banner 2560x598

banner 2560x598

Natuna Dipenuhi Ribuan Kapal Cina, Tak Terdeteksi Radar

  • Bagikan
Ilustrasi Kapal Laut
Ilustrasi Kapal Laut
banner 468x60

WIDEAZONE.com, JAKARTA | Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi 1 DPR RI, Sekretaris Utama Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) Laksda S Irawan mengatakan ada ribuan kapal milik Vietnam dan Cina yang masuk perairan Natuna, dekat Laut Cina Selatan, kapal kapal tersebut mengganggu aktivitas pertambangan kapal nasional.

“Kalau kita lihat di pantauan radar atau pantauan dari Puskodal kami, sampai saat ini di daerah overlapping itu masih ada 1, 2, 3, 4, 5, 6 kapal-kapal Vietnam, pantauan radar, termasuk kapal-kapal coast guard Cina,” ungkapnya saat rapat di Parlemen, Senin (13/9/2021).

Irawan menjelaskan begitu dilihat kasat mata ataupun langsung pengamatan udara, itu bahkan sampai ratusan, mungkin ribuan kapal yang ada di sana.

“Ada ratusan atau ribuan kapal China dan Vietnam yang memasuki perairan Indonesia di Natuna Utara. Kapal-kapal tersebut tidak terdeteksi radar,” jelasnya, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.

Bakamla mengetahui itu semua lewat pandangan mata berkat patroli yang dilakukan di sekitar perairan Natuna Utara dekat Laut China Selatan.

“Kapal coast guard Cina pun masih mengganggu atau membayang-bayangi kerja daripada rig noble yang berbendera Indonesia di bawah [Kementerian] ESDM,” ujar Irawan.

Sejauh ini, Irawan menuturkan Bakamla memiliki keterbatasan armada untuk menjaga perairan Indonesia. Patroli juga bisa dilakukan berkat meminjam dari TNI. Salah satunya pesawat.

“Kami kerja sama dengan Kogabwilhan, khususnya wilayah Natuna Utara ini, kami ke Kogabwilhan I dan TNI AU untuk kita melaksanakan kerja sama pemantauan udara,” kata dia.

Irawan lalu meminta dukungan DPR terutama Komisi 1 agar Bakamla bisa lebih baik dalam menjalani tugas pengawasan wilayah perairan Indonesia.

Ia mengungkapkan Bakamla hanya memiliki 10 kapal. Kapal-kapal itu belum bisa beroperasi penuh meski kondisi perairan sekitar Laut China Selatan dan Natuna Utara masih sangat dinamis.

“Ini harus kita waspadai bersama. Dari RDP ini, mudah-mudahan ada suatu keputusan, jalan keluar, bantuan dari Komisi 1 untuk kedaulatan kita tidak bisa diinjak-injak oleh mereka itu,” tuturnya.

Sumber CNBC Indonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *