WIDEAZONE.COM — TAK lebih dari satu tahun bekerja sebagai wartawan di Majalah Investigasi, Bardani sudah dipercaya pemimpin redaksinya menjadi koordinator penggalian kasus pencurian kayu gelondongan di hutan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), antara Kabupaten Muba Sumatera Selatan, berbatasan dengan Provinsi Jambi.
Sebelumnya, ia mendapat data dari seorang kenalan di warung kopi dekat areal kantor Dinas Kehutanan Kota Palembang mengenai praktik illegal loging yang gila-gilaan di kawasan itu. Data mentah yang diterima Bardani berupa fotokopi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) serta tindasan nota penerimaan kayu gelondongan dari PT Log Meranti Jaya ke pengusaha asal Malaysia sebanyak tiga puluh ribu kubik.
“Tapi kayu-kayu gelondongan itu belum diangkut ke Malaysia oleh pengusaha tersebut. Dan, aku mendengar kabar dari anak kapak di sana, saat ini kayu-kayu itu masih menumpuk dan mengambang di perairan parit hitam (anak sungai buatan) yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari lokasi pos jagawana kehutanan,” ujar kenalan Bardani yang mengaku bernama Bowok, saat keduanya minum kopi di warung emperan milik Mak Ipeh, dekat pagar kantor Dinas Kehutanan Kota Palembang.
Cihuy, Bardani benar-benar beruntung.Hatinya berbunga-bunga menerima itu.Ia senang bukan main. Pokoknya, data mentah yang ia terima dari Bowok, nilainya setara dengan setumpuk green diamond dariFinlandia. Jika tidak malu, ia ingin melompat kegirangan seperti anak kecil mendapat permen kojek ketika menerima data tersebut, sesaat sebelum ia keluar dari warung kopi Mak Ipeh tadi. Tanpa basa-basi, setelah pamitan dengan Bowok, ia segera bergegas menemui pemimpin redaksinya di kantor.
“Mas, aku mendapat laporan tentang adanya illegal loging yang gila-gilaan di TNKS Muba-Jambi. Akibat penebangan liar di sana, dalam radius 1.500 hektar hutan di kawasan itu rusak parah. Ini, aku mendapat data mentah dari seseorang yang pernah bekerja di PT Log Meranti Jaya,” kata Bardani di ruang kerja pemimpin redaksi (pemred) Majalah Investigasi.
“Mengapa orang itu berhenti dari PT Log Meranti Jaya?” tanya Pemred Majalah Investigasi.
Ditanya begitu Bardani heran.“Kok, Mas Pemred bertanya begitu?”Bardani balas bertanya.
“Saya tidak ingin orang yang memberi data ini memanfaatkan kita sebagai balas dendam atas sakit hatinya kepada perusahaan tempat dia pernah bekerja.Untuk kau ketahui, sebagai wartawan yang profesional, kita tidak boleh dimanfaatkan atau memanfaatkan orang untuk tujuan tertentu.Nah, apakah karena dia sakit hati karena diberhentikan dari pekerjaannya, lantas dia akan membuka kedok kecurangan perusahaannya melalui majalah kita?”
“Tidak, Mas. Menurut Bowok, dia berhenti dari PT Log Meranti Jaya karena menyadari bahwa selama ini ia telah ikut andil merusak hutan dan lingkungan wilayah ini,” jawab Bardani.
“Oke, aku sangat yakin.Kalau begitu aku percayakan kepadamu untuk pengembangan kasus ini. Paling tidak, kau ajak dua wartawan kita yang lain untuk tugas ini,” tukas Pemred.
“Ke lokasi kejadian, maksud Mas Pemred?”
