelah mengenakan busana muslimahnya untuk mengajar ke kampus Universitas Sriwijaya.

“Kamu ini seolah tak mempedulikan anakmu sendiri, Mas. Anak jatuh dari sepedanya, kau jiustru asik melamun. Apa yang kau pikirkan, Mas, ” tukas Mawarniah dengan nada tinggi.

ibra tetao diam. Tak ada reaksi sedikit pun meski suara istrinya begitu tunggi memenuhi ruang keluarga.

“Kamu ini bagaimana Mas? Anak jatuh dari sepedanya kau tetap terpatung di dekat jendela. Memangdang ke liuar, apa yang kamu pikirkan, hah?,” Mawarniah jadi jengkel.

Dengan segala cacian yang ke luar dari mulut wanita cantik tersebut, Ibra seolah tidak peduli. Sudah tiidak waras, barangkalii!

Setelah menitipkan anaknya ke tetangga sebelah, Mawarniah pergi ke kampus. Untunglah tetanggamya itu baik, seorang nenek yang menyayangi keluarga Mawarniah.

Selama ini, ketika Ibra dan Mawarniah memberi materi pengajaran di kampus, sejak usia setahun Bardaniah dititipkan ke Ibu Romlah.

Kini Ibra sudah tidak seperti biasanya. Sebab, sejak setahun lalu, kerjanya hanya melamun. Entah, apa yang ia renungkan seharian penuh di rumahnya.

Tapi ketika dibawa ke dokter jiwa, Ibra tidak gila. Reaksi berpikirnya sangat baik. Sebab ketika sesekali ia “terjaga” dari renungan panjamgnya, Ibra kembali seperti ilmuan yang cerdas dan tak banyak bicara.

Ini reaksi yang membuat istrinya heran bukan main. Kalau sikap suaminya tidak gila, kok ia selalu termenung seharian memangdang jauh dari jendela ruang keluarganya?

Berkali-kali Mawarniah memikirkan itu, tapi ia tidak memperoleh jawaban memuaskan hati. Sebab dokter yang merawat Ibra menyarakan, suaminya mengalami reaksi kecerdasan yang berlebihan. “Itu dampak dari isi memori yang berlebihan. jadi Pak Ibra tidak gila. Ia tetap normal, ” ujar Dokter Rustam Efendi, seorang dokter ahli syaraf dan kejiwaaan.

Ibra adalah seorang doktor ahli fisika. Ia begitu cerdas dan mandapat gelar ilmuwan dari Amerika. Sertefikat penghargaan itu dibingkai dan digantung di dinding dekat foto lama wisudanya saat meraih gelar strata satu bidang fisika.

Dulu, ketika ia jatuh terggelimpang di lantai kamar mandi rumah sewanya ketika Ibra masih bujangan, ia sempat tak sadarkan diri. Tapi ada reaksi gerakan punggung badan dan ekspresi wajahnya. Tapi orang-orang yang menolongnya Ibra ketika itu, tidak mempedulikan keadaannya. ibra hanya dilarikan ke rumah sakit. Namun Ibra diizinkan pulang karena tidak mengalami gangguan psikologis.

Siang itu, Badian dititipkan ke Nenek Romlah. Orangtua ini tampaknya kurang sehat. Tapi karena cintanya keoada anak-anak, Nek Romlah tetap menerima Bardian ketika Mawarniah menitipkan anaknya saat ia hendak pergi mengajar ke kampus.

Setelah Mawarniah pergi, Bardiah main boneka monyet yang sangat ia sayangi. Saat itu, Nenek Romlah istirahat di tempat tidur. Sebetulnya, Badian diajak Nek Romlah. Karena wanita tua itu tertidur, Bardian ke luar kamar dan bermain dengan boneka monyetnya. Saat di tangga luar, anak itu terpeleset dan jatuh ke tanah becek.

Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Saat Bardian jatuh, Ibra melihat dari jendela tempat ia berdiam diri. Tiba-tiba ia tersentak. ‘Ah, anaku jatuh”. Suara Ibra begitu keras terdengar. Ia segera melompat dari jendela dan memburu Bardian.

“Ooo, anakku. Mengapa kau main ke seni, Nak. Mana ibumu?” teriak Ibra sembari mengangkat putranya. Melihat kondisi Bardian, Ibra nenitikkan air mata. Ia membawa anaknya ke rumah dan membersihkan tubuh Bardian dari lumpur yang melekat di bajunya.

Mendengar kegaduhan di luar rumahnya, Nenek Romlah terjaga dari tidurnya. “Ah, ada apa ya? “.

Orang tua itu ke luar rumah. Ia melihat boneka monyet tergeletak di atas lumpur kubangan air hujan. Ah, ke mana Bardian. Di mana anak itu.

Nenek Romlah panik. Ia segera berteriak memamggil Bardian. Oramg-orang kampung itu ke luar dan bertanya ke Nenek Romlah.

“Ada apa, Nek? ” tanya Ibu Warsiti ke pada Nek Romlah.

