Gejolak Harga Karet, Permainan Spekulan Pasar(?)

- Jurnalis

Jumat, 8 Januari 2021 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani Karet

Petani Karet

PETANI dan pengusaha karet di Sumatera Selatan saat ini dirundung cemas. Karena sejak awal tahun 2021, komoditi ini terjadi penurunan harga sebesar Rp50 perkilogram.

————

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Masuki tahun 2021, harga karet kembali terkoreksi. Setelah berada di kisaran harga Rp 18.295 per kilogram sejak 6 Januari 2021, namun sejak Kamis (7/1/2021) harga karet kembali anjlok sebesar 40 persen.

Dari catatan Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, selama 2019 terjadi beberapa gejolak.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Rudi Arfian MSi, penurunan harga karet itu terjadi karena efek hari libur Natal dan Tahun Batu (Nataru).

Dari catatan yang ada, kata Rudi, harga kadar karet kering (KKK) dari 100 persen hingga 40 persen terjadi gejolak penurunan.

Baca Juga:  Kantor Perwakilan Ekonomi Taipei di Indonesia Pastikan Tak Punya Akun TikTok

Misalnya, untuk karet KKK 70 persen dihargai Rp 12.772 per kilogram, KKK 60 persen Rp 10.947 persen Rp 10.947 per kilogram, KKK 50 persen Rp 9.123 per kilogram dan KKK 40 persen, seharga Rp 7 298 per kilogram.

Menurut Rudi, untuk tahun ini, belum ada pemicu bagi kenaikan harga karet tersebut. “Namun saya berharap agar harga karet KKK 100 persen di tahun 2021 ini dapat bertahan pada kisaran Rp 18 ribuan per kilogramnya,” kata Rudi.

Harga karet di tahun ini, katanya, merupakan harga keseimbangan baru di masa pandemi COVID-19. Artinya, jumlah yang diminta sama besar dengan jumlah yang ditawarkan. ‘Khususnya supply and demand di pasar Singapore Commodity Exchange,” ujarnya.

Baca Juga:  Ratu Dewa bersama Herman Deru Launching CFN Atmo, Geliat Ekonomi Tumbuh

Menurut dia, persoalan global yang memicu naik turunnya kondisi harga karet, karena di beberapa negara besar yang pertumbuhan ekonominya stabil, belum memicu peningkatan permintaan karet global.

“Yah, selain itu kondisi produksi di negara produsen utama belum pulih pasca ekstrem la nina dan penyakit gugur bunga,” ujar Rudi.

Selain itu, katanya, pemicu fluktuasinya harga karet akan terjadi apabila supply dan demand terganggu akibat harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.

Sedangkan faktor lain yang memicu naik-turunnya harga karet akibat pertumbuhan ekonomi dunia, kondisi pasar otomotif, serta adanya permainan spekulan pasar karet alam di bursa Singapore dan bursa Shanghai. (dari berbagai sumber)

Laporan Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma

Berita Terkait

Polemik Parkir Rajawali Belum Usai, Komisi II DPRD Palembang Desak Tindak Lanjut Kasus Dugaan Perusakan
PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx
PLN UID S2JB Tebar Kepedulian Lewat Qurban untuk Masyarakat Sekitar
PLN UID S2JB Siaga Iduladha 1447 H, Pastikan Pasokan Listrik Andal untuk Masyarakat
Gubernur Herman Deru Dukung FESyar Regional Sumatera 2026 untuk Perkuat Ekonomi dan Keuangan Syariah
Wagub Cik Ujang Dorong Peluang Investasi Sumsel dalam Forum Tokoh Politik dan Bisnis Tiongkok–Indonesia
Gaya Hidup Cerdas 2026, Strategi Anak Muda Sumsel Bangun Dana Darurat Lewat Sinergi Pesirah
Bank Sumsel Babel Percepat Digitalisasi Transaksi dan Layanan Publik

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:08 WIB

Polemik Parkir Rajawali Belum Usai, Komisi II DPRD Palembang Desak Tindak Lanjut Kasus Dugaan Perusakan

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:28 WIB

PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:34 WIB

PLN UID S2JB Tebar Kepedulian Lewat Qurban untuk Masyarakat Sekitar

Kamis, 28 Mei 2026 - 16:32 WIB

PLN UID S2JB Siaga Iduladha 1447 H, Pastikan Pasokan Listrik Andal untuk Masyarakat

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:25 WIB

Gubernur Herman Deru Dukung FESyar Regional Sumatera 2026 untuk Perkuat Ekonomi dan Keuangan Syariah

Berita Terbaru