WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Di tengah klaim surplus produksi beras hingga 4 juta ton gabah, masyarakat Sumatera Selatan justru dihadapkan pada kenyataan pahit: beras premium kemasan 5 kilogram langka di pasaran. Kelangkaan ini memicu ancaman panic buying dan inflasi.
Fakta ironis ini terungkap dalam rapat Komisi II DPRD Sumsel bersama Bulog dan stakeholder pangan lainnya pada Senin 31 Agustus 2026.
Kepala Bulog Wilayah Sumsel Babel, Ikhsan, secara blak-blakan mengakui bahwa stok yang selama ini diklaim aman ternyata bukan untuk seluruh masyarakat.
“Stok kita itu cukup untuk 10 bulan ke depan, tapi itu bukan untuk Sumatera Selatan semuanya. Itu hanya untuk penugasan pemerintah saja, yaitu bantuan pangan dan SPHP. Masyarakat Sumsel ini kan tidak semuanya makan beras medium, ada yang makan beras premium,” ujar Ikhsan.
Ia merinci, stok penugasan tersebut hanya 33 ribu ton untuk bantuan pangan periode Juli-September dan sekitar 10 ribu ton untuk SPHP, dengan proyeksi stok akhir Desember hanya 70 ribuan ton. Sementara serapan Bulog dari produksi petani Sumsel hanya 4 persen atau 123 ribu ton dari total potensi 2,6 juta ton setara beras.
Di sisi lain, Komisi II DPRD Sumsel menilai kelangkaan ini adalah kegagalan regulasi pemerintah provinsi.
“Kita minta Bulog mengambil langkah strategis supaya tidak terjadi panic buying dan inflasi yang luar biasa. Hari ini kita rumuskan regulasinya seperti apa,” tegas Sekretaris Komisi II DPRD Sumsel Fenus Antonius.
DPRD bahkan mendesak Gubernur Sumsel untuk segera mengeluarkan Peraturan Gubernur [Pergub] untuk melarang gabah keluar dari Sumsel, karena lambatnya mekanisme Perda dinilai tidak mampu mengantisipasi krisis.
Kondisi semakin diperparah dengan keluhan produsen. Dari hasil sidak lapangan, produsen mengaku menyerah memproduksi beras 5 kg.
“HPP mereka membeli gabah itu terlalu tinggi di masyarakat dengan harga Rp 7.700 per kilogram, ditambah biaya kemasan 5 kilogram dan biji plastik yang naik, serta upah buruh yang lebih mahal. Itu membuat harga melonjak di atas HET pemerintah. Mereka tidak sanggup, makanya mereka tidak memproduksi,” ungkapnya.
Akibatnya, produsen memilih stop produksi beras premium 5 kg, yang menjadi penyebab utama kelangkaan di pasaran.
Menanggapi hal itu, Bulog hanya bisa berjanji akan mengamankan beras medium SPHP sebagai substitusi jika masyarakat beralih dari beras premium yang hilang di pasaran. Namun hingga kini, belum ada solusi konkret untuk mengembalikan beras premium 5 kg ke rak-rak pasar. [Abror Vandozer]

















![Presiden RI Prabowo Subianto [gambar Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20250227-WA0099-scaled-266x266-1-266x200.jpg)

