BEUBEUGIG

- Jurnalis

Kamis, 28 Februari 2019 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi.net

Gambar Ilustrasi.net

SETELAH berjalan dari Desa Morak sekitar 35 kilometer jauhnya, rombongan perintis sumur minyak bumi PT Fadeco Crude Fetroleum tiba di perbatasan hutan Seban Burung dalam kawasan Kecamatan Dango.Dari kabar terakhir, di perbatasan hutan ini terdapat dua titik sumur minyak bumi peninggalan Belanda.
Aku melihat ke arloji.Hmm, hari sudah petang.Arlojiku menujukkan pukul enam sore.Mentari tua yang sudah menyisakan cahaya kemerahan di ufuk barat, membuat suasana hutan menjadi indah.Lukisan alam benar-benar membuatku takjub.Dari kejauhan segerombol kelelawar keluar dari gua persinggahannya yang diilustrasi dengan beterbangan burung-burung walet yang mulai kembali ke sarangnya.
“Kita terpaksa harus istirahat dan bermalam di sini.Mari kita buat tenda.Menurut perhitunganku, di arah kiri jalan setapak ini terdapat sungai anakan.Kita dapat mandi dan mengambil air untuk minum dan menanak nasi,” kata Chief Andragoya dalam bahasa Inggris berlogat Tagalog.
Andragoya adalah seorang insinyur pertambangan dari Filipina yang memimpin rombongan kami.Ia begitu tangkas dan cerdas. Sementara teman-teman membangun tenda rakitan, aku segera menghidupkan mesin genset.Hari mulai gelap.Di beberapa tempat kupasang perangkat lampu mercuri sehingga suasana lingkungan jadi terang benderang.
Mang Ujok –koki kami— segera turun ke sungai anakan untuk merebus air dan menanak nasi. Ia memeriksa cadangan lauk-pauk dan sambel kalengan di peti perbekalan kuliner. Ah, persediaan lauk-pauk bagi pekerja masih cukup untuk disantap selama satu pekan. Aku mengambil wudhu dan melaksanakan salat Maghrib di pojok batu dekat gugusan rumput liar.
Baru beberapa saat berzikir, aku mendengar teriakan minta tolong dari Mang Ujok di bawah bibir sungai. Aku dan beberapa teman segera memburu ke arah sana. Kami lihat Mang Ujok tergeletak tak sadarkan diri.Teman-teman segera menggotongnya ke tenda.Sementara aku memeriksa situasi dengan lampu senter yang selalu kusiapkan di cantelan ikat pinggang.Hmm, tidak ada apa-apa. Hanya saja, di pojok kiri gerombol rumput liar dan semak belukar setinggi dua meter terdapat beubeugig (orang-orangan sawah) pengusir burung yang dipajang di sana.
“Aneh.Kok ada beubeugig (bahasa Sunda: orang-orangan pengusir burung) yang biasa dipajang di sawah ditegakkan di sini? Siapa yang memajangnya di sini?Ini benar-benar aneh.Apa ini yang membuat Mang Ujok ketakutan lalu tak sadarkan diri?”
Lama aku berpikir sembari memeriksa situasi lingkungan tenda, tapi selain suara satwa malam dan sosok beubeugig, tidak ada hal yang menakutkan. Aku masuk ke tenda.Berkat jampi-jampi Pak Jalil, Mang Ujok siuman dari pingsannya.
“Ada apa Mang?Kok Mang Ujok menjerit minta tolong lalu sejurus kemudian tak sadarkan diri? Apakah ada sesuatu yang Anda takuti?” tanya Pak Jalil seraya menciprati wajah Mang Ujok dengan air jampian. Setelah memandang ke sekeliling ruangan, Mang Ujok mengusap matanya dengan punggung tangan.
“Ah…, di bawah cahaya bulan, aku melihat seseorang bertubuh tinggi besar.Ia memakai mantel hitam. Mata orang itu merah membara menatap ke arahku.Ih, aku takut sekali saat itu.Bentuknya terlihat seperti orang Belanda,” tukas Mang Ujok.Suaranya bergetar hebat.Mendengar penuturan Mang Ujok, kami saling pandang.

Pagi-pagi sekali aku ke ruang istirahat Chief Andragoya. Ternyata ia sudah bangun dan sedang sibuk mempelajari peta situasi untuk rencana kerja hari ini.
“Silakan masuk.Ada yang bisa kubantu, Marvin?” ucap Andragoya ramah. Pagi itu ia masih mengenakan baju piyama sembari mencatat beberapa fokus wilayah dari peta situasi yang ada di tangannya.
“Lho, mengapa masih berdiri di situ?Masuklah.Tidak usah ragu, ayo,” ajaknya.Sikap Andragoya bersahabat sekali. Karena itu ia sangat disenangi rombongan kami.
“Chief, pagi ini saya minta izin ke Desa Palor, sekitar satu kilometer dari wilayah kerja kita.”
“Untuk apa ke sana?” tanya Chief Andragoya dengan alis bertaut. Aku segera menceritakan peristiwa yang dialami Mang Ujok dengan kecurigaanku soal orang-orangan sawah yang sengaja dipajang orang tertentu dekat gerombol rumput liar dan semak belukar setinggi dua meter, di sebelah barat tenda.
“Karena itu saya akan mencari tahu serta mempelajari situasi lingkungan kerja kita agar tidak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan,” kataku.
“Oo, begitu.Anda yakin?”
“Tentu, Chief.”
“Baik. Tapi saya berharap Anda jangan lama-lama di desa itu, karena pekerjaan kita masih menumpuk. Perlu diingat, Anda merupakan orang yang sangat saya andalkan dalam kelompok kerja kita, Marvin.”
“Oke Chief, saya tidak akan mengecewakan Anda. Saya hanya bermaksud untuk memperlancar tugas kita dalam mencari titik sumber minyak bumi di kawasan ini,” jawabku.
“Saya setuju.Tapi Anda ditemani siapa?”Chief Andragoya bertanya.
“Pak Jalil.”
“Yap, bagus.Orang itu bisa diandalkan.”
“Terima kasih, Chief.”
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, aku dan Pak Jalil segera bergegas ke Desa Palor untuk menemui sesepuhnya di sana. Siapa tahu di desa itu aku dan Pak Jalil dapat informasi lebih banyak mengenai situasi lingkungan kerja kami.Menurutku itu sangat perlu sehingga kami dapat bekerja dengan nyaman.Karena langkah perjalanan kami agak cepat, maka dalam tempo satu jam kami pun tiba di Desa Palor.
“Bu, kalau saya boleh tahu, di mana rumah sesepuh adat kampung ini?” tanyaku kepada seorang ibu yang sedang menjemur padi di emperan jalan desa.
“Anak dari mana?” ibu itu balik bertanya.
“Saya dari Pelimbanan.Kebetulan saya ikut bekerja merintis sumur minyak peninggalan Belanda di hutan Seban Burung sana,” jawabku.
“Waduh, kalian berani sekali memasuki kawasan itu.Itu sangat berbahaya, Nak.Suasana di sana sangat angker dan kalian bisa celaka.”
“Angker dan celaka bagaimana, Bu?”
“Sebaiknya kalian tanyakan saja ke Bapak sesepuh adat.Rumahnya berbentuk panggung di kelokan dua jalan dari sini,” kata ibu itu dengan mimik serius. Sejurus kemudian ia tidak mempedulikan kami lagi. Ibu itu justru membolak-balik padi yang dijemurnya di hamparan tikar pandan dengan perasaan takut melayani kami.
Aku dan Pak Jalil saling pandang dan begitu penasaran mendengar apa yang dikatakan ibu tadi. Terutama kata-kata angker yang disebutnya dengan mimik ketakutan.Berbagai pertanyaan pun datang silih berganti di benak kami.Namun tak ada jawaban yang pasti sehingga menjadi beban pikiran yang harus segera dipecahkan.
“Pokoknya kita harus ketemu dengan sesepuh adat kampung ini secepatnya, Pak Jalil,” kataku.
“Benar, Marvin. Aku sangat penasaran,” jawab Pak Jalil sembari memperbaiki posisi ransel di punggungnya.
Kami segera bergegas mencari rumah sesepuh adat.Setelah bertanya dengan beberapa penduduk desa yang kebetulan berpapasan dalam perjalanan kami, akhirnya rumah sesepuh adat ditemukan juga.
Rumah panggung bercorak ulu yang berusia puluhan tahun itu berdiri megah.Tiang kayu unglen (ulin) dengan susunan papan kayu tembesu hitam terlihat kokoh. Aku memberanikan diri menapak tangga rumah hingga ke pintu depan.
“Assalamu’alaikum,” aku menyapa tuan rumah sembari mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Aku kembali mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Tiba-tiba suara pintu berderik.Seorang lelaki tua dengan rambut putih sebatas bahu membuka daun pintu.
“Anda siapa dan darimana?” tanya lelaki tua itu dengan suara berat tanpa senyum. Ia begitu angker, terutama dengan pakaian serba hitam dengan mengenakan cincin bermata besar yang hampir melilit seluruh jarinya. Kemudian ia mempersilakan kami duduk di teras.
“Saya Marvin, Pak. Sedangkan rekan saya ini, Pak Jalil. Kedatangan kami ke sini ingin memberi tahu ke Bapak bahwa kami sedang bekerja merintis sumur minyak peninggalan Belanda di kawasan Hutan Seban Burung, sekitar satu kilometer dari desa ini, Pak,” kataku membuka percakapan.
Mata orangtua itu menyipit.Ia menatapku tajam sekali. Matanya yang merah dan selalu berair itu seolah mampu menjelajahi batinku sehingga hatiku bergetar hebat. Namun sebelum menanggapi pembicaraanku ia memanggil cucunya untuk minta dibuatkan kopi buat kami.
“Silakan minum, Nak,” ujar orangtua itu.Meski hitam karena candu rokok, giginya masih utuh.Yang membuat orangtua ini terlihat angker adalah rambutnya yang putih panjang sebahu itu membalut wajahnya yang hitam berkerut.Sementara kumis dan janggutnya yang menyerongot putih menambah keangkeran wajahnya.
Setelah menyeruput dua tegukan air kopi yang masih panas berasap, orangtua itu berkata,”Hati-hati bekerja di sana. Selain angker, jika kalian berani menerobos gerombol semak belukar yang ada dalam radius seribu meter persegi tepat di depan orang-orangan sawah, kalian bisa gila.”
“Mengapa bisa begitu, Pak?” tanyaku dengan kening berkerut.Orangtua itu menatapku sejenak lalu terkekeh.Barangkali, di mata orangtua ini, roman mukaku terlihat seperti orang tolol.
“Warga desa kami sangat paham dengan keadaan di sana.Bagi penduduk di sini, tempat itu merupakan kawasan terlarang yang pantang didatangi.Selain angker, di situ banyak roh halusnya.Maka itu warga kami tidak berani mendekati wilayah itu.Bayangkan, mendekat saja mereka tidak berani.Apalagi sampai masuk dan mencari rumput ternak ke kawasan itu, hmm.Mereka bisa celaka. Dulu, sekitar tahun 1970-an, keluarga besar Pak Karta Somawijaya –Kepala Desa
Palor– tewas di dalam rumahnya sendiri. Itu akibat dari…
“Ah, tahayul.Kita tidak perlu menanggapi itu.Sesuai dengan misi perusahaan, kita harus menemukan sumur kedua.Tidak ada makhluk halus yang dapat membunuh manusia.Kita harus berpikir rasional, Marvin,” kata Chief Andragoya.Ia segera menerobos gerombol semak belukar di balik sosok beubeugig itu. Betapa kagetnya Andragoya, karena di balik rerumputan itu terdapat kawat berduri yang berkarat mengelilingi areal luas.
“Demi Tuhan, saya pikir ini merupakan kompleks kerja yang sudah lama ditinggalkan,” katanya. Dengan senter di tangan, Andragoya merangsek ke dalam lokasi itu.Ia memutuskan kawat tersebut dengan tang pemotong.
“Wah, puji Tuhan, ternyata benar.Ini sebuah tangsi dan perkantoran zaman Belanda.Coba lihat Marvin, di balik perkantoran itu ada dua bangkai mobil kuno keluaran tahun 1930-an. Di belakangnya banyak terdapat lempengan tembaga yang dipacking dengan kawat mangan (kuningan). Coba Anda perhatikan di plat peti itu. Ada sebaris tulisan Salee Van Obraijn Pabriek dengan huruf Jerman.Lokasi ini pasti sebuah pabrik penyulingan minyak bumi. Awas Marvin, nanti kulitmu terluka kena kawat berduri ini,” bisik Andragoya kepadaku.
“Thanks Chief. Tampaknya memang seperti lokasi pabrik yang ditinggalkan pekerjanya.”
“Ya.”
Ketika aku dan Chief Andragoya sedang asyik mempelajari situasi, tiba-tiba seseorang keluar dari sebuah lorong dekat bangkai mobil kuno tersebut.Aku dan Chief kaget melihat sosok itu.“Siapa Anda?” tanyaku gugup.
“Aku Cecep, anak Kades Karta Somawijaya yang tewas diracun oleh seorang kaki tangan Pak Breimen, si pengusaha karet dan kelapa sawit di Desa Palor. Mereka mengisukan aku sudah menjadi gila dan menghilang begitu saja tanpa jejak.Warga di sini sudah dibodohi oleh Breimen si keparat itu,” ujar lelaki itu.Tampaknya laki-laki ini menaruh dendam terhadap Breimen Larsen Van Osch Leiding.
“Anda dendam kepada laki-laki keturunan Belanda tersebut?” tanyaku.
“Ya.Dialah yang telah membunuh keluargaku dengan racun arsenik. Racun itu ia bubuhkan ke minuman orangtuaku pada pesta panen sepuluh tahun lalu. Bahkan ia begitu pandai memanfaatkan kebodohan warga desa kami, dengan mengatakan ayah dan ibuku telah dibunuh oleh roh halus dari kompleks ini, akibat kesalahan saya yang telah mengambil lempengan tembaga itu,” kata Cecep sembari menunjuk ke onggokan lempengan tembaga di sudut gudang.
Ia juga mengungkapkan bahwa lokasi pabrik tersembunyi di balik belukar ini merupakan lokasi kerja orang-orang Belanda pada tahun 1943. Ketika tentara Jepang mendarat dan memenangkan peperangan melawan sekutu, orang-orang Belanda yang menguasai pabrik ini kocar-kacir kembali ke negerinya. Karena lokasi ini banyak tersimpan harta yang tak ternilai, maka untuk menjaga jangan sampai dijarah orang-orang Desa Palor, pemilik pabrik ini mengutus Breimen Larsen Van Osch Leiding datang ke sini dengan identitas sebagai misionaris.
“Dengan kecerdikannya, ia dapat meyakinkan Pak Datuk sebagai sesepuh adat agar lokasi Seban Burung dinyatakan sebagai kawasan terlarang yang tidak boleh didatangi warga. Jika ada yang melanggar pantangan itu, mereka akan celaka karena gangguan roh halus. Agar Pak Datuk tutup mulut, orangtua itu dibuatkan rekening di bank daerah.Maka tiap bulan uang dari Belanda terus mengucur ke pundi rekening Pak Datuk,” ungkap Cecep.
“Wah, hebat sekali.”
“Ya, secara politis Breimen memang hebat.Tapi atas semua kejadian yang saya alami sekeluarga serta adanya kandungan harta tak ternilai di dalam kompleks ini, sudah saya laporkan ke Polres Dango.Sebentar lagi beberapa petugas akan datang ke lokasi ini,” katanya.
Mendengar itu aku dan Chief Andragoya hanya bisa saling pandang. (*)

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Berita Terkait

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat
ORANG-ORANGAN SAWAH

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:11 WIB

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Kamis, 16 April 2026 - 16:02 WIB

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Jumat, 17 Oktober 2025 - 08:15 WIB

Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !

Berita Terbaru

Penandatangan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PLN yang diwakili Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UID Jawa Barat, Martindar Jalu Respati (kedua dari kanan) mewakili General Manager PLN UID Jabar dengan BDx Indonesia yang diwakili CEO BDx Indonesia, Agus Hartono Wijaya (ketiga dari kiri) disaksikan oleh Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto (ketiga dari kanan) didampingi EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati (kedua dari kiri), EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Joni [kanan], dan EVP Manajemen Konstruksi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, Widyo Anggoro Putro [kiri] di Kantor PLN Pusat, Selasa [19/5]

Ekobis

PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Selasa, 2 Jun 2026 - 14:28 WIB

Gedung Pancasila [Gambar Ist]

Headlines

Pancasila di Persimpangan Jalan

Senin, 1 Jun 2026 - 14:49 WIB