BATAS PERJALANAN HIDUP

- Jurnalis

Jumat, 28 Juni 2019 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PERPUTARAN kehidupan ini memiliki limit waktu. Tiap saat, kapan pun tiba waktunya, perputaran itu akan berhenti.

Karena kefanaan itulah yang menyebabkan kehidupan itu memiliki limit berbatas. Hanya Sang Pencipta yang mampu menentukan kapan kemusnahan hidup itu akan berjalan hingga ke garis batasnya (kiamat).

Yang menjadi pertanyaan, kapan tiba giliran kita menelusup ke batas kehidupan itu?

Pertanyaan itu sebaiknya menjadi acuan kesadaran, agar kita jauh dari kesombongan, merasa hebat sendiri serta meremehkan kemampuan orang lain.

Di dalam Alquran, setiap benda bernyawa, pasti akan menghadapi kematian. Karena kematian adalah hak mutlak setelah diri dan jiwa kita lelah mengarungi perjalanan kehidupan.

Banyak orang yang takut menghadapi kematian. Entah apa alasan mereka untuk takluk pada kematian. Sebenarnya, kehidupan itu tak pernah putus membawa perjalanan hidup anak manusia ke perjalanan kematian.

Banyak juga yang beranggapan bahwa kematian adalah ruang ketidakberdayaan sehingga jasad anak manusia itu hancur menjadi tanah.

Baca Juga:  Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya

Faktanya memang demikian. Namun dalam persepsi iman dan keyakinan, ketika anak manusia itu mati, ada kehidupan lain yang jauh lebih panjang.

Ruang inilah yang seharusnya menjadi kesadaran kita bahwa di balik alam jasad ada alam ruh yang kehidupannya sangat panjang.

Kehidupan dua periodik ini saling melengkapi. Sebab baik buruknya perilaku kehidupan akhirat, ditentukan oleh perilaku kehidupan jasad.

Karena itu sebelum mengajarkan ilmu agama, Rasulullah Muhammad SAW menyontohkan perilaku rahmatan lil alamin.

Sikap dan perilaku yang diajarkan Rasul itu harus memperhitungkan kebersihan hati dan pikiran. Sebab hati dan pikiran itu adalah muara bagi sanubari kita untuk membangun kebijakan perilaku.

Allah SWT selalu mengutamakan pikiran umatNya agar secara moral kita menjadi cerdas. Affala tata fakaruun…(mengapa tidak berpikir dan tak memikirkan?).

Mengapa tidak berpikir? Ini berarti bahwa yang pertama kita dianjurkan untuk selalu menggunakan kekuatan pikiran (otak). Apakah kematian adalah akhir dari tugas kita seb…

Baca Juga:  Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Sedangkan akal yang setiap saat kita asah agar menjadi tajam itu bisa digunakan sebagai senjata untuk memerangi unsur keburukan di dalam diri kita.

Oleh sebab itu, musuh terbesar yang kita hadapi adalah diri kita sendiri. Karena itu pertempuran paling dahsyat yang dihadapi manusia adalah dirinya sendiri.

Kesadaran moral inilah bekal paling baik untuk dikejar agar di kehidupan kubur setelah kita mati kelak, akan memperoleh kebahagiaan amaliyah.

Selain wajib berpikir, kita juga harus memikirkan persoalan yang kita hadapi. Itu artinya, bagaimana membangun moral yang baik sehingga disaat berbincang tentang baik buruknya perilaku. Karena pada hakikatnya, disepanjang kehidupan kita, ada garis batas ajal yang akan menjungkalkan kita ke ruang sempit, alam kubur. (*)

 

Tirta Bening, 28 Juni 2019

Berita Terkait

Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya
Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎
Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah
Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya

Rabu, 23 September 2026 - 15:47 WIB

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Berita Terbaru