“Iya, kemana lagi?Kita membutuhkan bukti jurnalistik atas kasus tersebut.Itu artinya, kita membutuhkan foto lokasi kejadian serta bukti pernyataan dari Dinas Kehutanan. Untuk keberangkatan ke sana, tolong kau rinci biaya operasional dengan sekretaris redaksi. Nanti, untuk mencairkan uangnya di kasir, aku akan tandatangani,” kata Pemred
*
Agar tidak kehilangan momen, Bardani dan dua rekannya segera menyewa speedboat dari Benteng Kuto Besak.Namun sebelum itu Bardani sudah terlebih dulu melakukan hubungan telepon dengan Bowok. Janjinya, Bowok akan menunggu Bardani dan dua rekannya di muara parit hitam. Dalam perjalanan selama dua jam dari Palembang, akhirnya mereka tiba di perairan muara parit hitam. Saat itu hari sudah mulai gelap.Awalnya Bardani bingung. Sebab, di kiri-kanan lokasi tempat ia berdiri di atas speedboat, seluas mata memandang hanya terlihat hamparan air sungai yang banyak ditumbuhi pokok bakau. Dalam keremangan suasana, mata Bardani menyapu ke segala arah.Namun di sana-sini hanya kegelapan yang menyergap pandangannya.Berhadapan dengan situasi itu, perasaannya mulai cemas. Ah, dimana posisi Bowok?
Pada puncak kecemasannya, dalam kegelapan di kawasan tersebut, selarik cahaya senter membelah kegelapan dari arah utara.Cahaya itu berputar-putar rendah di permukaan air, seolah memberikan sinyal kepada mereka.Semula, Bardani tidak mengerti dengan pola isyarat seperti itu. Namun dengan memberanikan diri ia mengajak pemandu speedboat untuk mendatangi arah cahaya.
“Tolong mesin speedboatnya dihidupkan dengan frekuensi rendah agar tidak menimbulkan suara keras dan memunculkan kecurigaan anak kapak yang ada di sekitar sini. Mari kita dekati sumber cahaya itu, Pak,” bisik Bardani ke telinga pemandu speedboat yang mereka tumpangi.
Dengan keahliannya menguasai kendaraan, pemandu speedboat tersebut berhasil menembus rintangan akar kayu dan gerombol tumbuhan bakau. Ah syukurlah, yang memainkan cahaya senter itu ternyata Bowok.
“Kita harus memutar dari arah belakang, melewati pertigaan parit hitam ini, hingga ke rerimbunan pokok bakau di sebelah sana. Selain posisi kita di sana tidak terlihat oleh anak kapak PT Log Meranti Jaya, kita pun dapat mencermati kerja mereka, terutama upaya anak kapak itu melanting–mengumpulkan dan mengikat— kayu gelondongan yang berserak di sepanjang parit ini,” tukas Bowok dengan suara cenderung berbisik.
“Pokoknya saya ikut Anda saja.Sebab, Andalah yang lebih paham soal liku-liku wilayah ini,” bisik Bardani.Bowok hanya mengangguk.
Setelah senja tergolek ke peraduannya, malam pun bertahta di cakrawala.Kegelapan kian menyekap suasana. Betapa kagetnya Bardani, ternyata, dengan hanya menggunakan lampu baterai sederhana di pojok-pojok tempat mereka bekerja, puluhan anak kapak PT Log Meranti Jaya mulai menurunkan kayu-kayu yang tergolek di bantaran parit hingga mengapung ke atas perairan parit hitam.
Melihat itu, rekan Bardani yang bertugas mengambil momen peristiwa dengan tustel yang menggunakan sinar infra merah, segera membidik segala aktivitas para anak kapak itu secara detail.
“Wah, momen ini benar-benar ekslusif, Wan,” bisik Bardani ke telinga Erwan, rekan sekerjanya dari Majalah Investigasi.Ia gembira bukan main mendapatkan foto aktivitas haram para anak kapak PT Log Meranti di pinggiran hutan lindung TNKS.
Selagi asyik mengambil momen yang baik, tiba-tiba muncul tiga oknum petugas jagawana (polisi hutan) yang ‘dibayar’ perusahaan kayu tersebut, meluncur dari jalur selatan. Agaknya mereka tengah berpatroli di seputar kawasan TNKS.Melihat petugas itu, juru mudi speedboat carteran Bardani dengan sigap segera berlalu dari tempat itu.“Siapa itu!” teriak seorang petugas.Tak lama kemudian speedboat mereka saling kejar.
Untunglah ada patroli Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) yang kebetulan melintas di kawasan itu.Melihat itu, oknum petugas jagawana tersebut berbelok dan segera kabur dari tempat itu.Bardani dan kawan-kawannya meminta perlindungan kepada petugas AL tersebut.
“Ada apa ini?” tanya seorang petugas Lanal berpangkat sersan dua, sembari mengarahkan lampu sorot ke arah Bardani dan kawan-kawannya. Dalam cahaya lampu sorot wajah Bardani dan kawan-kawannya terlihat pucat.
