Pasalnya, petani tidak bisa menggarap lahan pertaniannya kembali, mereka terancam tak bisa turun ke sawah karena saluran irigasi yang tidak berfungsi untuk mengairi persawahan.
Tak hanya sampai di situ, saluran irigasi yang biasanya mengairi sawah mengalami longsor sepanjang 100 meter.

Karman mengatakan, ancaman curah hujan terlalu tinggi beberapa bulan yang lalu juga mengakibatkan terjadinya longsor sehingga menjadikan tidak berfungsinya saluran irigasi tersebut.
“Banyak ancaman yang dihadapi saluran irigasi. Ketika terjadinya hujan deras, saluran irigasi tak mampu menahan sejumlah debit air hingga menyebabkan longsor dan menjadikan saluran irigasi tidak berfungs,” katanya.
Harapan kami kepada Pemkab Muara Enim, lanjutnya, agar segera membenahi dan memperbaiki saluran irigasi ini.
“Sehingga kami yang berlokasi di ataran sawah Pauh Ijang tidak mengalami kekeringan untuk ke depannya,” tambahnya.
Ia pun menuturkan, saluran irigasi ataran Pauh Ijang mempunyai sumber mata air dari pegunungan desa Segamit dan mengalir ke persawahan ataran sawah.
“Karena saluran irigasi itu terancam tak berfungsi, petani di ataran Pauh Ijang tahun depan akan mengalami kekeringan,” tuturnya
Senada disampaikan, Refli selaku petani di desa Segamit, air memang ada tapi tidak seberapa, kalau petani membuka lahan dapat dipastikan tidak akan sanggup untuk mengairi seluruhnya.
“Mulai dari ataran dan sekitarnya. Diperkirakna memiliki luas 25 bidang sawah,” ujarnya.
Refli menjelaskan akibat adanya longsor di saluran irigasibaru-baru ini, desa Segamit ataran persawahan pauh ijang sebagian persawahan petani tidak dapat menggarap sawahnya kembali untuk tahun depan.
“Kalau tidak dibangun kembali oleh dinas PUPR Pemkab Muara Enim untuk melakukan, maka dipastikan petani tak dapat menanam kembali,” keluhnya.
“Kita juga akan mengajukan permohonan kepada dinas PUPR Bina Marga Muaraenim, agar segera meninjau dan menindaklanjuti persoalan yang melanda petani desa Segamit saat ini,” tandasnya.
Laporan Alamsyah
Editor Abror Vandozer



















