BENTUK dan corak gambar mencerminkan suasana si pelukis ketika sedang dalam keadaan mood mengekspresikan kemampuannya.
Lukisan rumah uluan tradisi Musi Banyuasin ini, misalnya, memperlihatkan esensi bentuk utuh sebagai tempat hunian tradisi.
Meski tak diketahui nama corak rumah ini, namun sebagai rumah tradisi, keadaannya tidak berbeda dengan rumah limas tradisi masyarakat Palembang.
Ketika dicermati, gambar ini tak ubahnya seperti momen foto dalam potret rumah tradisi.
Seperti dikatakan pelukis Italia, Titiano Vecelli, tiap pelukis memiliki hasrat untuk menciptakan gambar yang dilukisnya sesuai momen yang ia tangkap.
Karena itu dengan segala rasa yang ada, ia akan menumpahkan idenya untuk sesuatu yang identik ke dalam lukisannya.
Lukisan rumah adat Musi Banyuasin lukisan Yos Rizal ini memperlihatkan nilai-nilai realitas sesunguhnya. Seolah kita melihat foto yang melukiskan rumah adat.
Dari detil gambar, hal-hal terkecil dilukis Yos sesuai dengan momen yang ia tangkap. Secara esensi, pernak pernik yang ditampilkan di dalam gambar mampu membangun persepsi penikmatnya.
Dari latar belakang cat ruang depan terlihat lebih cerah dari warna bagian belakang. Dari warna bagian belakang, Yos cukup piawai menonjolkan papan rumah berwarna alami.
Dengan penampilan corak warna alami papan rumah, prediksi orang pasti mengira bahwa rumah tradisi ini dililit papan tembesu.
Memang, pada umumnya rumah adat di Sumatera Selatan menggunakan kayu keras, seperti kayu hitam unglen (ulin) atau tembesu.
Gambaran itu dilukis Yos dengan baik. Bahkan genting sirap untuk menutup bubungan rumah tergambar sesuai aslinya.
Ada baiknya seorang pekukis tak hanya menguasai teknik dan cara menggambar secara prima, tapi ia juga harus menguasai sejarah dan tradisi masyarakat pemilik rumah adat tersebut.
Jika rumah limas Palembang hanya dibangun dengan tiang kayu ulin (unglen), namun rumah adat Musi Banyuasin justru dibubuhi unsur beton (bisa jadi keadaan ini sudah masuk ke mordernisasi suasana).
Seperti dikemukakan pelukis Michaelangelo Buonarroti, tiap tradisi terkadang berkembang sesuai tuntutan masa (zaman).
Melukis dengan genre natural memang harus menciptakan bentuk dan corak gambar sesuai momen yang ditangkap.
Sebab komposisi gambar tak hanya mengungkap momen utama saja yang harus ditonjolkan. Situasi pendukung memang mesti dijadikan prioritas untuk membangun realitas momen ganbar yang ditonjolkan.
Dalam buletin Moretta edisi XII tahun 1931, pelukis Raffaelo Sanzio, menyatakan bahwa komposisi momen lukisan harus seimbang antara obyek utama dengan obyek pendukung.
Karena itu terkait lukisan rumah tradisi Musi Banyuasin, obyek utama terlukis dengan baik. Mencermati pewarnaan biru pupus, cokelat, hijau dan biru langit, dilukis dengan baik.
Hanya latar belakang awan di atas bubungan rumah agak menggumpal banyak ke semua sisi, sehingga biru langit hanya terlibat seupil dalam lukisan ini. Jika agak dikurangi sesuai porsinya, maka kekuatan lukisan Yos Rizal patut diacungi jempol. (*)
Tirta Bening, 6 September 2019



![Lahan Cetak Sawah Rakyat [CSR] di Kabupaten Ogan Komering Ulu [OKU] Timur, Sumatera Selatan, menunjukkan potensi menjanjikan. Hasil ubinan di Desa Campang Tiga Ulu, Kecamatan Cempaka, mencapai setara 7,76 ton gabah kering panen [GKP] per hektare,](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261028-WA0017-225x129.jpg)
![Salah satu objek Yayasan STIMIK IGM yang dipasang plang banner. [Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261027-WA0043-225x129.jpg)


![Petugas PLN saat melakukan pemeliharaan kelistrikan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi [SUTT] 150 kilovolt [kV] Sarolangun-Muara Rupit untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261027-WA0044-225x129.jpg)
![Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Nurcahyo JM SH MH turun langsung mengevaluasi kinerja jajaran Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu Timur [OKU Timur], Selasa 27 Oktober 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261027-WA0042-225x129.jpg)
![Lahan Cetak Sawah Rakyat [CSR] di Kabupaten Ogan Komering Ulu [OKU] Timur, Sumatera Selatan, menunjukkan potensi menjanjikan. Hasil ubinan di Desa Campang Tiga Ulu, Kecamatan Cempaka, mencapai setara 7,76 ton gabah kering panen [GKP] per hektare,](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261028-WA0017-129x85.jpg)
![Salah satu objek Yayasan STIMIK IGM yang dipasang plang banner. [Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261027-WA0043-129x85.jpg)


![Petugas PLN saat melakukan pemeliharaan kelistrikan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi [SUTT] 150 kilovolt [kV] Sarolangun-Muara Rupit untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261027-WA0044-129x85.jpg)


![Pengamat politik Sumatera Selatan sekaligus Sekretaris Wilayah Asosiasi Ilmu Politik Indonesia [AIPI] Sumsel, Ahmad Haekal Al-Haffafah.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261021-WA0001-360x200.jpg)
![Corporation Anti Corruption Agency Sumatera Selatan [CACA-Sumsel] bersama PB Front Pemuda Merah Putih [FPMP] dalam aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Selasa 20 Oktober 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261020-WA0016_copy_1519x678-360x200.jpg)