“Kami wartawan Majalah Investigasi, Pak. Kami bertugas untuk meliput pencurian kayu di hutan lindung TNKS,” teriak Bardani dari speedboat sembari memperlihatkan kartu persnya.
“Ooo, kalau begitu kalian boleh naik ke kapal patroli ini.Sedangkan speedboat kalian biar kami gandeng di buritan kapal ini,” tambah petugas itu.
Dalam perjalanan pulang ke Palembang, Bardani menceritakan ihwal pencurian kayu secara besar-besaran di kawasan hutan lindung TNKS itu kepada awak kapal patroli Angkatan Laut tersebut.Setelah berada dalam jarak tempuh dua mil dari kawasan parit hitam, Bardani dan kawan-kawannya diperintah untuk pulang ke Palembang.
“Oke.Ini batas aman kalian untuk kembali ke Palembang.Jangan pernah berhenti mengemudikan speedboat ini. Yakinlah, para anak kapak itu tidak akan melepaskan kalian. Sebab, mereka berusaha keras agar aktivitasnya di hutan lindung itu tak boleh diketahui masyarakat luas.Terutama diketahui wartawan. Jika kegiatan mereka terkuak di surat kabar, hal itu akan memancing tindakan hukum dari pihak kejaksaan dan kepolisian. Jika ini terjadi, komplotan mereka pasti hancur.Maka itu pergilah. Kami akan terus memantau keselamatan kalian dari jarak tertentu. Anak-anak kapak itu akan menjadi urusan kami,” ujar Kapten Laut Harja Kusumah yang memimpin patroli tersebut.
*
Selama dua pekan Bardani melakukan investigasi kasus illegal loging yang ia tangani di lapangan. Tak kenal lelah dan semangat untuk menguak siapa saja yang terlibat dalam kasus tersebut selalu menghantui dirinya.Ia begitu gembira memperoleh foto eksklusif tentang aktivitas penebangan liar di kawasan parit hitam antara perbatasan Muba dan Provinsi Jambi. Kini ia harus mengorek keterangan dari pihak Dinas Kehutanan, apakah penerbitan SKSHH mengenai 30 ribu kubik kayu gelondongan bernomor serie 00854327 itu benar-benar sesuai aturan atau sebaliknya.
Maka itu, di ruang kepala kantor, Bardani mengkonfirmasikan fotokopi SKSHH di tangannya. Kepala kantor kehutanan segera mengontak kepala tata usahanya.
“Pak Badri, apakah Anda tahu tentang registrasi penerbitan SKSHH nomor serie 00854327 untuk 30 ribu kubik gayu gelondongan dari hutan lindung TNKS atas nama PT Log Meranti Jaya?” tanya kepala kantor melalui telepon di mejanya. Ekspresi wajahnya sangat serius. Setelah kepala tata usaha kantor Dinas Kehutanan itu memperlihatkan daftar dalam buku penerbitan SKSHH ke atasannya, ternyata SKSHH itu fiktif. Lantas, siapa yang menjual surat itu ke PT Log Meranti Jaya? Dari pemeriksaan yang dilakukan, ternyata blangko SKSHH itu berasal dari perusahaan tersebut yang dibeli dari orang dalam Dinas Kehutanan.Wah, ini benar-benar kasus menarik. Apalagi mereka hanya membeli tandatangan dan cap kehutanan saja. Ahaii, ini merupakan kelengkapan data yang menguntungkan investigasi Bardani.Ini benar-benar rezeki bagi lelaki muda tersebut.
Data yang ia peroleh dari Dinas Kehutanan itu akan ia crosscheck dengan hasil konfirmasinya di PT Log Meranti Jaya dua hari lalu. Di perusahaan itu, ia mendapat sambutan kurang baik dari direkturnya.
“Jika Anda berani, beritakan saja.Saya tidak ada urusan dengan wartawan,” tegas Sontoloyo Hadikusumo –Direktur PT Log Meranti Jaya—di ruang kerjanya, suatu ketika.
Mendengar pernyataan itu, Bardani tersinggung.“Bapak tidak perlu berbicara begitu. Di kantor, saya ada atasan sendiri. Besok, Bapak boleh baca berita yang saya konfirmasikan hari ini,” tukas Bardani dengan wajah merah padam.Ia begitu tersinggung mendengar pernyataan laki-laki berkulit putih dan bermata sipit itu.
