Krisis Keteladanan Bangsa Indonesia

- Jurnalis

Rabu, 13 Maret 2019 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Gambar.net

Ilustrasi Gambar.net

NEGARA ini punya 179 pahlawan nasional. Jumlah yang lebih dari cukup untuk dijadikan sumber keteladanan untuk anak bangsa. Tapi, elite di daerah kini cenderung lebih suka memamerkan nafsu diri akan kekuasaan dengan keserakahan disbanding-bandingkankan berlomba-lomba mengangkat harkat dan martabat negeri seperti ditunjukkan oleh 179 pahlawan itu.

Jahriyanti-Wartawan wideazone.com

Negara ini sedang hidup dalam keadaan krisis keteladanan pahlawan di daerah. Semestinya dengan banyaknya ‘pahlawan resmi’ semakin banyak pelajaran bernilai keteladanan dapat diambil. Ada banyak nilai luhur dengan semangat heroisme semestinya bisa diambil dari 179 pahlawan itu.

Tapi, kenapa para elite di daerah seperti tidak mau memetiknya. Jangankan mengimplementasikan nilai luhur dengan pengorbanan dan persatuan, kelompok elite di daerah malah lebih sering mempertontonkan nilai buruk, serakah dengan politik dan kekuasaan. Politik kebangsaan seakan haram untuk dicatat didalam kamus buku mereka.

Mereka hadir di tengah masyarakat ketika butuh dukungan suara, bukan karena panggilan jiwa. Demi ambisi, nilai persatuan kerap dikencingi. Hal konyol ini yang justru ditonjolkan. Politik pesimis memancarkan ketakutan, ketidakpastian, dan kebohongan terus-menerus digaungkan dengan secara bodoh.

Politik dipandang sebagai alat kepentingan untuk meraih kursi kekuasaan, bukan untuk menyelamatkan anak bangsa. Alih-alih niatnya untuk demi melahirkan pahlawan, dengan cara untuk mengambil inspirasi dari pahlawan-pahlawan masa lampau usai terpilih dalam hitungan hari mereka mulai abai. Mereka kerap bersikap dan berprilaku berseberangan dari nilai-nilai agama. Kekuasaan ditempatkan ditempat tertinggi, kegaduhan dilakukan untuk merebut kekuasaan menjadi kreasi tanpa henti.

Tapi di tengah kegaduhan politik yang menjadi-menjadi di Negara ini, seorang pahlawan hadir dengan jiwa patriotisme luar biasa membuat nama bangsa semerbak dipernjuru dunia. Dialah Eko Yuli Irawan. Dia bukan kader, bukan pula gubernur atau walikota. Dia adalah atlet angkat besi bertubuh kecil, tapi punya prestasi besar. Eko Yuli mempersembahkan prestasi terbaik dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Askhabad, Turkmenistan.

Dia berjaya di kelas 61 kilogram dengan total angkatan 317 kilogram, hasil dari angkatan snatch 143 kilogram dan clean & jerk 174 kilogram. Hebatnya lagi, tak cuma menjadi juara dunia, Eko pun tenyata mampu mencetat rekor baru di dunia. Eko adalah bukti jika pahlawan di zaman sekarang datang dari kalangan rakyat, bukan dari mereka yang bergelimang harta dan haus akan kekuasaan.

Perjuangan Eko dimulai semasa kanak-kanak, ia tekun, bekerja dengan keras dan berhasil meraih prestasi tinggi teladan dan nyata. Seorang Eko Yuli ternyata mampu menjadi oase di tengah sulitnya menemukan sosok idola dengan sejuta panutan di kalangan elite di daerah. Eko mengatakan bahwa penghargaan adalah proses untuk meraih prestasi.

Dia tidak kehabisan energi dan keringan akan ambisi untuk mengharumkan nama indonesia. Bersama sederet atlet lain, dia mempersembahkan medali emas untuk Indonesia dengan hasil yang luar biasa di Asian Games 2018 lalu. Eko dan para atlet berlaga di Asian Games ataupun Asian Para Games 2018, adalah inspirasi untuk anak bangsa ini. Berkat kegigihan mereka indonesia mendapat pengakuan dari dunia luar. Karena patriotisme mereka indonesia mampu mensejajarkan diri bersama bangsa besar lain diluar.

Jika elit didaerah masih punya rasa malu, semestinya mereka mau berkaca dari jasa para pahlawan masa kini. Kalau tidak mau meneladani para pahlawan masa lalu, bergurulah dari mereka karena mereka kaya akan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dengan jiwa patriot. Negara sudah jenuh dengan kebisingan yang dibuat oleh para elite yang sibuk membuat gaduh lantaran berebut kekuasaan. Negara ini ini butuh keteladan seperti Eko Yuli Irawan.

Berita Terkait

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar
Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung
Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal
Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang
SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award
Fariz RM Berbagi Pengetahuan Aransemen Musik dengan Pelajar SMA-SMK se-Sumsel
Festival Jazz Suara Musi 2024 Guncang Palembang
SBS-Adinata Project Gelar Musik dan Lagu Nostalgia

Berita Terkait

Selasa, 11 Maret 2025 - 16:21 WIB

Jamaah Al Halim Doakan H Alim dan Keluarga Diberi Ketabahan: Ada Hikmah Besar

Senin, 17 Februari 2025 - 18:29 WIB

Anniversary 3 Tahun Hedon Executive Club, Berikan Sensasi Bajak Laut bagi Pengunjung

Jumat, 10 Januari 2025 - 13:50 WIB

Uchin: Musik Adalah Bahasa Universal

Kamis, 26 Desember 2024 - 10:45 WIB

Langkah Kongkret Ketua Terpilih KKPP Palembang

Minggu, 8 Desember 2024 - 09:44 WIB

SATUPENA Umumkan Nama-nama Penerima Penghargaan Penulis 2024: Lifetime Achievement Award hingga Dermakata Award

Berita Terbaru

Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan

Opini

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎

Rabu, 23 Sep 2026 - 15:47 WIB

Kapolres OKU Timur AKBP Dr Lalu Hedwin Hanggara SIK SH MH MSi mematangkan persiapan Operasi Sikat I Musi 2026 dengan gelaran Latihan Pra Operasi [Latpra] di Aula Setya 38 Mapolres OKU Timur, Rabu 23 September 2026.

Headlines

Polres OKU Timur Matangkan Operasi Sikat I Musi 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 15:18 WIB

Kualitas udara di wilayah Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terpantau berada pada kategori tidak sehat, Jumat 18 September 2026, pagi.

Banyuasin

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:05 WIB