Sajak Sajak Pesisir

- Jurnalis

Minggu, 24 Februari 2019 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PESISIR DI PENGHABISAN KEMARAU
Hujan ini datang dengan kerinduan. percik airnya yang sedih, menangis di antara tanah pesisir
enam bulan kau tak mucul, hanya air laut yang beriak meneriakkan kerinduan atas jarak panjang kemarau ini
—- turunkan perahu itu. Ikan-ikan menanti di antara bentangan jaring hatimu, teriak para nelayan 
pasir dan tepian pantai menjadi ruang tempat melampiaskan harapan 
: jaga itu, kata nelayan 
belai angin tenggara dari riak air di sepanjang pesisir adalah harapan. puluhan nelayan yang berbusana pukat dan jaring kecokelatan, mengais-ngais makanan di antaran gugusan karang
lihatlah : kepiting dan teripang yang menjadi sahabat menyatakan rindu bagi para pelaut
—- sebab, ikan-ikan dan bentangan pasir sebagai hiasan adalah kasih dari jari-jemari tangan-Nya.
Juni 2018
PASIR-PASIR PESISIR BAGAI SAJADAH
Laut dan pantai bertaut dalam cinta. karena takdirNya yang memerciki kasih, menghampar bagai sajadah
 di antara gemercik air membelai pasir, hanya ombak tak lelah menyapa dari waktu ke waktu
 Kau tak juga berhenti mengirim riak airmu yang bernyanyi dalam buaian angin pesisir 
—- ayo, jaring sudah penuh muatan sejak malam tadi. sementara benang-benang jaring memohon doa di antara gelombang airmu, teriak anak-anak nelayan
 sementara ikan layar dan cumi-cumi menebarkan rezeki di antara karang-karang laut yang berzikir ke pintu pintu arasy-Nya
 duhai Kekasih, kecipak airMu menyejukkan upaya nelayan menaburi sujud di seputar pasir pesisir 
—- bilakah rasa syukur mendatangkan doa-doa dari jutaan pasir di pesisir ini?
Juni 2018
DI DATAR KENINGKU
Ketika Kau hadir dalam kepergian malam harum tubuh-Mu kucium lewat sujud yang datar
 dari doa-doa yang bersedakap dalam konsentrasi aku terbang menjelajahi kebesaran-Mu yang teduh pada langit-langit permohonanku
 : ya Raab,           keikhlasan yang Kau ajarkan kepada malam dan fajar ini hanya sujudlah yang mampu menandingi rasa syukurku
 lembayung fajar yang menjadi selendang jiwaku, berujud aroma kemerah-merahan
aku memunajatkan tangan ke rumah-Mu di angkasa lepas 
maka subuh yang menebarkan rahmat merangkul ayat-ayat di balik ucapan pada lipatan lidahkuyang kelu.
 Desember 2017
ALIF LAM LAM HA
Alif tegak sendiri  di antara lam lam ha; dari harum wujud dari ada sebelum ada
lam lam ha menguatkan kebesaran Alif dari ruang ruang tak terhingga dari sekat sekat tak berbatas
 aku pun tak mampumenerobos kebesaran Alif dari sebutir pasir dalam bentangan awal sebelum awal
 sejak terbentang permulaan yang bermula dari ruang penciptaanNya Aliflah menerobos alaif alif kecil dari butiran-butiran tanah hitam ke tubuh adam
 Aliflah berdiri atas segala  kuasa-Nya ke segenap kurun ke kurun ke segenap sujud sebelum sujud : ke segenap jutaan firman yang melilit sekujur kefanaan alam sebelum alam
 : jika bertanya tentang aku; Aliflah yang berjalan di atas segala dinding urat lehermu, ke Alif lam lam ha sebagai Dia.
 April 2018
TATKALA AJAL
tatkala kupandang sosokmu dari sudut kehampaan terasa hilang segala kekaguman itu
 langkah dan sikap yang terperangkap ke dalam segalanya, hilang bersama bayang-bayangmu sendiri
 jika kata adalah syair jalan hidupmu yang tertera dalam garisan tangan; maka lumutlah kita
 tak ada anak istri tidur seranjang di mata-Nya. hanya kain kafan sebabagi kasur dan bantal di tanah becek
 dari segala catatan dalam total perjalanan yang bertabur senyum, menjadi lembaran buku di bulan ketiga
dalam kepasrahan dililit ajal, wajah dan tubuhmu yang berselimut kapur barus menuliskan segala kisah dalam onggokan istana dan mobil-mobil mewah
 tak ada lagi kesemerbakan harum bunga milik-Nya yang mengawali langkah ke peristirahatan rumah terakhirmu
 anak istri yang kau ceburkan ke lorong-lorong kekayaan cahaya menitikkan air mata di batas kehidupan
 — kau terbairng sendiri dalam dekapan tanah lumpur kehitam-hitaman.
 September 2018
DI ATAS KALIGRAFI SUJUDKU
melewati malam berkabut. doa-doa masih belum tertidur Kau bimbing; sujud dan keikhlasan menjadi air dalam percikan air suci-Mu
 gelap malam dan Kau seperti cahaya di dada yang menerangi leburnya kepasrahan
 dari kabut ke kabut dan cuaca gelap di udara lepas membersihkan hitungan, bukalah !
 tatakala kerinduan asma-Mu memenuhi cinta di atas kaligrafiku; terasa sujud dan sajadah memagari kalbu.
 April 2018
MUSIM KETIGA
pintu musim pun terbuka aroma menusuk hidung menjadi selera
 — ini musim ketiga, katanya
 bulir-bulir kemasan memanggil selera daging dan tekstur membentuk keinginan di balik kupasan durian
 ini musim ketiga kau hadir dengan duri-duri perkasa dan bulir-bulir keemasan di lidah anak-anak kota ini 
ah, harummu merangkul selera dari tiap batang keinginan yang  sejak musim-musim tahun lalu memandu hasratku;  durian
 : betapa, kau telanjang dalam butiran buah yang bercinta dengan harga.
 Juni 2018
BOLA-BOLA KETUPAT
berayun di atas terpaan angin ketika sejumlah kesebelasan siaga di antara luasnya lapangan.  napas pun bersorak ke dalam kuah gulai kambing
 bola-bola ketupat mengejar angka untuk tampil dalam strategi. tiap tendangan yang melesat dari kaki-kaki pemain, berjoget setelah skor menerobos pikiran orang-orang di tribun atas
— gol, teriaknya pemain-pemain saling kejar menari bersama kubangan gulai karena kemenangan bola-bola ketupat ada di antara cairan gulai dan lauk-pauk penonton.
 Juni 2018
Drs Anto Narasoma
Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Berita Terkait

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA
Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN
Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !
BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !
Secara Psikis, “Difabel” Dididik dengan Seni Sastra !
KMP Gelar Literasi Sastra: Inklusi dan Pemerataan Edukasi
Harsinas Dekatkan Puisi ke Masyarakat

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:47 WIB

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:11 WIB

Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro

Kamis, 16 April 2026 - 16:02 WIB

PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:17 WIB

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Selasa, 2 Desember 2025 - 13:35 WIB

BENCANA DATANG, BRAK, HARTA DAN NYAWA PUN TERTIMBUN LUMPUR !

Berita Terbaru