Soal Kerajaan Sriwijaya, Pernyataan Ridwan Saidi, Ngawur

- Jurnalis

Kamis, 29 Agustus 2019 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Ungkapan sejarah dan budaya terkait keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif seperti dikatakan budayawan Betawi, Rudwan Saidi, merupakan statemen ngawur.

Menurut Ketua Yayasan Budaya Tandipulau, Dr Erwan Suryanegara, pernyataan Ridwan Saidi terkait esksitensi Kerajaan Sriwijaya dinilai tidak berlandaskan fakta sejarah.

“Pernyataan Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif itu ke luar dari mulut seorang yang tidak mempunyai kapasitas untuk membicarakan kerjaan besar tersebut. Akibatnya statemen itu cenderung ngawur dan tidak berdasarkan nilai kesejarahaan,” kata Erwan ke pada Wideazone.com, Kamis (29/8/2019).

Selain ngawur dan tidak berdasar, kata Erwan, pernyataan Ridwan Saidi itu tidak memiliki data ilmiah.

Pembahasan tentang masalah itu,Ujar Erwan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Walikota Palembang Harnojoyo.

Pertama, ia telah lebih dahulu merangkum pernyataan tandingan sesuai fakta sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

“Saya meminta secara baik-baik agar kanal Macan Idealis sebagai pengunggah untuk menghapus video tersebut. Sebab jika tak dihapus dari akun kanal Youtube Idealis, berdampak buruk bagi anak-anak muda kita. Hal itu akan meracuni cara berpikir mereka,” kata Erwan.

Baca Juga:  Perdana di RI, Herman Deru Resmikan Tata Kelola Sumur Minyak Muba

Apalagi Ridwan Saidi sebagai budayawan Betawi memuat pernyataan Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif dan merupakan kumpulan para bajak laut.

Menurut dia, bukti adanya Kerajaan Sriwijaya itu sudah dikaji secara lokal, nasional maupun masyarakat internasional. Sejumlah bukti berupa artefaktual arkeologis berupa arca, prasasti serta candi yang sudah membuktikan adanya kerajaan tersebut.

Erwan meminta pernyataan Ridwan Saidi di kanal Youtube yang dikelola Vasco Ruseimy untuk menghapus pernyataanmnya yangntak dilandasi fakta sejarah.

Melengkapi pernyataan Dr Erwan Suryanegara itu, praktisi hukum asal Sumatera Selatan, Nur Kholis SH MA, mengatakan bidayawan Betawi itu melengkapi cara berpikirnya tentang Kerajaan Sriwijaya.

Nur Kholis, SH, MA
Nur Kholis, SH, MA

Sebab sebagai warga Sumsel, Nur Kholis kerap ikut para arkeolog untuk menggali bukti-bukti sejarah tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

“Rasanya ada sekitar 16 prasasti terkait Kerajaan Sriwijaya. Misalnya kita memiliki prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, prasasti Siddhayatra, prasasti Kambang Unglen 1-2 serta prasasti-prasasti lainnya terkait bukti Kerajaan Sriwijaya,” kata Nur Kholis.

Baca Juga:  Muratara "ZONA MERAH" Sengketa Lahan Petani Versus Lonsum--Seleraraya Berpotensi Meledak

Wajar apabila Erwan marah menghadapi pernyataan Ridwan Saidi. Sebab, kata Nur Kholis, Kerajaan Sriwijaya itu dinilainya fiktif serta komunitasnya merupakan kelompok bajak laut.

Karena itu Nur Kholis sangat mempertanyakan predikat budayawan yang melekat di diri Ridwan Saidi.

Sebab dia tidak berbicara berdasarkan fakta sejarah dan benda-benda peninggalan kerajaan itu berupa situs dan artefaknya.

“Misalnya terkait prasasti kota kapur. Prasasti ini ditemukan ditepi Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Penangan, Provinsi Bangka,” kata Nur Kholis.

Prasasti ini berbentuk tiang setinggi 150 sentimeter. Di sekujur bentuknya berhuruf pallawa berbahasa melayu kuno, bertarikh 686 Masehi.

Prasasti ini, kata Nur Kholis, ditemukan administratur Sungai Selam Kepulauan Bangka, JK Van Der Meulen pada November 1892.

Prasasti ini ditrankripsi oleh Brangdes di tahun 1902, kemudian diterbitkan dalam karangan yang diberi judul Qudheden dalam encyclopoedie van Nederlandsch Indie.

“Dari runutan bukti yang ada, Kerajaan Sriwijaya memang merupakan kerajaan besar yang diakui antarbangsa,” ujar Nur Kholis menutup pembicaraan. (abror vandozer/anto narasoma)

Berita Terkait

Pengurus PGRI 17 Kabupaten/Kota di Sumsel Satu Komando: Tolak Mandat bukan Panitia Pengantin–Versi Ketua Mandat Bilang Kedepankan Dialog
Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang
Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi
Pegang SK Resmi! PGRI Sumsel Tancap Gas, Riza Pahlevi: Organisasi Guru Harus Kembali ke Tangan Guru
Gubernur Herman Deru Sebut Sumsel Zero Konflik, Kader NU Diminta Perkuat Moderasi dan Kerukunan
Polda Sumsel Gebrak “Sumsel Bhayangkara Run 2026” Total Hadiah Capai Rp367 Juta hingga Ratusan Doorprize
Open House Idul Adha 1447 Wagub Cik Ujang Buka Rumah Dinas untuk Semua Kalangan
Gubernur Herman Deru Isi Hari Raya Idul Adha dengan Berbagi Kurban

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:01 WIB

Pengurus PGRI 17 Kabupaten/Kota di Sumsel Satu Komando: Tolak Mandat bukan Panitia Pengantin–Versi Ketua Mandat Bilang Kedepankan Dialog

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:11 WIB

Begal Organisasi PGRI Bikin Gaduh, PGRI Sumsel Siapkan Aksi Pembubaran Massal “Sweeping” di Palembang

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:35 WIB

Zulinto Nyatakan Klaim Ketua Mandat PGRI Sumsel Riza Pahlevi Ilegal “Pembegalan Organisasi” Instruksikan Kuasa Hukum Lapor Polisi

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:37 WIB

Pegang SK Resmi! PGRI Sumsel Tancap Gas, Riza Pahlevi: Organisasi Guru Harus Kembali ke Tangan Guru

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:00 WIB

Gubernur Herman Deru Sebut Sumsel Zero Konflik, Kader NU Diminta Perkuat Moderasi dan Kerukunan

Berita Terbaru

Polres OKU Timur menggelar Sidang Isbat Nikah Massal dalam rangka HUT Bhayangkara ke-80 Polres OKU Timur. Nikah massal ini diikuti sebanyak 80 pasangan 

Headlines

Sidang Isbat Massal Polres OKU Timur Diikuti 80 Pasangan

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:02 WIB