banner 2560x598

banner 2560x598

Sajian Naturalis dan Ide Konotatif

  • Bagikan
Lukisan bertema "Bertahan" karya Wawan Tandi Pulau, bersama Art Mosphere se-Sumsel, di Galeri Lukisan Taman Budaya Palembang, Senin (11/11/2019)
Lukisan bertema "Bertahan" karya Wawan Tandi Pulau, bersama Art Mosphere se-Sumsel, di Galeri Lukisan Taman Budaya Palembang, Senin (11/11/2019)
banner 468x60

MASUK ke dunia estetika dalam penyajian seni rupa, memunculkan persepsi mendalam terhadap bentuk dan sajian isi dalam satu karya lukisan.

Itu yang saya rasakan saat menyaksikan pameran lukisan bersama Art Mosphere se-Sumsel, di Galeri Lukisan Taman Budaya Palembang, Senin (11/11/2019).

Tatapan saya terpatok pada satu lukisan bertema “Bertahan” karya Wawan Tandi Pulau. Meski tampak sederhana, namun sajian lukisan cat minyak berukuran 55X70 itu menawarkan sajian isi yang konotatif.

Sosok laki-laki telanjang dalam posisi jongkok itu tengah menyembunyikan wajahnya. Ia digambarkan dalam keadaan “malu” memperlihatkan wajahnya.

Sedangkan tangan kirinya memegang bola lampu yang dalam kondisi menyala. Sedangkan di sisi kanan lukisan, terdapat sebuah apel warna merah dalam keadaan utuh.

Jika ke bangsal rumah sakit jiwa, kita bisa melihat corak dan rupa penyandang gangguan jiwa seperti itu. Namun yang paling menarik dari lukisan itu, bukan soal gila atau telanjang bulat, tapi konotasi isi yang disajikan dalam lukisan itu cukup unik dan menyentuh kedalaman pikiran kita.

Dilihat dari struktur bentuk dan isian ide kreatif pelukis dari ruang sempit, sajian nilainya membangun pokok-pokok bahasan yang tajam.

Wawan mampu menyisipkan pesan-pesan mendalam di balik bentuk lukisan yang tampak bersahaja. Namun di balik itu, lukisan “Bertahan” ini sangat luar biasa.

Ada dua movement yang disajikan pelukis dalam momen ketelanjangan ide tersebut. Movement pertama, bentuk sajian luar berupa sosok manusia telanjang yang duduk jongkok. Di ruang sempit ia menutupi wajahnya seolah malu memperlihatkan tubuh tanpa selembar benang yang menutupi ketelanjangan itu.

Moment kedua, di balik bentuk dan ketelanjangan tubuh, ada simbol-simbol transparan yang perlu ditangkap para penikmat. Seperti sebentuk puisi, selain menjajarkan kalimat yang menyimpan ide kreatif serta pesan di balik kisahan, lukisan ini bercerita tentang akhlak dan pengetahuan psikis terkait kehidupan kita.

Pelukis tampaknya sangat pandai menciptakan bentuk dan ukuran tubuh. Dari celah dan sela digambarkan cukup detil.

Secara psikologis, pelukis tak hanya mampu menyampaikan ketelanjangan dengan simbol-simbol yang menyertainya, tapi apa isi pesan di balik semua itu.

Sebenarnya, Wawan ingin menyampaikan kejujuran lewat karyanya. Ia begitu piawai menyampaikan isi pesan secara psikologik yang begitu cair dan mudah diterjemahkan.

Namun karena dibuat dan dibentuk sedemikian rupa sehingga penikmat menjadi bingung untuk menangkap pesan-pesan ketelanjangan yang diungkap pelukis Wawan Tandi Pulau.

Sebenarnya, Wawan sudah begitu gamblang menjelaskan ketelanjangannya secara jujur. Artinya, mengungkap peristiwa apapun harus jujur dan terbuka. Sebab manusia itu dinilai dari kejujuran dan keterbukaannya. Di sinilah orang akan menilai baik buruknya watak manusia.

Keterbukaan (ketelanjangan) menyampaikan sesuatu merupakan sikap baik untuk berbicara jujur. Artinya tidak menyatakan A tapi di lubuk hati terdalamnya menyimpan B.

Kemunafikan inilah barangkali yang tak disukai Wawan Tandi Pulau. Sebab bentuk keterbukaan antarsesama akan mendatangkan berkah persahabatan dan persaudaraan.

Jika memperhatikan keseharian watak pelukis dengan karya lukisnya, secara psikogis sangat erat dengan warna watak dan pendalaman jiwa pribadinya. Sebab karya yang diterjemahkan dalam bentuk apa pun, saling kait-mengait dengan struktur kepribadian pelukisnya.

Likisan “Bertahan” ini sangat baik untuk mencerdaskan jiwa kita. Selain itu kita dituntut untuk terbuka dan menjaga nilai-nilai kejujuran ke pada siapa saja.

Bertahan dalam kondisi ini memang berat. Sebab jiwa kita akan berdialog dengan hati nurani sendiri. Sikap di lingkungan kita selalu mengajarkan hal yang baik dan buruk, namun Wawan tetap “Bertahan” dengan segala bentuk kejujuran dan keterbukannya (telanjang).

Maka untuk bertahan dan menjaga agar dirinya tidak terperosok ke jurang ketidakjujuran, ia selalu mengisi dengan berbagai ilmu pengetahuan di benaknya (bola lampu sebagai ilmu penerang jiwa).

Simbol-simbol ini memang sulit ditangkap penikmat lukisan. Karena latar depan lukisan itu adalah bentuk ketelanjang seorang laki-laki yang jongkok seperti orang tak waras.

Justru di sinilah “mahalnya” lukisan ini. Karena ketinggian ide dan kreativitas pelukis Wawan Tandi Pulau menerjemahkan kejujuran sikap yang ia lempar lewat lukisan “Bertahan”.

Sedangkan buah apel utuh di samping kanan tangan tangan si telanjang, menyiratkan kenujujuran yang harus dimikmati setiap manusia yang berakal sehat.

Likisan bercorak naturalis ini banyak memuat pengajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan yang tetap bertahan untuk mengungkap kejujuran secara konotatif.

Meski disajikan secara sederhana, namun isi dan pemahaman baik buruk perilaku manusia dilukiskan secara baik dan utuh oleh Wawan Tandi Pulau. (*)

 

Tirta Bening, 12 November 2019

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *