KATA, SYAIR, DIRI SENDIRI DAN SOSOK TUHAN

- Jurnalis

Senin, 1 Juli 2019 - 21:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MENCERMATI karya penyair Aspar Paturusi, dari kurun ke kurun, proses kreatifnya seringkali naik turun. Setidaknya, kondisi itu terjadi karena perkembangan situasi di dalam diri.

Meski demikian, Aspar begitu gigih untuk mempertahankan kualitas karya dan format khasnya sebagai penyair “terbuka”. Ia juga tidak pernah mencari-cari keindahan melalui kata yang indah-indah untuk konotasi indah yang tak bernuansa ke sasaran makna (intention).

Membaca dan menyimak kedalaman puisinya, seperti puisi “Mimpi” yang Aspar tulis sembilan tahun lalu (7 Mei 2010), sungguh menarik perhatian saya.

Dari pemilihan kata dan rangkaian kalimat di dalam aksen bahasa, ia mencoba mengungkap masalah melalui teknik kisahan yang baik.

Meskipun ada puisi lainnya bertajuk “Dia”, ciri Aspar tak akan bergeser dari kepatuhannya mencari sesuatu. Entah, sesuatu apa yang penyair maksudkan. Namun dari kalimat …ketika sepi dan sendirian bersekutu/ akan kubuka lebar jendela dan pintu/ tak henti aku gelisah mencari sesuatu (puisi Dia alenia pertama).

Secara intersosial, Aspar terasa “gagap” menentukan perasaannya untuk sesuatu. Sebab dari tiga kalimat yang ia tulis, perasaannya menjadi satu antara sepi dan kesendiriannya. Di tengah kesenyapan yang begitu menggigit, penyair gelisah mencari ruang untuk menemukan sesuatu.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Namun jika konotasi bahasa yang diliputi diksi pada puisi itu, sesuatu yang dicarinya ada di dalam dirinya sendiri.

… aku tidak akan menjauhi sepi/ saatnya aku bicara pada diri…

Meski demikian, Aspar menyadari bahwa dalam kesendiriannya, ada sesiapa yang mengusik perasannya.

Kegelisahaan dan perasaan sepi yang menyelinap ke dalam dirinya, ia tepis jauh-jauh, karena kesepian yang ia rasa adalah keriuhan suara batin. Karena Dia (Tuhan) lirik menyatu ke dalam kehidupannya sebagai manusia (penyair) fana.

Puisi “Dia” ini sangat spesifik. Ditinjau dari perbincangan pribadi dan interpersonal, kekuatan sense of poe sesuatu yang sangat konkret terjadi.

Seperti dikatakan Dr H Syarwani Ahmad MM, adanya sejumlah kebutuhan di dalam diri setiap individu, dapat dipuaskan melalui aktivitas komunilasi antarindividu dan sesama kita (Komunikasi Antarpribadi….Pustaka Pelicha cetakan pertama Februari 2013).

Memang, setiap puisi harus mempunyai suatu pokok persoalan yang diungkap melalui pokok pikiran, rasa dan keinginan untuk merangkai kata sebagai bentuk konkret masalah yang dirasakan penyair (The Concrete Word).

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Kedekatan diri penyair (Aspar Paturusi) dengan Sang Pencipta tak hanya ia ungkap lewat puisi “Dia”.

Dalam puisi “Mimpi” pun Aspar menjelaskan tentang fungsi hidup (baca Tuhan) begitu tebal di dalam larik puisinya.

…. meski sayup-sayup kudengar tangis pilu angin perlahan mengelus tengkuk…..

Tangis siapa yang didengar penyair? Dari ungkapan lirik di atas yang gampang dicerna intensitasnya, yang dimaksud “tangis pilu angin” tentu terdapat konotasi di balik maksud tersebut.

Konotasnya tentang “kuasa sang Mahakuasa”. Paling tidak, kedekatan manusia dengan Tuhannya adalah rasa. Rasa tentang keinginan makan ketika sedang sendirian, keinginan menatap sesuatu yang belum kita pahami, misalnya. Tentu rasa itu ada yang menggerakkannya.

Siapa yang menggerakkan perasaan di dalam sanubari kita? Yah, Dialah Sang Mahamerangkai Keindahan.

Dua puisi yang ditulis Aspar Paturusi itu disajikan dengan sangat sederhana. Namun dari balik kalimat estetik yang ada, Aspar telah menceritakan antara kata, syair, dirinya dan Tuhan. (*)

 

 

Tirta Bening, 1 Juli 2019

Berita Terkait

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat
ORANG-ORANGAN SAWAH
Sulaiman: Sayap-Sayap Proklamasi, Edukasi Sejarah bagi Generasi Muda Kita

Berita Terkait

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Jumat, 17 Oktober 2025 - 08:15 WIB

Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !

Rabu, 1 Oktober 2025 - 14:34 WIB

KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi

Sabtu, 1 Februari 2025 - 11:33 WIB

Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terbaru

DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.

Headlines

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 Apr 2026 - 19:13 WIB