“Saya mencari Bardian, anaknya Ibu Mawarniah. Ia tadi menitipkan anaknya ke saya. Tapi saya tertidur, karena tubuh saya kurang sehat, ” ujar Nenek Romlah. Air muka terlihat cemas.

Nenek Romlah dan beberapa ibu kampung itu mendatangi rumah Mawarniah. Nek Romlah mengetuk pintu. Ia berteriak mamanggil Ibra.

“Pak Ibra, apakah Bardian ada bersama anda?” begitu teriak Nek Romlah dan ibu-ibu yang ikut mendatangi rumah Mawarniah bertanya.

Pintu rumah pun di buka. Dari balik pintu, Ibra mumcul. Wajahnya terlihat dingin. “Nek Romlah, saya tadi melihat Bardian jatuh dari tangga rumah Nenek. Ia tergekimpang di lumpur. Makanya saya langsung melompat dan menyelamatkan anakku itu, ” tukas Ibra membimbing Bardian.

“Mohon maaf Nak Ibra. Saya ini kurang sehat. Jadi saya tadi ketiduran. Sebenarnya saya sudah mengajak Bardian ke kamar tidur saya. Tapi ketika saya tertidur, ternyata anak itu ke luar dari kamar saya. Mohon maaf sekali lagi, Nak Ibra,” jawab Nek Romlah.

“Tak apa -apa. Saya yang salah. Saya terlalu banyak berpikir tentang materi pelajaran yang harus saya ajarkan ke mahasiswa”.

Nek Romlah dan ibu-ibu tersebut, kaget dan tertegun melihat Ibra berbicara. Ia tampak normal dan memperlihatkan cara berpikir orang normal.

****

Sudah tiga bulan terakhir Mawarniah selalu mual. Apabila tercium sesuatu yang tak sedap, ia langsung mual dan mau muntah.

Ia sudah seringkali mengalami hal itu. Mawarniah heran. Tak seperti biasanya Mawarniah selalu sehat dan tak terpengaruh apa-apa jika memghadapi suasana apa saja. Tapi tercium apa saja yang memualkan perasaanya, Mawarniah mau muntah. Ah, ada apa ini?

Mawarniah begitu kesal dan cemas. Sebab rasa mualnya itu selalu menyentak perasaan dan hatinya. Ah, apakah ia hamil?

Mawarniah membatah kata hatinya. Tidak. Tidak mungkin ia hamil. Karena sudah lama sekali ia tidak “campur” dengan Ibra. Apalagi kondisi Ibra saat ini lebih cenderung tenggelang dalam dunianya sendiri.
Sedangkan ketila tidur, Ibra justru melamun di meja tulisnya.

Jadi tidak mungkin apabila ia saat ini hamil. Tapi perasaan lain ketika ia mual mencirikan bahwa Mawarniah hamil
Kalau memamg harus, ia akan memeriksakan keadaannya ke dokter.

Ruangan cukup luas. Ada sekitar empat kali delapan meter persegi. Sedangkan di beberapa sudut terdapat peralatan medis. Sedangkan aroma obat-obatan menyeruak tajam.

“Dari pemeriksaan kami, ibu saat ini sedamg hamil delapan mingguu, ” ujar Dokter Muliani, seorang dokter alhli kandungan di rumah bersalin yang ternama di Palembang.

Mawarniah kaget setengah mati. Ah, rasanya tidak mungkin kalau dia hamil. Tapi fakta dari hasil pemeriksaan dokter memang begitu.

Sejumlah pikiran berkecamuk di kepalanya. Bahkan ada pikiran sesat apakah anak dalam kendungannya itu akan ia gugurkan? Jika mengingat suaminya Ibra saat ini kondisinya seperti orang tidak waras. Apakah harus kulalukan agar dirinya terbebas dari beban yang memggantung dalam kehidupan.

Padahal di awal pernikahannya dulu setumpuk harapan menghiasi keindahan hdiup kelurganya. Ibra merupakan dosen paling dihormati dan dikenal sebagai doktor fisika paling potensial.

Sedangkan dirinya adalah dosen bahasa Inggris yang mendapat prioritas menambahkan ilmunya di Britania Raya dan Amerika Serikat.

Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Pokoknya, di dalam pikirannya, ia dan Ibra tidak akan hidup melarat karena keduanya mempunyai potensi sangat dibutuhkan di Universitas Sriwijaya.

Ternyata, angan-angan yang indah tersebut seperti embum yang hilang karena matahari pagi.

Sekembali ke rumahnya selepas periksa kehamilan, Mawarniah menceritakan ikhwalnya ke Ibra. Namun laki-laki itu hanya diam sembari menganggukan kepala. Kemudian Ibra kembali menatap jauh ke luar jendela.

Perasaan Mawarniah saat itu kecewa dam jengkel bukan main. Ia meluapkan kemarahammya.

