MENCERMATI karya penyair Aspar Paturusi, dari kurun ke kurun, proses kreatifnya seringkali naik turun. Setidaknya, kondisi itu terjadi karena perkembangan situasi di dalam diri.
Meski demikian, Aspar begitu gigih untuk mempertahankan kualitas karya dan format khasnya sebagai penyair “terbuka”. Ia juga tidak pernah mencari-cari keindahan melalui kata yang indah-indah untuk konotasi indah yang tak bernuansa ke sasaran makna (intention).
Membaca dan menyimak kedalaman puisinya, seperti puisi “Mimpi” yang Aspar tulis sembilan tahun lalu (7 Mei 2010), sungguh menarik perhatian saya.
Dari pemilihan kata dan rangkaian kalimat di dalam aksen bahasa, ia mencoba mengungkap masalah melalui teknik kisahan yang baik.
Meskipun ada puisi lainnya bertajuk “Dia”, ciri Aspar tak akan bergeser dari kepatuhannya mencari sesuatu. Entah, sesuatu apa yang penyair maksudkan. Namun dari kalimat …ketika sepi dan sendirian bersekutu/ akan kubuka lebar jendela dan pintu/ tak henti aku gelisah mencari sesuatu (puisi Dia alenia pertama).
Secara intersosial, Aspar terasa “gagap” menentukan perasaannya untuk sesuatu. Sebab dari tiga kalimat yang ia tulis, perasaannya menjadi satu antara sepi dan kesendiriannya. Di tengah kesenyapan yang begitu menggigit, penyair gelisah mencari ruang untuk menemukan sesuatu.
Namun jika konotasi bahasa yang diliputi diksi pada puisi itu, sesuatu yang dicarinya ada di dalam dirinya sendiri.
… aku tidak akan menjauhi sepi/ saatnya aku bicara pada diri…
Meski demikian, Aspar menyadari bahwa dalam kesendiriannya, ada sesiapa yang mengusik perasannya.
Kegelisahaan dan perasaan sepi yang menyelinap ke dalam dirinya, ia tepis jauh-jauh, karena kesepian yang ia rasa adalah keriuhan suara batin. Karena Dia (Tuhan) lirik menyatu ke dalam kehidupannya sebagai manusia (penyair) fana.
Puisi “Dia” ini sangat spesifik. Ditinjau dari perbincangan pribadi dan interpersonal, kekuatan sense of poe sesuatu yang sangat konkret terjadi.
Seperti dikatakan Dr H Syarwani Ahmad MM, adanya sejumlah kebutuhan di dalam diri setiap individu, dapat dipuaskan melalui aktivitas komunilasi antarindividu dan sesama kita (Komunikasi Antarpribadi….Pustaka Pelicha cetakan pertama Februari 2013).
Memang, setiap puisi harus mempunyai suatu pokok persoalan yang diungkap melalui pokok pikiran, rasa dan keinginan untuk merangkai kata sebagai bentuk konkret masalah yang dirasakan penyair (The Concrete Word).
Kedekatan diri penyair (Aspar Paturusi) dengan Sang Pencipta tak hanya ia ungkap lewat puisi “Dia”.
Dalam puisi “Mimpi” pun Aspar menjelaskan tentang fungsi hidup (baca Tuhan) begitu tebal di dalam larik puisinya.
…. meski sayup-sayup kudengar tangis pilu angin perlahan mengelus tengkuk…..
Tangis siapa yang didengar penyair? Dari ungkapan lirik di atas yang gampang dicerna intensitasnya, yang dimaksud “tangis pilu angin” tentu terdapat konotasi di balik maksud tersebut.
Konotasnya tentang “kuasa sang Mahakuasa”. Paling tidak, kedekatan manusia dengan Tuhannya adalah rasa. Rasa tentang keinginan makan ketika sedang sendirian, keinginan menatap sesuatu yang belum kita pahami, misalnya. Tentu rasa itu ada yang menggerakkannya.
Siapa yang menggerakkan perasaan di dalam sanubari kita? Yah, Dialah Sang Mahamerangkai Keindahan.
Dua puisi yang ditulis Aspar Paturusi itu disajikan dengan sangat sederhana. Namun dari balik kalimat estetik yang ada, Aspar telah menceritakan antara kata, syair, dirinya dan Tuhan. (*)
Tirta Bening, 1 Juli 2019








![Penandatangan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PLN yang diwakili Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UID Jawa Barat, Martindar Jalu Respati (kedua dari kanan) mewakili General Manager PLN UID Jabar dengan BDx Indonesia yang diwakili CEO BDx Indonesia, Agus Hartono Wijaya (ketiga dari kiri) disaksikan oleh Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto (ketiga dari kanan) didampingi EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati (kedua dari kiri), EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Joni [kanan], dan EVP Manajemen Konstruksi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, Widyo Anggoro Putro [kiri] di Kantor PLN Pusat, Selasa [19/5]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260602-WA0036_copy_1003x578-225x129.jpg)









![Gubernur Sumatera Selatan [Sumsel] Dr H Herman Deru saat memberikan sambutan dalam pembekalan Pendidikan Dasar–Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama [PD-PKPNU] Angkatan II yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama [PWNU] Sumsel di Balai Diklat Keagamaan Palembang, Jumat 29 Mei 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0037_copy_1223x770-360x200.jpg)