Lantas, mengapa Sontoloyo berani menantang Bardani?Wah, ternyata di belakang pengusaha warga keturunan itu terdapat sejumlah preman yang membeking segala aktivitas Sontoloyo dan kroni-kroninya di lapangan.Persetan dengan itu semua. Secuil pun Bardani tidak gentar menghadapi itu. Namun anehnya, hari itu juga, ketika Bardani tengah makan siang di rumahnya, ia dikunjungi tiga anak buah Sontoloyo. Mereka membawa tas hitam merek Echolac. Ternyata tas itu penuh dengan uang pecahan seratus ribuan. Ketika disodori uang itu, Bardani kaget bukan main. Baru kali itulah ia melihat uang sebanyak itu.
“Katakan ke Pak Sontoloyo, aku mengucapkan terima kasih atas perhatian dia. Tapi tadi pagi, ketika saya melakukan konfirmasi ke Pak Sontoloyo, dia minta kasus illegal loging itu diberitakan saja. Nah, tolong kembalikan uang ini ke dia. Katakan, besok silakan baca berita soal illegal loging di majalah kami,” tegas Bardani sembari menutup tas itu dan menyerahkannya kembali ke anak buah Sontoloyo. Ketiga orang itu kaget bukan main.Ternyata wartawan ini tidak mempan diberondong dengan seabrek uang suap. Bah, benar-benar gila bin kurang ajar. Dengan hati kesal ketiganya segera meninggalkan rumah Bardani.
Esoknya, berita tentang illegal loging itu dipublikasikan secara tuntas di Majalah Investigasi.Masyarakat dibuat kaget ketika melihat sejumlah foto eksklusif tentang aktivitas pencurian kayu di areal parit hitam.Suasana pun terasa begitu panas.Pejabat Dinas Kehutanan dibuat sibuk dengan berita itu.Sedangkan institusi kejaksaan dan kepolisian melakukan penyidikan dan pelacakan ke lapangan.Setelah berita itu mencuat ke permukaan, terdengar kabar, direktur PT Log Meranti Jaya –Sontoloyo Hadikusumo– terkena serangan jantung.Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Sedangkan malam itu, Bardani baru saja menyelesaikan tugasnya di ruang redaksi.Ia berniat segera pulang ke rumah. Hari sudah jam satu dinihari. Mendengar kabar kematian Sontoloyo, Bardani sempat tercenung.Setelah meninggalnya Sontoloyo Hadikusumo, ia ingin sekali menulis berita lanjutan tentang illegal loging tersebut.
Dalam perjalanan pulang melalui jalan pinggiran kota yang sepi dan gelap, laju motornya dihadang mobil Toyota Land Cruiser hitam berklilat. Dengan cekatan, tiga orang tinggi besar yang mengenakan penutup wajah itu pun turun dari mobil.
Melihat gelagat yang tidak baik, Bardani curiga dan mulai mewaspadainya.Ia mencoba menjauhi orang-orang yang berjalan ke arahnya. Rasa takut yang sejak tadi merisaukan hatinya, kini telah menguasai dirinya.Karena itu degup jantungnya kian kencang menerpa dada.
Sesaat ketika motornya mulai melaju, orang-orang misterius itu pun segera mengarahkan senjata genggam mereka ke kepala Bardani. Dalam hitungan detik, letusan senjata api pun merobek suasana malam. Sesaat kemudian, situasi kembali senyap. (*)




![DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0024_copy_1250x657-225x129.jpg)


![Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia [Taipei Economic and Trade Office/TETO]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0022_copy_394x300-225x129.jpg)


![DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0024_copy_1250x657-129x85.jpg)


![Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia [Taipei Economic and Trade Office/TETO]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260416-WA0022_copy_394x300-129x85.jpg)



![Polda Sumatera Selatan [Polda Sumsel] melalui Biro SDM menunjukkan peran strategisnya dalam reformasi birokrasi daerah dengan memfasilitasi pelaksanaan Assessment Center untuk seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi [JPT] Pratama Pemerintah Kota Prabumulih.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260415-WA0033_copy_623x331-360x200.jpg)