“Mas Ibra ni lelaki seperti apa, ya? Diberi kabar tentang kehamilanku justru diam dan mengagguk-angguk saja. Saya kecewa dengan kamu, Mas. Kalau begitu aku akan memggugurkan kandungan ini. Sedangkan setelahnya aku akan pulang kampung saja. Daripada menunggu suami yang status kehidupannya tidak jelas, lebih baik kita berpisah saja, ” tegas Mawarniah dengan air mata berlinang ke pipinya.

Sementara Ibra diam saja. Justru menoleh ke istrinya pun tidak sama sekali. Ini yang membuat perasaan Mawarniah semakin membara. Peeasaan marahnya ke pada Ibra mencapai titik kulminasi.

Mawarniah membanting tas di tangganya. Ia langsung menghambur ke kamar tidurnya. Di sanalah iia menangis sejadi-jadinya. Dari nada suaranya ada kepiluan dan kekecewaan mendalam.

Suami yang diharapkannya dapat mendampingi dalam susah senang, ternyata duduk terpekur seperti orang tidak waras.

Dalam hatinya, kalau keadaannya terus-terusan seperti ini, lebih baik ia berpisah saja. Sedangkan anaknya Bardan dan yang ada di kandungannya akan Mawarniah tinggalkan ke keluarga Ibra.

Meski ia bekerja sebagai dosen di Universitas Sriwijaya, namun jika suaminya sudah tidak bisa hidup normal, apa gunanya ia harapkan. Lebih baik pulang ke kampungnya, di Bogor, Jawa Barat.

Ia baru menyadari bahwa hampir setahun Ibra mengalami “luapan intelektual” yang membuatnya seperti orang gila, Mawarni dapat memperhatikan segala kekurangan yang dirasakannya.

Meskli pun begitu, ia tetap menjaga kesabarannya hingga melahirkan anak yang dikandungnya. Sembari menantikan hari kelahiran anaknya, ia tetap mengajar di kampusnya. Segala suka duka yang dialami Mawarniah, dijadikan lekuatan batinnya.

Sejak peristiwa itu Mawarniah tetap yakin ia akan kuat hingga jabang bayi di kandungannya akan dilahirkan.

Namun kadang-kadang kejengkela terhadap suaminya begitu memuncak, tapi Mawarniah tak hendak mengungkapkannya. Karena ia tahu bahwa suaminya akan tetap membisu dan tidak mempedulikan beban yang menyesak di dadanya.

Biarlah. Biarlah kesusuhan ini ditanggungnya sendiri. Nanti setelah melahirkan ia akan mengambil sikap, sehingga ia tidak akan berlama-lama menikmati penderitaan psikologisnya.

****

Malam itu cuaca makin memburuk. Cuaca semakin menipis. Hujan yang sejak tadi turun secara gemercik, akhirnya semakin deras.

Kilat dan petir saling sambngt-menyambung hingga menciutkan nyali siapa pun. Saat petir keenam bergemuruh pecah di langit lepas, Mawarniah melahirkan bayi keduanya.

Di tengah hiruk-pikuknya pesta alam yang demikian basah, wanita asal Bogor ini mensngis sejadi-jadinya. Karena kelahiran bayinya itu tidak didampingi suaminya Ibra.

“Jika ibu hendak menangis, silakan menangis. Kesedihan ibu jangam ditahan-tahan. Karena meninggalkan titik kesedihan di hati akan mempengaruh psikologis i bayi ibu, ” ujar Camelyn, dokter cantik yang menolong persalinanya itu tersenyum.

Setelah beberapa saat barulah Mawarniah meminta untuk melihat bayinya. Kemudian ia meminta bantuan seoramg pembesuk di ranjang pasien sebelah untuk mengazankan anaknya.

Suara azan yang dilantunkan pemuda itu sangat merdu. Bahka menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Perasaan Mawarniah begitu sensitif menengar itu. Ada pertarungan sedih dan gembira meliihan anaknya yang juga laki-laki.

Meski ada kepedihan di hatinya, namun Mawarniah bertahan mati-matian untuk tidak menangis. Meski pun begitu, air matanya tetap mengucur. Entah, air mata itu pertanda sedih arau gembira, yang jelas hatinya kini sedikit plong dan tidak terbebani oleh masalah yang dihadapinya.

“Terima kasih dokter atas supportnya. Saya sekarang sudah lega. Saya juga mengucapkan terima kasih sebesarnya untuk adik.., ee, ” suara Mawarniah.

“Ferdian, Mbak, ” pemuda itu menanggapi pernyataan Mawarniah.

“Oo, iya Adik Ferdian. Terima kasih atas azan yang kau lantunkan untuk anak saya, ” katanya.

“Yah, sama-sama Mbak. Semoga anak ini akan menjadi anak yang baik dan berhasil dalam kehidupannya. Bahkan saya berdoa agar kelak ia menjadi anak yang saleh, ya, ” tukas pemuda itu.

“Yah, Insya Allah”.

 

Berita Terkait

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA
Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:47 WIB

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:11 WIB

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Kamis, 16 April 2026 - 16:02 WIB

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Berita Terbaru