banner 120x600
banner 120x600
banner 2560x598

banner 2560x598

Tiga Puisi Corona, Sesuai Konteks COVID-19

  • Bagikan
Seniman panggung dan penyair Bambang Oeban
Seniman panggung dan penyair Bambang Oeban
banner 468x60

MEMBACA tiga puisi Amin Tras yang berjudul “Jangan Tantang Aku, Corona Allah, dan Sayangi Aku” sangat menyentuh pola pikir dan nilai keimanan seseorang.

Dari uraian kata yang sederhana, nilai isi ketiga puisi itu cenderung menggugah kadar pemikiran yang cerdas di dalam menghadapi paparan virus corona 2019 (COVID-19).

Seperti yang dikemukakan penyair Belanda Johann Ludwick Tiek, gugahan isinya mampu mempengaruhi tingkat tertinggi dari nilai pemikiran seseorang. “Inilah cara cerdas dari nilai isi yang disampaikan melalui lapian kalimat dalam puisi yang cerdas,” ujar Johann.

Menurut Amin Tras, sebelumnya ia hanya tergugah ketika dunia, termasuk Indonesia terpapar virus corona dari wilayah Wuhan, China. “Awalnya virus ini hanya memapar manusia, sama seperti virus fluenza. Namun dalam dua tahun terakhir, daya paparnya justru semakin gencar berbahaya,” ujar Amin Tras, Minggu (22/8/2021).

Karena itu dalam suasana pandemi COVID-19 dan tahun kemerdekaan Indonesia, kata Amin, ia mencoba menggelar lomba baca puisi secara webinar. ‘Awalnya saya enggak yakin ada yang mengikutinya. Ternyata dahsyat sekali. Ada sekitar 68 peserta. Wuih, saya tidak menyangka,” ujar Amin tertawa.

Sebagai penulis tiga puisi itu, katanya, awalnya dia tak yakin dapat memberi nilai pengajaran secara relijiusitas. “Buktinya, wuih, amazing sekali,” kata Amin.

Menurut Amin, genre puisi memberi gambaran tentang isi. Sebab dari tema (sense of poe) puisi yang ia tulis, katanya, menyampaikan fakta perkembangan COVID-19 di lapangan dengan keyakinan religius.

Menurut dia, idiom inilah yang menggugah nilai rasa (feel), garis nada (tone), dan sasaran isi (intention), sehingga puisi itu memberi nilai imajinasi yang kuat. “Makanya peserta baca puisi ini diikuti dari Sumatera hingga NTT,” katanya.

Menanggapi pergelaran lomba baca puisi secara webiner tersebut, seniman panggung dan penyair Bambang Oeban, mengatakan kegiatan yang sangat cerdas.

Sebab dalam kondisi paparan COVID-19 seperti sekarang, kegiatan lomba baca puisi itu sungguh luar biasa. “Apalagi diikuti 68 peserta dari seluruh Indonesia, patut diberi apresiasi tinggi,” ujar Bambang Oeban.

Sebab kandungan puisi memiliki nilai kata-kata pilihan (diksi). Sebab sesuai imajinasi, penyampaian puisi ditulis sesuai dengan sesuatu yang konkret (the concrete word).

“Maka itu ketiga puisi yang dilombakan memiliki kadar isi yang bagus dan sesuai konteks saat ini,” ujar Bambang Oeban. (*)

Laporan Anto Narasoma

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *