Hujan ini datang dengan kerinduan. percik airnya yang sedih, menangis di antara tanah pesisir
enam bulan kau tak mucul, hanya air laut yang beriak meneriakkan kerinduan atas jarak panjang kemarau ini
—- turunkan perahu itu. Ikan-ikan menanti di antara bentangan jaring hatimu, teriak para nelayan
pasir dan tepian pantai menjadi ruang tempat melampiaskan harapan
: jaga itu, kata nelayan
belai angin tenggara dari riak air di sepanjang pesisir adalah harapan. puluhan nelayan yang berbusana pukat dan jaring kecokelatan, mengais-ngais makanan di antaran gugusan karang
lihatlah : kepiting dan teripang yang menjadi sahabat menyatakan rindu bagi para pelaut
—- sebab, ikan-ikan dan bentangan pasir sebagai hiasan adalah kasih dari jari-jemari tangan-Nya.
Juni 2018
PASIR-PASIR PESISIR BAGAI SAJADAH
Laut dan pantai bertaut dalam cinta. karena takdirNya yang memerciki kasih, menghampar bagai sajadah
di antara gemercik air membelai pasir, hanya ombak tak lelah menyapa dari waktu ke waktu
Kau tak juga berhenti mengirim riak airmu yang bernyanyi dalam buaian angin pesisir
—- ayo, jaring sudah penuh muatan sejak malam tadi. sementara benang-benang jaring memohon doa di antara gelombang airmu, teriak anak-anak nelayan
sementara ikan layar dan cumi-cumi menebarkan rezeki di antara karang-karang laut yang berzikir ke pintu pintu arasy-Nya
—- bilakah rasa syukur mendatangkan doa-doa dari jutaan pasir di pesisir ini?
Juni 2018
DI DATAR KENINGKU
Ketika Kau hadir dalam kepergian malam harum tubuh-Mu kucium lewat sujud yang datar
dari doa-doa yang bersedakap dalam konsentrasi aku terbang menjelajahi kebesaran-Mu yang teduh pada langit-langit permohonanku
: ya Raab, keikhlasan yang Kau ajarkan kepada malam dan fajar ini hanya sujudlah yang mampu menandingi rasa syukurku
lembayung fajar yang menjadi selendang jiwaku, berujud aroma kemerah-merahan
aku memunajatkan tangan ke rumah-Mu di angkasa lepas
maka subuh yang menebarkan rahmat merangkul ayat-ayat di balik ucapan pada lipatan lidahkuyang kelu.
Desember 2017
ALIF LAM LAM HA
Alif tegak sendiri di antara lam lam ha; dari harum wujud dari ada sebelum ada
lam lam ha menguatkan kebesaran Alif dari ruang ruang tak terhingga dari sekat sekat tak berbatas
aku pun tak mampumenerobos kebesaran Alif dari sebutir pasir dalam bentangan awal sebelum awal
sejak terbentang permulaan yang bermula dari ruang penciptaanNya Aliflah menerobos alaif alif kecil dari butiran-butiran tanah hitam ke tubuh adam
Aliflah berdiri atas segala kuasa-Nya ke segenap kurun ke kurun ke segenap sujud sebelum sujud : ke segenap jutaan firman yang melilit sekujur kefanaan alam sebelum alam
: jika bertanya tentang aku; Aliflah yang berjalan di atas segala dinding urat lehermu, ke Alif lam lam ha sebagai Dia.
April 2018
TATKALA AJAL
tatkala kupandang sosokmu dari sudut kehampaan terasa hilang segala kekaguman itu
langkah dan sikap yang terperangkap ke dalam segalanya, hilang bersama bayang-bayangmu sendiri
jika kata adalah syair jalan hidupmu yang tertera dalam garisan tangan; maka lumutlah kita
tak ada anak istri tidur seranjang di mata-Nya. hanya kain kafan sebabagi kasur dan bantal di tanah becek
dari segala catatan dalam total perjalanan yang bertabur senyum, menjadi lembaran buku di bulan ketiga
dalam kepasrahan dililit ajal, wajah dan tubuhmu yang berselimut kapur barus menuliskan segala kisah dalam onggokan istana dan mobil-mobil mewah
tak ada lagi kesemerbakan harum bunga milik-Nya yang mengawali langkah ke peristirahatan rumah terakhirmu
anak istri yang kau ceburkan ke lorong-lorong kekayaan cahaya menitikkan air mata di batas kehidupan
— kau terbairng sendiri dalam dekapan tanah lumpur kehitam-hitaman.
September 2018
DI ATAS KALIGRAFI SUJUDKU
melewati malam berkabut. doa-doa masih belum tertidur Kau bimbing; sujud dan keikhlasan menjadi air dalam percikan air suci-Mu
gelap malam dan Kau seperti cahaya di dada yang menerangi leburnya kepasrahan
dari kabut ke kabut dan cuaca gelap di udara lepas membersihkan hitungan, bukalah !
tatakala kerinduan asma-Mu memenuhi cinta di atas kaligrafiku; terasa sujud dan sajadah memagari kalbu.
April 2018
MUSIM KETIGA
pintu musim pun terbuka aroma menusuk hidung menjadi selera
— ini musim ketiga, katanya
bulir-bulir kemasan memanggil selera daging dan tekstur membentuk keinginan di balik kupasan durian
ini musim ketiga kau hadir dengan duri-duri perkasa dan bulir-bulir keemasan di lidah anak-anak kota ini
ah, harummu merangkul selera dari tiap batang keinginan yang sejak musim-musim tahun lalu memandu hasratku; durian
: betapa, kau telanjang dalam butiran buah yang bercinta dengan harga.
Juni 2018
BOLA-BOLA KETUPAT
berayun di atas terpaan angin ketika sejumlah kesebelasan siaga di antara luasnya lapangan. napas pun bersorak ke dalam kuah gulai kambing
bola-bola ketupat mengejar angka untuk tampil dalam strategi. tiap tendangan yang melesat dari kaki-kaki pemain, berjoget setelah skor menerobos pikiran orang-orang di tribun atas
— gol, teriaknya pemain-pemain saling kejar menari bersama kubangan gulai karena kemenangan bola-bola ketupat ada di antara cairan gulai dan lauk-pauk penonton.